Sport / Arena
Rabu, 25 Februari 2026 | 10:47 WIB
Race Owner Trail Run bersepakat untuk menggelar ajang Indonesia Trail Run Series untuk semakin memposisikan olahraga lari trail. Kesepakatan itu tercapai pada momentum 1 dekade Coast To Coast Night Ultra Trail Run 2026 di Pantai Selatan Yogyakarta beberapa waktu lalu. (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Lima penyelenggara lomba trail run membentuk Indonesia Trail Run Series pada 14 Februari 2026 untuk memperkuat ekosistem lari alam.
  • Series terintegrasi ini menggunakan sistem poin untuk memantau performa atlet secara objektif sepanjang musim kompetisi.
  • Kolaborasi ini bertujuan mendorong pertumbuhan olahraga sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi melalui sport tourism daerah.

Suara.com - Suasana meriah para pelari yang menaklukkan jalur pesisir hingga perbukitan dalam ajang Coast to Coast Ultra pada 14–15 Februari 2026 menjadi saksi lahirnya sebuah inisiatif besar bagi olahraga lari alam di Tanah Air.

Pada Sabtu, 14 Februari 2026, lima penyelenggara lomba trail run sepakat membentuk Indonesia Trail Run Series. Kolaborasi ini dirancang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem lari trail sekaligus mengangkat Indonesia sebagai destinasi sport tourism bertaraf internasional.

Lima event yang menjadi penggagas yakni Coast to Coast Ultra – Yogyakarta, Bali Trail Run Ultra – Bali, Dieng Caldera Race – Wonosobo, MANTRA116 – Pasuruan, dan Siksorogo Lawu Ultra – Tawangmangu.

Selama ini, kelima ajang tersebut tumbuh bersama komunitas masing-masing di panggung alam berbeda, sebelum akhirnya menyatukan visi dalam satu wadah kolaboratif.

Dari Diskusi Panjang Menuju Sistem Terintegrasi

Perwakilan Coast to Coast Ultra, Ikhsan Sitaryadi, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari diskusi panjang antarpengelola lomba berbasis komunitas. Mereka melihat potensi besar trail run Indonesia jika dikelola secara terintegrasi dalam sistem nasional.

Selama ini kerja sama memang sudah berjalan, terutama melalui jejaring komunitas dan partisipasi silang antar-event. Namun, tanpa struktur yang jelas di tingkat nasional, dampaknya dinilai belum maksimal bagi atlet, sponsor, maupun promosi destinasi.

“Kolaborasi ini bukan sekadar simbolik. Kami ingin membangun sistem yang berkelanjutan, yang memberikan arah jelas bagi atlet dan standar bersama bagi penyelenggara,” ujar Ikhsan Sitaryadi, ketika diwawancarai, Senin, 23 Februari lalu.

Dalam konsep Indonesia Trail Run Series, satu kategori dari masing-masing event akan masuk ke dalam sistem series. Penerapan sistem poin memungkinkan performa pelari dipantau secara objektif dan berjenjang sepanjang musim.

Baca Juga: 4 Sepatu Trail Running Murah di Bawah Rp500 Ribu, Nyaman untuk Lari di Medan Berat

Kompetisi dalam Satu Musim, Bukan Satu Lomba

Perwakilan Bali Trail Run Ultra, Agus Yudha, menilai format series akan menghadirkan dinamika baru dalam kompetisi.

“Dengan format series, pelari tidak lagi hanya berkompetisi dalam satu lomba, tetapi dalam satu musim. Ini menciptakan dinamika baru—lebih kompetitif, lebih strategis, dan lebih profesional,” kata Agus Yudha.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan narasi destinasi. Menurutnya, kekayaan lanskap Indonesia menjadi modal besar untuk dikemas secara kolektif.

“Indonesia memiliki gunung, hutan, dan lanskap yang unik. Jika dikelola bersama dalam satu series, kita bukan hanya menjual lomba, tetapi menjual pengalaman dan cerita destinasi,” ujar dia.

Kalender series dirancang berkelanjutan sepanjang tahun: Februari di Yogyakarta, Mei di Bali, Juni di Wonosobo, Juli di Pasuruan, dan Desember di Tawangmangu. Pola ini sekaligus membentuk agenda sport tourism nasional yang konsisten dan sehat bagi perkembangan atlet trail run Indonesia.

Perwakilan MANTRA116, Ivan, menambahkan bahwa pembentukan series diharapkan mampu mendorong pertumbuhan olahraga trail secara lebih terarah.

“Kami ingin memastikan pertumbuhan yang sehat, baik untuk atlet, sponsor, maupun penyelenggara,” ucapnya.

Dampak Ekonomi dan Sport Tourism

Lebih jauh, Indonesia Trail Run Series diposisikan sebagai motor penggerak sport tourism.

Setiap event berlangsung di wilayah dengan karakter geografis dan budaya yang kuat, mulai dari pesisir dan perbukitan Yogyakarta, lanskap tropis Bali, kaldera Dieng, pegunungan Pasuruan, hingga lereng Lawu di Tawangmangu.

Mahendratta dari Dieng Caldera Race menilai efek ekonomi yang dihasilkan trail run sangat nyata.

“Peserta tidak datang sendiri. Mereka membawa keluarga, komunitas, dan menginap beberapa hari. Hotel, homestay, UMKM, transportasi lokal, semuanya bergerak,” kata Mahendratta.

Data internal penyelenggara menunjukkan mayoritas peserta ultra trail berasal dari luar kota, bahkan mancanegara. Rata-rata mereka tinggal dua hingga empat malam, memanfaatkan penginapan lokal, mencicipi kuliner daerah, serta mengunjungi destinasi wisata sekitar lokasi lomba.

“Dalam konteks ekonomi daerah, event trail run berkontribusi pada perputaran ekonomi yang signifikan, khususnya di wilayah pegunungan dan dataran tinggi yang bukan pusat industri,” ujarnya, menambahkan.

Dengan fondasi kolaborasi nasional ini, Indonesia Trail Run Series diharapkan menjadi tonggak baru bagi pengembangan olahraga trail run sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai panggung lari alam kelas dunia.

Load More