SuaraSoreang.id – Kesehatan dan gangguan mental merupakan hal yang ramai dibicarakan, khususnya oleh Generasi Z yang cukup menaruh perhatian pada permasalahan tersebut. Tak ketinggalan, banyak tenaga ahli kesehatan seperti psikolog dan psikiater yang mulai menjadi content creator demi membagikan edukasi-edukasi kesehatan mental.
Bagi para pengguna Twitter, mungkin tidak asing dengan nama Jiemi Ardian, ia merupakan seorang psikiater (Dokter Spesialis Jiwa) di Siloam Hospital Bogor.
Jiemi aktif di media sosial, khususnya Twitter, dan sering membuat utas mengenai permasalahan kesehatan dan gangguan mental. Dirinya kerap aktif membuat utas mengenai permasalahan seperti Toxic positivity, stres pada anak generasi sekarang, serta hubungan antara trauma dan obesitas.
Selain melalui media sosial yang kini dimiliki Elon Musk tersebut, Jiemi aktif membuat konten video pada platform TikTok. Melalui durasi video singkat, Jiemi membagikan edukasi mengenai kesehatan atau gangguan mental menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Dalam video TikTok yang diunggah Senin (20/2/2023), Jiemi membicarakan permasalahan mengenai trauma. “Saya sering mendengar ketika ada orang yang mengalami trauma, harapannya seperti ini, saya berharap bisa melupakan kejadian tersebut’,” begitu kalimat yang dituturkannya pada pembukaan video.
Ia kemudian melontarkan pertanyaan, “Apakah melupakan kejadian akan membuat seseorang sembuh dari traumanya?”
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ia membahas mengenai definisi trauma. Berdasarkan video tersebut, Jiemi menjelaskan bahwa trauma adalah akibat dari sebuah kejadian yang membuat tubuh kita bereaksi (dalam mode survival atau mode penyelamatan) untuk menyelamatkan diri.
Hal tersebut bisa dilawan seperti dengan berlari ketika mengalami rasa takut, menyerang sesuatu yang dirasa berbahaya, sampai dengan reaksi seperti mematung atau membeku. Semua itu adalah bentuk respons yang dipilihkan oleh tubuh secara otomatis.
Sebuah reaksi bisa dikatakan trauma apabila reaksi yang muncul tersebut berlebihan bahkan di situasi yang sebenarnya tidak berbahaya atau aman. Tubuh bisa bereaksi apabila ter-trigger oleh sesuatu yang dianggap sederhana, tetapi hal itu memicu terhadap reaksi di masa lalu.
Baca Juga: Demi Penuhi Kesehatan Tubuh, Ketahui Jenis Suplemen yang Wajib Ada pada Makanan Anda
Jadi, apa dengan lupa akan kejadian di masa lalu maka reaksi trauma tidak muncul?
“Tidak,” kata Jiemi Ardian. Apabila sudah lupa akan kejadian tersebut, reaksi akan tetap muncul, tubuh akan tetap bereaksi, dan akan tetap berusaha untuk menyelamatkan diri dari hal yang dirasa adalah ancaman, walaupun sebenarnya itu bukan ancaman.
“Oleh karena itu, dalam terapi trauma, fokusnya bukan tentang memorinya, tetapi juga tentang bagaimana tubuh ini bereaksi. Untuk meregulasi ulang reaksi tubuh supaya tidak disregulated, supaya tidak berantakan reaksinya, supaya reaksi di tubuh tidak begitu tinggi,” sambungnya.
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk memulihkan atau sembuh dari trauma bukan tentang melupakan ingatan atau memori mengenai hal yang memicu trauma. Namun, tubuh harus dilatih untuk merespons hal-hal yang berkaitan dengan trauma tersebut.
Untuk itu, jika dirasa memiliki ketakutan berlebih akan hal yang sebenarnya bukanlah ancaman, segera lakukan pemeriksaan pada tenaga ahli kesehatan mental.
Pembahasan lebih lanjut mengenai kesehatan dan gangguan mental bisa mengikuti Jiemi Ardian di Twitter @jiemiardian dan TikTok @jiemiardian. (*M-Candra)
Berita Terkait
-
Ngenes! Suami Zina dengan Ibu, Norma Risma Harus ke Psikiater untuk Bisa Makan dan Tidur: Tanda Trauma Mendalam?
-
Dicari Psikolog Terbaik di Bali buat Denise Chariesta, Mulai Sadar dan Rasakan Punya "Gangguan"
-
Parenting Bullyproof untuk Anak Tahan Bully, Bagaimana Tanggapan Psikiater?
-
Gratis! Simak Cara Konsultasi ke Psikiater Menggunakan BPJS Kesehatan
-
Pilu! Maula Akbar alami Gangguan Psikologis Gegara Dedi Mulyadi: Badannya Bergetar Penuh Rasa Takut
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
-
7 Tablet Anak Pengganti HP untuk Gaming dan Belajar, Bonus Stylus Pen Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Jadwal Lengkap Ganjil Genap, One Way, dan Contra Flow Tol Arus Balik Lebaran 2026
-
Hampir 100 Persen Pengungsi Bencana di Sumatera Tak Lagi di Tenda
-
Kritik KPK, Sahroni Usul Tahanan Rumah Harus Bayar Mahal: Biar Negara Gak Rugi-Rugi Banget
-
Mudik Siswa Sekolah Rakyat, Naila Akhirnya Punya Rumah Baru Layak Huni
-
Review Abang Adik: Siap-siap Banjir Air Mata dari Kisah Pilu Dua Saudara
-
5 Film Sci-Fi dari Masa ke Masa yang Bikin Optimis Sambut Masa Depan
-
Tentara Amerika Gali Kuburannya Sendiri Jika Serang Pulau Kharg
-
Bangkit dari Post Holiday Blues Usai Mudik Lebaran: 7 Cara Cerdas Balik ke Realita Tanpa Drama