Menelisik perkembangan etnis Tionghoa di Tangerang, tak akan bisa lepas dari sejarah masa lalu. Berkembangnya etnis dan entitas Tionghoa dapat dilihat dari banyaknya bangunan Vihara atau klenteng di wilayah Tangerang.
Bahkan ada Klenteng yang sudah berusia ratusan tahun, salah satunya adalah Klenteng tempat pamujaan para dewa sebagai saksi sejarah lahirnya keturunan orang-orang 'Cina Benteng' bernama Vihara Boen San Bio.
Bangunan itu di dominasi oleh warna merah dan kuning. Pada bagian atap gerbang masuk terdapat patung burung phoenix (Fenghuang atau Hong) dan naga. Di bagian pojok sisi kirinya akan terlihat rumah minyak yang menyediakan beragam botol minyak untuk ritual sembahyang.
Di halaman depan ada patung singa penjaga (Cioksay); patung betina yang sedang bermain dengan anaknya sementara yang jantan sedang memegang bola. Arsitektur Klenteng itu kini terlihat kian megah.
Setelah memasuki koridornya, sebuah hiolo yang terbuat dari marmer terlihat sebagai tempat membakar hio atau dupa. Di setiap sudut Klentent dipenuhi ruang-ruang persembahan kepada nenek moyang lengkap dengan meja altar dan patung sang dewa.
Sementara pada bagian tengah dan belakang Klenteng, sejumlah anak-anak remaja tengan berlatih serius memainkan atraksi Barongsai lengkap dengan iringan tabuhan tambur, gong dan simbalnya.
Vihara ini berlokasi di Jalan Karel Sadsuitubun No. 43, Pasar Baru, Kota Tangerang, Banten. Klenteng ini telah berdiri sejak tahun 1689 dan ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya Kota Tangerang karena usianya yang sudah tua.
Awal mulanya, Klenteng ini dibangun oleh seorang saudagar Tionghoa bernama Lim Tau Koen untuk kebutuhan pemujaan para saudagar Tionghoa yang datang ke Nusantara sekaligus sebagai tempat meletakkan patung Dewa Bumi (Kim Sin Khongco Hok Tek Tjeng Sin) yang dibawa oleh Kaufmann dari Banten.
Boen San Bio secara harfiah berarti kebajikan setinggi gunung. Kuil Boen San Bio, yang sekarang menjulang megah di area seluas 4.650 meter persegi ini, awalnya seluruh bangunan terbuat dari bambu dan kayu, dengan dinding terbuat dari gedek sementara, sedangkan atapnya terbuat dari daun rumbia.
Baca Juga: Kongres PSSI: Ratu Tisha Merasa Belum Pantas Jadi Ketua Umum, Pilih Cuma Jadi Wakil
Seiring berjalannya waktu, Kelenteng Boen San Bio mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran. Setelahnya, pada tahun 1972, Yayasan Vihara Nimmala Boen San Bio pun resmi didirikan.
Hal menarik lainnya dari klenteng ini adalah adanya petilasan seorang tokoh yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, yaitu Raden Surya Kencana dan istrinya. Mulanya, petilasan aslinya berada dibagian depan Klenteng.
Hingga akhirnya, karena bagian depan klenteng terkena pelebaran jalan, Petilasan Raden Surya Kencana dipindahkan ke bagian dalam. Kehadiran Kelenteng Boen San Bio juga menjadi simbol keberagaman dan toleransi beragama.
Karena pengunjung yang datang ke Vihara itu tidak hanya umat Budha yang melakukan peribadatan atau sembahyang, namun juga terbuka bagi banyak warga umat muslim yang datang ke pura Boen San Bio untuk berziarah ke petilasan Raden Surya Kencana dan istrinya.
Diketahui juga, pada momentum setiap hari besar umat Islam, Yayasan Vihara
Nimmala selalu melaksanakan syukuran. Selain itu, jika berjalan sedikit ke bagian sisi kiri Vihara Boen San Bio juga terdapat pura, yang merupakan tempat ibadah umat Hindu, sedangkan disisi belakang vihara ini terdapat sebuah masjid yang berjarak hanya sekitar 200 meter.
Tag
Berita Terkait
-
Gempa Berkekuatan Magnitudo 4,9 Guncang Tangerang Banten
-
Modus Berpura-pura Jadi Mata Elang, Pria di BSD Tangerang jadi Korban Begal
-
Rumah Terbakar, Pria Paruh Baya di Tangerang Tewas Terjebak Asap Pekat
-
Uji Coba Sistem ETLE Statis di Jalan Daan Mogot, Polres Metro Tangerang Sebutkan Atasi Peningkatan Pelanggaran Lalin
-
7 Orang Meninggal Akibat DBD Sepanjang Tahun 2022 di Kabupaten Tangerang
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Rutan Polres Way Kanan Kebobolan, 8 Tahanan Kabur, Ini 7 Faktanya
-
7 Fakta Kasat Narkoba Ditangkap, Diduga Terima Setoran Rp13 Juta dari Bandar Narkoba
-
Hadapi Ketatnya Persaingan BWF, PBSI Segarkan Struktur Pelatih Ganda Putra
-
Jadwal Imsakiyah Ramadan di Samarinda, Senin 23 Februari 2026
-
Video Viral Hina Nabi Muhammad SAW Berujung Penahanan, Ini 7 Faktanya
-
Komisi VIII DPR RI Awasi Langsung Penyaluran PKH dan Sembako di Batam
-
Diskon Tiket KA Lebaran 2026 Masih Tersedia, KAI Daop 6 Imbau Warga Segera Pesan
-
Ketua MPR Soroti Kasus Bripda MS Aniaya Anak Hingga Tewas di Tual: Harus Jadi Pelajaran!
-
7 Rekomendasi Restoran Seafood di Pesisir Lampung untuk Sensasi Bukber Berbeda
-
Viral Cewek Ingin Jadi LC, Langsung Dapat Nasihat Logis dan Menohok Ini