/
Selasa, 04 April 2023 | 22:07 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. ([dok Pemprov Jateng])

Suara Sumatera - Batalnya Indonesia menjadi tuan rumah memicu kemarahan kepada sosok Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Hal ini disebabkan karena pembatalan menjadi tuan rumah buntut dari penolakan terhadap timnas Israel, yang salah satunya datang dari pentolan PDI Perjuangan tersebut.

Sontak akun media sosial Ganjar Pranowo ramai diserbu warganet yang marah. Akan keputusan tersebut, Ganjar Pranowo pun menyatakan tidak pernah ragu terhadap sikapnya dalam konteks Piala Dunia U-20.

“Saya tidak pernah ragu akan keputusan yang saya ambil,” kata Ganjar dalam wawancara dengan Najwa Shihab, dikutip Selasa (4/4/2023).

Keputusan yang tidak pernah ragu itu diambil bukan dalam konteks Piala Dunia yang batal, namun penolakan terhadap timnas Israel.

“Saya tidak pernah menyesal, karena ini sebuah sikap keputusan yang harus kita ambil,” tegasnya.

Ganjar menjelaskan, Indonesia punya komitmen konstitusi yang menyatakan untuk ikut mendukung perdamaian di dunia sekaligus menghapus penjajahan terkhusus mendukung kemerdekaan Palestina.

“Itu menjadi kontrak soial kita, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan keadilan. Ada juga politik luar negeri kita yang bebas aktif, turut serta dalam perdamaian dunia dan itu dilakukan,” ujarnya.

Ganjar menjelaskan, Indonesia punya komitmen konstitusi yang menyatakan untuk ikut mendukung perdamaian di dunia.

“Itu menjadi kontrak soial kita, penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan keadilan. Dan tentu saja ada juga politik luar negeri kita yang bebas aktif, turut serta dalam perdamaian dunia dan itu dilakukan,” ujarnya.

Baca Juga: Cedera, George Brown Dipastikan Absen di Laga Persebaya vs Persija

Ganjar menambahkan, dalam peraturan Permenlu Nomor 3 Tahun 2019 yang menjelaskan bahwa Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

“Aturannya jelas, enggak boleh bendera, enggak boleh lagu kebangsaan, enggak boleh forum umum, forum khusus diberikan kepada yang seperti itu,” tegasnya.

“Kita ikut aturan, konstitusi kita ikut serta, dan kita tidak lupa pada sejarah, jas merahnya. Dan ini perjuangan cukup panjang, sejak Bung Karno sampai Pak Jokowi Indonesia salah satu yang konsisten. Memang complicated, dan itu kemudian jadi dilema-dilema, itu alasan yang harus kita kemukakan,” papar Ganjar.

Khazanah Islam: Apa Itu Ushul Fikih? Kajian Kaidah dan Sumber untuk Membuat Hukum

Load More