/
Rabu, 19 Oktober 2022 | 17:16 WIB
Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan dan Presiden FIFA Gianni Infantino melakukan tos saat bertanding pada laga persahabatan di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (18/10/2022). (Dok. PSSI)

Rasanya, belumlah kering tanah kuburan ratusan orang para suporter yang 
tewas akibat peristiwa dari tragedi stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa 
Timur itu. 

Bahkan satu hari sebelumnya, Andi Setiawan (33), satu diantara ratusan 
orang korban yang sempat menjalani perawatan selama 2 minggu lebih di 
Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Saiful Anwar, Malang, dinyatakan meninggal 
pada Selasa (18/10/2022). 

Andi menyusuli rekan-rekan seperjuangannya yang mencoba membebaskan diri 
dari upaya 'kematian massal' akibat tembakan racun gas air mata yang 
diletupkan oleh aparat kepolisian sesaat setelah berakhirnya laga derby 
antara Arema FC vs Persebaya dengan skor akhir 2-3.

Para Aremania yang tengah bersedih karena ikut menanggung kekalahan dari 
pertandingan itu, mencoba untuk masuk kedalam lapangan stadion hanya demi 
memberi ungkapan kesedihan mereka kepada para pemain kebanggaan mereka 
Arema FC.

Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk lapangan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (sumber: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/tom.)

Namun, ternyata upaya para Aremania itu dianggap sebagai pemicu akan 
terjadinya kericuhan di dalam stadion Kanjuruhan. Segerombolan aparat 
keamanan pun dengan segera melakukan tindakan penghalauan massa hingga 
berujung pada meletusnya puluhan peluru gas air mata ke arah tribun 
penonton.

Dalam peristiwa mengerikan itu, 133 orang suporter termasuk Andi Setiawan 
(33) dan dari berbagai kalangan yang bahkan anak-anak itu dinyatakan 
tewas karena ketidak berdayaan mereka mencoba membebaskan diri dari 
desakan ribuan penonton yang panik dan saling injak dari serangan asap 
gas air mata kepolisian yang memedihkan.

Hari ini, Rabu (19/10/2022) dalam sebuah unggahan di platform sosial 
media Twitter dengan akun bernama @PSSI, publik dihebohkan oleh 
segerombolan pejabat petinggi sepak bola dunia dan nasional yang tengah bersenang-senang bermain sepak bola tanpa 
penonton disisi tribunnya. 

Salah seorang dari mereka adalah sosok yang dikenal dunia karena 
jabatannya sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Dunia FIFA, Gianni 
Infantino. Sosok familiar berikutnya yakni seorang yang mendapuk kuasa 
sebagai Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan alias Iwan Bule. Sementara 
mereka yang lain adalah orang-orang yang menganggap dirinya pemangku 
kepentingan dan berpengaruh dalam persepakbolaan tanah air.

Mereka telihat tengah bersenang-senang diatas rumput hijau, rumput yang 
serupa dari sepetak rumput yang baru saja menyisakan trauma, luka dan 
duka yang pahit dari sebuah peristiwa bernama Tragedi Kanjuruhan.

Baca Juga: DFSK Gelora E Jadi Ambulans Bertenaga Listrik Pertama di Indonesia

Tangkapan Layar Ketum PSSI Mochamad Iriawan dan Presiden FIFA Gianni Infantino saat bertanding pada laga persahabatan di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (18102022). (sumber: Twitter/@PSSI)

Tanpa mereka sadari, perbuatan mereka seperti sedang merayakan sesuatu. Karena diketahui sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi pada Jumat 
(7/10/2022) lalu, mengumumkan bahwa PSSI berada diposisi aman karena 
tidak mendapat sanki dari FIFA sebagai imbas dari peristiwa Tragedi 
Kanjuruhan yang menewaskan 133 orang suporter Aremania.

Unggahan beberapa visual foto di akun Twitter @PSSI dengan keterangan 
'Potret Presiden FIFA Gianni Infantino beserta jajaran saat bermain sepak 
bola bersama Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan di Stadion Madya. 
#KitaGaruda' itu kemudian mendapat ribuan kecaman dari publik, yang 
bahkan menjadi pembahasan topik terhangat (trending topic). Netizen 
berang dan geram kepada Presiden FIFA dan PSSI.

Bagaimana tidak, air mata dan suasana haru serta kegetiran dari para 
keluarga dan kerabat korban tragedi Kanjuruhan belumlah kering. Siapa 
dalang, pelaku dan orang yang bertanggung jawab akan peristiwa kelam itu 
belumlah menunjukan titik terang. Kini mereka harus dihadapkan pada 
sebuah realita miris.

"Dimana Nurani kalian?," tulis salah seorang netizen dengan akun 
@bud******to

"Liga berhenti buat menghormati para korban tragedi Kanjuruhan, tapi 
ketum p$$i malah seru-seruan main fun football." ujar akun bernama 
@Maz*****adi

"Bergembira di atas tragedi kanjuruhan, kacauuuu," ujar akun @Dod*****an

Load More