SUARA SEMARANG - Dua manager tim yakni Erik Ten Haag dari Manchester United dan Pep Guardiola dari Manchester City turut berduka dengan tragedi Kanjuruhan Malang.
Selain para pemain Manchester United dan Manchester City ikut berduka dengan memakai ban hitam di lengan dalam laga derby di Etihad Stadium, Minggu (2/10/2022) malam. Kedua pelatih ikut mengucapkan duka cita dan mendoakan para korban.
Usai pertandingan yang dimenangkan Manchester biru, Pep Guardiola dan Erik Ten Hag memberikan ucapan simpati kepada korban tragedi Kanjuruhan.
Dalam sesi wawancara tersebut, pertanyaan pertama ditujukan kepada manajer Manchester United Erik Ten Hag, tentang pendapatnya apa yang terjadi di Indonesia.
"Ya saya benar-benar melihatnya, itu benar-benar bencana. kami sangat sedih melihat hal itu," kata Erik Ten Haag, dalam video yang dibagikan Reels Instagram LIB, Senin (3/10/2022).
Ten Haag mengatakan bahwa apa yang terjadi di tragedi Kanjuruhan menjadi perhatian bersama seluruh dunia.
"Dan sekarang perhatian kami bersama semua orang di Indonesia," katanya.
Kemudian, pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada manajer Manchester City Pep Guardiola.
Pelatih asal Spanyol itu menyampaikan hal yang sama dengan manajer rivalnya. Bahwa hal mengerikan telah terjadi dalam dunia sepakbola.
Baca Juga: Tragedi Stadion Kanjuruhan, 18 Polisi Operator Senjata Pelontar Diperiksa Propam
"Mengerikan benar-benar mengerikan," kata Pep.
Pep terkejut jika apa yang terjadi di Indonesia memang berbeda dengan pertandingan yang ada di Eropa. Di mana setelah laga maka akan bubar dengan sendirinya dalam waktu yang cepat .
Namun apa yang terjadi di Indonesia menjadi tragedi kelam persepakbolaan yang seharusnya bisa dinikmati bersama dengan aman dan nyaman.
"Apa yang terjadi di sini, berakhir dalam 2 hingga 3 jam," katanya.
Mantan pemain Barcelona itu juga menyebut, Kanjuruhan telah menyita tragedi kemanusiaan besar lainnya. Seperti apa yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.
Kini semua mata dan perhatian tertuju pada Kanjuruhan untuk mendoakan yang terbaik bagi korban dan keluarga yang ditinggal.
Berita Terkait
-
Pemerintah Bentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan Malang, Ini Anggotanya
-
Jokowi Kembali Nyatakan Agar Tragedi Kanjuruhan di usut sampai tuntas
-
Dicari Warganet, Nugroho Setiawan Sosok Pemilik Lisensi FIFA Security Officer yang Tahu Amankan Match
-
Kapolri Copot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat Buntut Tragedi Kanjuruhan
-
Beri Penghormatan Tragedi Kanjuruhan, Bendera Anggota Federasi FIFA Dikibarkan Setengah Tiang
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Lionel Messi Jadi Spider-Man? Aksi Terbangnya Bareng Tom Holland Bikin Heboh
-
Teror Suporter Meksiko: Pasang Petasan hingga Gelar Konser Dadakan Depan Hotel Ekuador
-
Viral Aneh di Piala Dunia 2026: Foto Lewat TV dan Unggah di Sosmed Jadi Tren
-
Gelombang Panas di Prancis: Bayi Kembar 15 Bulan Tewas, Orang Tua Ditangkap
-
Erling Haaland Pahlawan! Norwegia Tantang Brasil di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
-
Gelombang Panas Mematikan di Eropa: 1300 Orang Tewas, Suhu Tembus 41,7 C di Jerman
-
Skandal FIFA! 50 Anggota Parlemen UE Desak Infantino Diseret ke Meja Hijau
-
Viral Video Lawas Ramalan Diego Maradona: Laga Piala Dunia 2026 Dibagi 4 Babak
-
Anak Patrick Kluivert dan 2 Pemain Belanda Jadi Korban Serangan Rasis Usai Kegagalan de Oranje
-
Kalah dari Maroko, Jalanan Belanda Berubah Jadi Medan Perang Suporter vs Polisi