/
Jum'at, 31 Maret 2023 | 13:38 WIB
Amartha Salurkan Permodalan UMKM Khusus Perempuan di Pedesaan. (Semarang.suara.com)

SUARA SEMARANG - Akses permodalan bagi UMKM yang dikelola kaum perempuan kini terbuka lebar dengan pinjaman modal dari PT Amartha Mikro Fintek.

Amarta memfasilitasi UMKM perempuan yang belum tersentuh pendanaan dari perbankan dan bersifat inklusif. Berupa pinjaman produktif bukan konsumtif.

Guna memudahakan akses permodalan UMKM perempuan maka Amartha meluncurkan program kemitraan AmarthaOne. Yakni program yang memfasilitasi para agen untuk dapat memberikan layanan keuangan digital di pedesaan.

AmarthaOne ditujukan untuk memperkecil gab ketimpangan layanan keuangan digital di pedesaan lewat teknologi yang inklusif dan mudah digunakan oleh para pelaku usaha ultra mikro.

"Pinjaman modal kepada UMKM perempuan mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 15 juta, pengembalian selama satu tahun," kata Aditya Pratomo, Head of New Retail Amartha, Kamis 30 Maret 2023 di Semarang.

Menurut Aditya, para peminjam UMKM perempuan akan dilakukan secara berkelompok atau mejelis, dengan menunjuk satu orang yang dipercaya sebagai koordinator.

Koordinator ini berfungsi untuk memberikan informasi kepada anggota peminjamannya terkait kredir, angsuran dan pelunasan serta program lainnya.

"Syarat mudah, perempuan punya usaha nanti kita inspeksi dengan indikator kredit skor apakah berhak sebagai penerima pinjaman atau tidak," katanya.

Lebih memudahkan, Amartha juga tidak menyertakan jaminan agunan kepada para UMKM yang meminjam modal tersebut.

Baca Juga: 51 Persen UMKM Di Jateng Terkendala Masalah Pemasaran

Menurut Aditya, kendati tidak ada jaminan atau agunan namun hingga saat ini resiko kredit macet sangat kecil. Ia menyebut Non Performning Loan (NPL) atau kondisi pihak debitur gagal melakukan pembayaran sangat kecil.

"Angsuran perminggu jadi sangat ringan dan mudah, maka NPL kita 0,5 persen," katanya.

Sejak berdiri tahun 2010 lalu, Amartha telah menyalurkan modal kerja sebesar Rp 11 triliun kepada 1,6 jut perempuan pengusaha mikro di 35 ribu desa di Indonesia.

Sedang untuk Jawa Tengah, menurut Aditya merupakan provinsi dengan tingkat digitalisasi yang cukup tinggi. 

Hal ini terlihat dari signifikannya peningkatan jumlah agen AmarthaOne yang mencapai lebih dari 1.000 agen dalam waktu beberapa bulan.

Secara umum, Amartha mencatatkan pertumbuhan bisnis yang positif selama tahun 2022 dengan persentase tumbuh 93 persen (YoY) atau hampir 2 kali lipat dari total dana yang disalurkan sebelumnya mencapai Rp 2,4 triliun, kini mencapai Rp 4,8 triliun.

Load More