/
Rabu, 16 November 2022 | 16:21 WIB
Dedi Mulyadi hadiri sidang gugatan cerai Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (Youtube/Jemper Channel)

SuaraSoreang.id - Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika dan Dedi Mulyadi hadiri sidang gugatan cerai kelima di Pengadilan Agama Purwakarta, Rabu (16/11/2022) pagi tadi.

Dedi Mulyadi terpantau hadir menggunakan ojek online atau ojol. Dia terlihat tak kembali mengenakan iket putih dalam sidang gugatan cerai sang istri Anne Ratna Mustika, seperti yang biasa dikenakannya.

Usai menyapa awak media di halaman, Dedi Mulyadi langsung masuk ke ruang mediasi yang sudah ada Anne Ratna Mustika di dalamnya. 

Di ruang mediasi keduanya langung membahas pokok gugatan cerai.

Usai sidang, Ambu Anne sapaan akrab Bupati Purwakarta mengungkapkan materi sidang yang dibahas hari ini.

Pertama, Ambu Anne mengaku telah menahan permasalahan rumah tangga sejak beberapa tahun ke belakang.

“Sehingga jalan akhirnya gugatan cerai,” kata Anne Ratna Mustika, Rabu (16/11/2022).

Ambu Anne mengaku pertengkaran terjadi terkait manajemen keuangan di dalam rumah tangga yang dinilai sudah tidak terbuka.

Selain itu, Ambu Anne merasa tak diberi nafkah oleh Dedi Mulyadi. Dia juga mengaku telah mendapatkan kekerasan verbal yang termasuk ke dalam lingkup KDRT psikis.

Baca Juga: 2 Alasan Anne Ratna Mustika Yakin Cerai dengan Dedi Mulyadi, Ada KDRT dan Soal Keuangan

“Itu yang menyebabkan perselisihan terus menerus dalam rumah tangga kami. Sehingga mediasi tadi tidak ada kesepakatan, langsung masuk ke pokok perkara,” kata dia.

Respon Dedi Mulyadi

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika dan Dedi Mulyadi di ruang mediasi Pengadilan Agama Purwakarta, Rabu (16/11/2022) (sumber: YouTube/Jemper Channel)

Di samping itu, pihak Dedi Mulyadi menilai Ambu Anne merupakan sosok istri yang baik. Menurutnya, Ambu Anne merupakan seorang penyayang dan cinta keluarga.

“Saya sebenarnya menghadapi seorang istri yang baik. Menurut saya embu itu adalah istri yang baik. Cuma embu itu sayang terhadap keluarganya, kemudian sangat hormat dan patuh pada gurunya,” ungkap Dedi.

Dedi Mulyadi juga menyinggung ketaatan Ambu Anne pada guru dan suaminya.

“Itu yang menjadi sesuatu barangkali kegelisahan dia antara ketaatan pada guru dan ketaatan pada suami,” tambahnya.

Terkait dugaan KDRT psikis, Dedi Mulyadi hanya menjawab dengan undang-undang jika ada ciri dari istri jika mengalami hal tersebut.

Ciri-ciri itu berupa seseorang menjadi pemurung, kehilangan rasa percaya diri, dan tidak bisa ambil keputusan.

Namun, menurut Dedi Mulyadi, Ambu Anne tidak mengalami ketiga ciri korban KDRT tersebut.

“Pertanyaannya adalah apakah ada tanda-tanda itu pada embu Anne? Murung terus, tidak bisa mengambil keputusan, kehilangan percaya diri, menurut saya terbalik. Embu sebagai bupati saat ini justru sangat percaya diri,” kata Dedi Mulyadi.

Dalam hal keuangan, Dedi Mulyadi juga bertanya soal kekurangan apa yang ada dalam urusan ekonomi.

Menurutnya, Ambu Anne juga telah menerima banyak fasilitas negara sebagai Bupati Purwakarta.

Dedi Mulyadi juga mengungkap jika anak-anaknya pun sudah idup dengan cukup.

“Anak yang paling besar sudah hampir selesai di Unpad. Yang kedua masuk di Unpar Fakultas Hukum, biayanya dari mulai uang masuk sampai biaya kos saya yang jamin. Bungsu lagi lucu-lucunya diasuh oleh Teh Elis,” ungkapnya.

“Biaya pengasuhannya gaji tiap bulannya saya yang menjamin karena tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga,” kata dia.

Dedi Mulyadi juga mengaku jika sejumlah aset keluarga sudah cukup bagi anak cucu. Bahkan aset-aset ini masih diurus Dedi yang merogoh kocek hingga puluhan juta perbulan.

“Itu saya urus tiap hari dan bayar pajak juga listrik yang setiap bulannya lebih dari Rp 20 juta, itu saya yang bayar. Di situlah hidup saling bersama saling berbagi, urusan beras sudah ditanggung negara, urusan lain saya yang nanggung, termasuk aset-aset anak saya untuk masa depan,” ungkap Dedi Mulyadi. (*)

Load More