Sukabumi.suara.com - Gempa bumi yang terjadi pada Senin (21/11/2022) lalu menyisakan berbagai luka bagi semua orang. Dalam bencana alam gempa dengan kekuatan M 5,6 berhasil merusak ratusan rumah hingga fasilitas umum. Selain itu gempa tersebut juga telah memakan banyak korban jiwa.
Diketahui lebih dari 260 orang meninggal dan 150 orang masih dalam pencarian akibat dari gempa bumi ini.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) diketahui penyebab dari adanya gempa bumi di Cianjur disebabkan oleh pergeseran dari patahan atau Sesar Cimandiri.
Pengertian Sesar
Menurut Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) menjelaskan jika sesar merupakan aktivitas geologi yang disebabkan oleh pergeseran secara relatif antara satu blok batuan dengan blok batuan yang lainnya.
Pergerakan lempeng batuan tersebut yang nantinya akan menyebabkan adanya aktivitas tektonik. Umumnya gempa bumi terjadi di jalur patahan atau sesar tersebut.
Sesar Cimandiri
Sesar Cimandiri sendiri merupakan sesar yang aktif dan berada di Jawa Barat, Indonesia. Sesar Cimandiri sendiri memiliki bentangan yang cukup luas, yaitu dari muara Sungai Cimandiri, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi sampai dengan Kabupaten Subang.
Selain itu Sesar Cimandiri juga mengarah ke timur laut melewati Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, yang nantinya juga akan mengalami pertemuan dengan Sesar Lembang di Padalarang dan juga Sesar Baribis di Kabupaten Subang.
Baca Juga: Pergerakan Tanah Terjadi di Kalibunder Sukabumi, 13 Rumah Diimbau Waspada
Sesar Cimandiri merupakan sesar yang aktif, karena pertahunnya mengalami pergerakan dengan kecepatan geser 4-6 mm pertahun. Sesar Cimandiri sendiri dibagi menjadi lima segmen yaitu segmen Cimandiri Palabuhan Ratu-Citarik, Citarik-Cadasmalang, Ciceureum-Cirampo, Cirampo-Pegleseran, dan Pegleseran-Gandasoli.
Diketahui Sesar Cimandiri sendiri sudah ada sejak 50 juta tahun yang lalu, atau terbentuknya saat tahap orogenesis II. Dalam sesar ini membentuk dua lembah yang besar yaitu Lembah Ciletuh dan Lembah Cimandiri yang hingga kini masih ada. Sesar ini juga terdiri dari dua regional, yaitu sesar naik dan sesar normal.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
4 Anggota TNI Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Dituntut 2,5 Tahun, Jaksa Sebut Aksi Balas Dendam
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
-
KPK Gelar OTT di Kantor Imigrasi Jakarta Barat, Jadi Operasi Ke-11 Sepanjang 2026
-
Kejagung Geledah Kantor BGN, Dilakukan di Tengah Pencopotan Dadan dan Dugaan Jual Beli Titik MBG
Terkini
-
Dudung Ungkap Alasan Kepala BGN Diganti, Ada Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG
-
Kantor BGN Masih Digeledah Kejagung, Lantai Dua Steril dari Aktivitas Pegawai
-
Ibrahima Konate Dikabarkan Capai Kesepakatan Gabung Real Madrid
-
KPK Amankan Belasan Orang di OTT Imigrasi Jakbar, Dirjen Imigrasi Buka Suara
-
Kontrak Ibrahima Konate Nyaris Sepakat, Real Madrid Kalahkan Barcelona dan Bayern
-
Lionel Scaloni Tegaskan Lionel Messi Sendiri yang Akan Tentukan Waktu Pensiunnya
-
STUDIO GRAPH77 Garap Film Baru Anime Paradox Live, Hadirkan 29 Karakter
-
Profil Mayjen Trenggono Wakil Kepala BGN Baru, Gantikan Sony Sanjaya
-
Gagal Penalti, Penjualan Jersey Gabriel Magalhaes Malah Melonjak 350 Persen
-
Euforia AI Instansi Negara: Cermin Kemalasan atau Modus Pangkas Anggaran?