Sukabumi.suara.com - Ada alasan khusus mengapa jalan di pegunungan dibuat berkelok-kelok. Pasti kalian menyadari tentang fakta ini. Jika sedang berkendara menuju ke wilayah pegunungan atau dataran tinggi, maka jalanan yang dilalui pasti berkelok-kelok. Walau dari sisi jangka waktu perjalanan menjadi lebih lama, tapi ada tujuan agar perjalanan di daerah pegunungan tetap aman.
Jalanan yang dibuat berkelok-kelok pada jalur pegunungan, membuat kendaraan yang lewat, semakin mudah untuk melewatinya. Kendaraan bermotor, biasanya tidak mampu jika harus melewati tanjakan dalam waktu yang lama. Tenaga yang dikeluarkan kendaraan juga sama banyaknya, dengan jalan yang dibuat berkelok-kelok.
Pada perencanaan geometrik suatu jalan, yang dikedepankan adalah isu keselamatan. Jadi jalanan yang dibangun harus mampu melindungi penggunanya. Jalanan yang berkelok-kelok menggunakan prinsip kerja bidang miring.
Ketika landasan atau bidang yang akan dilewati landai, maka tenaga yang dibutuhkan, untuk menuju puncaknya menjadi lebih kecil, begitu pula sebaliknya.
Jadi, kalau sedang menuju puncak dan jalanannya berliku, sebenarnya itu sudah dirancang untuk mempermudah perjalanan kita dan lebih aman. Walaupun terkadang membuat mual atau mabuk darat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Flores Kembali Diguncang Gempa Magnitudo 5,1, BMKG: Hati-hati Bangunan Retak
-
Doddy Hanggodo Sebut Gempa NTT "Makanan Sehari-hari", Ini Daftar Kontroversi sang Menteri PU
-
5 Perbedaan Jenis Puff Cushion Rubycell vs Velvet yang Bikin Hasil Makeup Beda
-
Membedah Makna Lagu 'Usik' Feby Putri: Seni Berdamai dengan Luka Masa Lalu
-
Duh! Asap Karhutla Ketapang Mengancam Pontianak hingga Negara Tetangga
-
Turun Langsung Cek Karhutla di Kalimantan, Prabowo Minta Tindak Tegas Setiap Pelanggar Hukum!
-
Rayakan 20 Tahun Debut, BigBang Bahas Identitas dan Kejayaan di Lagu BiiiG
-
Perang SUV Listrik Memanas: Nevo Q05 Pamer Ngecas Kilat, Leap Motor Andalkan Sasis Eropa
-
6 Cara Pakai Bedak Tabur di Atas Sunscreen agar Tidak Menggumpal, Makeup Jadi Halus
-
Elang Nias dan Burung Hantu Siau Dilaporkan Punah di Indonesia, Benarkah?