SUARA SEMARANG - Pada tahun 2012 warga dari Desa Sumogawe Kelurahan Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang sempat menikmati adanya biogas sebagai bahan bakar energi baru terbarukan (EBT).
Saat itu jumlah rumah di Desa Sumogawe berjumlah 16 kepala keluarga yang memanfaatkan biogas dari pengolahan limbah kotoran sapi. Tetapi sekarang menyusut berkurang hanya 10 rumah saja.
Desa Sumogawe sendiri sering disebut pula Kampung Biogas, sebab warganya yang merupakan peternak sapi mampu mengolah limbah kotoran menjadi biogas secara mandiri.
Kini status desa mandiri energi seperti yang dicanangkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat masih menjabat, terancam keberlangsungannya di Desa Sumogawe.
Marnin (45) anggota komunal Kelompok Tani Ternak Gondang Makmur RT2 RW2 Desa Sumogawe mengaku sempat mendapat bantuan dari pemerintah di tahun 2012.
Waktu itu ada bantuan dari Pemprov Jateng melalui Pemkab Semarang untuk menginisiasi kemandirian desa energi disalurkan kepada warga Sumogawe. Sebanyak 18 ekor sapi diberikan untuk turut mendukung pengolahan energi baru dan terbarukan yakni pengolahan biogas.
"Saat itu langsung dibentuk kelompok tani ternak karena banyak sapinya dan menghasilkan limbah kotoran yang cukup untuk bahan baku biogas," katanya, ditemui di kandang sapinya, Selasa 10 Oktober 2023.
Selain bantuan sapi dari Pemkab Semarang, kelompok tani ternaknya juga mendapat bantuan CSR dari BUMN bank BRI dalam bentuk pembangunan tangki kedap udara pencerna atau digester biogas.
Tangki digester itu berkapasitas 40 kubik mampu menampung limbah kotoran sapi untuk mengolah biogas setiap harinya.
Sebelas tahun berjalan, jumlah rumah atau kepala keluarga yang memanfaatkan biogas pun tak pernah bertambah. Justru malah berkurang hampir separuhnya.
"Dulu awal 16 rumah sekarang 10 rumah, ya karena berkurang anggota kelompok tani ternaknya," katanya.
Marnin menyebut, berkurangnya pengguna biogas pada anggota kelompok tani ternak Sumogawe dikarenakan sudah tidak ada lagi bantuan pemerintah.
Terlebih saat ada kejadian penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak sapi kelompoknya. Banyak sapi yang mati, sempat bertambah 20 ekor kini hanya bertahan 9 ekor sapi saja.
"Sapi berkurang, kotoran juga berkurang, kapasitas biogas ya berkurang ke warga," katanya.
Kelompok tani ternak Gondang Makmur juga kini terkendala dari sisi pakan ternak. Harga konsentrat pakan sekarang mahal cukup menyumbang berkurangnya kotoran limbah yang dihasilkan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Alasan Mengejutkan Trump Ogah Datang Pada Laga Perdana AS di Piala Dunia 2026
-
Sindiran Menohok Infantino: Piala Dunia Tambah Peserta, Italia Belum Tentu Lolos
-
Cristiano Ronaldo: Portugal Bukan Favorit Juara Piala Dunia 2026
-
Depresi Sejak Usia Muda ke Panggung Piala Dunia 2026: Kisah Kelam Striker Brasil Igor Thiago
-
Gegara Lagu Kebangsaan, Spanyol Jadi Negara Paling Dibenci di Piala Dunia 2026, Kok Bisa?
-
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
-
Komisi XIII DPR RI Dorong Penguatan Pengawasan Keimigrasian Sumut dan Rencana Kantor Baru
-
Mesin Kapal Aceh Hebat Meledak, 14 Orang Alami Luka Bakar
-
ASC Padel Team Resmi Dibentuk, Datangkan Pelatih Asal Spanyol Hingga Bidik Panggung Dunia
-
Kronologi Haji Bolot Dibawa ke RS, Berawal dari Sesak Dada