Suara Sumatera - Kedubes Jerman memberikan penjelasan mengenai pertanyaan publik soal apakah warga Indonesia yang bekerja di sana bayar pajak.
Diduga penjelasan soal pajak itu merespons perseteruan antara Nikita Mirzani dan Bunda Corla. Diketahui, perampuan yang akrab disapa Nyai itu menuding Bunda Corla menunggak pajak di Jerman sekitar 500 ribu euro atau sekitar Rp 8 miliar.
Namun demikian, Bunda Corla membantahnya. Dirinya membuktikan bisa keluar dari Jerman untuk berlibur ke Indonesia.
"Apakah warga Indonesia yang bekerja di Jerman juga harus membayar pajak di Jerman? Sepertinya akhir-akhir ini banyak yang tertarik dengan pertanyaan ini," tulis akun Instragram @germanembassyjkt dilihat Senin (24/1/2023).
"Walaupun ketentuannya bisa berbeda untuk tiap individu tergantung dari situasi masing-masing, secara umum iya, penghasilan warga asing yang menetap dan bekerja di Jerman dikenakan pajak!," sambungnya.
Dijelaskan bahwa pembayaran pajak di Jerman tidak jauh dengan Indonesia. Di mana setiap bulannya pemberi kerja akan memotong pajak penghasilannya untuk disetorkan ke kantor pajak.
"Tak jauh beda dari Indonesia, di Jerman tiap bulan pemberi kerja memotong dan menyetorkan pajak penghasilan upah pegawai ke kantor pajak dengan nilai bervariasi dari 0 persen atau bahkan 45 persen atau hampir setengah dari penghasilan," ujarnya.
Semakin besar gaji maka semakin besar pajak yang dibayarkan. Sementara penghasilan di bawah 10.908 euro atau 168 juta rupiah dalam setahun tidak dikenakan pajak.
Jika mencukupi, penghasilan warga yang bekerja juga akan dipotong untuk iuran jaminan sosial. Ini untuk menjamin agar bisa mengakses layanan kesehatan, pensiun, dan kecelakaan kerja tanpa cemas.
"Status pernikahan dan tanggungan Anda juga menentukan besar pajak yang perlu dibayarkan. Tentunya, situasi setiap warga asing di Jerman bisa berbeda dan pengaturan lebih lanjut bisa ditemukan di persetujuan penghindaran pajak negara masing-masing dengan Jerman," tulisnya.
Baca Juga: Seungkwan Tampil Santai dalam Teaser Baru untuk BSS 'SECOND WIND'
Berita Terkait
-
Bunda Corla Stop Ngobrol saat Adzan Berkumandang, Attitudenya Tuai Pujian
-
Bunda Corla Sebut Nikita Mirzani Bermuka Dua, Apa Saja Tanda-tandanya?
-
Ngaku Teman Remajanya, Wanita Ini Bongkar Jenis Kelamin Asli Bunda Corla
-
Bunda Corla Mau Balikin Duit Rp 100 Juta, Nikita Mirzani Tagih di Medsos: Masih Ditungguin
-
Bunda Corla Gelar Konser Mega, Yuk Simak Perjalanan Karirnya Selama Ini
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Viral! Jurnalis Perempuan Jadi Korban Pelecehan saat Liputan Piala Dunia 2026
-
Alasan Mantan Anak Emas John Herdman Absen di Laga Kanada vs Bosnia
-
Fakta vs Klaim FIFA: Benarkah Banyak Kursi Kosong di Piala Dunia 2026?
-
Penampakan Stadion Terburuk Piala Dunia 2026: Angin Kencang Bikin Tribun Goyang
-
Alasan Mengejutkan Trump Ogah Datang Pada Laga Perdana AS di Piala Dunia 2026
-
Sindiran Menohok Infantino: Piala Dunia Tambah Peserta, Italia Belum Tentu Lolos
-
Cristiano Ronaldo: Portugal Bukan Favorit Juara Piala Dunia 2026
-
Depresi Sejak Usia Muda ke Panggung Piala Dunia 2026: Kisah Kelam Striker Brasil Igor Thiago
-
Gegara Lagu Kebangsaan, Spanyol Jadi Negara Paling Dibenci di Piala Dunia 2026, Kok Bisa?
-
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI