/
Rabu, 07 September 2022 | 21:57 WIB
Buah mangga (Suara.com/Envato)

SuaraSumedang.id – Varietas unggul buah mangga dari Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, punya kualitas siap ekspor. Setelah melalui riset dari Institut Pembangunan Jawa Barat (Injabar Unpad), bersama Badan Karantina Pertanian Kementan.

Berdasarkan penelitian tersebut, mereka berhasil meriset lalat buah Bactrocera Occipitalis pada buah mangga di Indonesia, yang menjadi hambatan ekspor mangga ke Jepang.

Kemudian hasil dari riset itu menunjukkan, tidak ditemukan adanya Bactrocera Occipitalis di pulau Jawa.

Diketahui, penilitian bactrocera occipitalis yang dilakukan oleh tim Injabar, sekaligus dipimpin Dr Agus Susanto dari Fakultas Pertanian Unpad. 

Lalat tersebut hanya ditemukan di wilayah pinggir hutan Kalimantan Utara, jauh dari pemukiman. Dan terdapat di buah jambu dan belimbing.

"Sehingga tidak perlu khawatir dalam melakukan proses ekspor mangga ke luar negeri, dalam hal ini Jepang," ujar Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Keri Lestari, dilansir dari Suara.com Rabu, (7/9/2022).

Menurutnya, sementara dari buah mangga disana tidak ditemukan lalat tsb pada saat penelitian ini berlangsung.

Ia juga menyampaikan penelitian Dr Susanto yang dilaksanakan, selama kurang lebih 15 tahun mengobservasi lalat buah di sentra mangga Sumedang Jawa Barat.

Hasilnya tidak menemukan lalat buah B. Occipitalis di Sumedang Jawa Barat, lalu penelitian ini dipublikasikan di jurnal internasional.

Baca Juga: Rocky Gerung Soroti Pemanggilan Anies Baswedan oleh KPK, akan Dicari Kesalahannya jika Oposisi

"Jadi pertama tidak perlu takut karena lalat buah itu ada tapi tidak banyak, dan posisinya di Tarakan Kalimantan, jauh dari sentra mangga di Jawa Barat,” ujar Keri. 

Peneliti Temukan 2800 Lalat Buah

buah mangga (sumber: duniamasak.com)

Tim Injabar dan Barantan Tarakan bersama-sama melakukan trapping dan menemukan sekitar 2800 lalat buah.

Berdasarkan jumlah tersebut hanya ditemukan 14 lalat yang secara morfologis mirip.

Kemudian dilanjutkan dengan PCR untuk mengkonfirmasi secara genetik, ditemukan 4 lalat yang terkonfirmasi sebagai B. Occipitalis.

“Kedua kita juga tidak perlu khawatir karena ada proses di Karantina terhadap semua produk-produk buah dan sayuran. Artinya ada aturan yang cukup ketat untuk pemindahan produk dari Kalimantan ke Jawa,” ucap Keri.

Menurut Keri, pada 5 September 2022 kemarin, final report riset kolaborasi tim Injabar Unpad, Faperta Unpad, Barantan Kementan RI dan didukung PT Minaqu Indonesia telah dipaparkan.

Kepada tim ministry of agriculture, forestry and fisheries (MAFF) Jepang yang difasilitasi Kedubes Jepang, Atase Pertanian, Atase Perekonomian dan Atase Perdagangan RI untuk Jepang. 

“Serta yang terpenting adalah tidak ditemukan B Occipitalis di sentra Mangga di Sumedang Jawa Barat. Tentu kita berharap, proses ekspor mangga kita ke Jepang dapat segera berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Dari paparan tersebut, MAFF mengapresiasi penelitan dan riset yang dilakukan, saat ini sedang disusun rekomendasi MAFF.

Riset dan diplomasi ini untuk mendukung pembukaan akses ekspor mangga Gedong Gincu ke Jepang," urainya.

Sebelumnya Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong ekspor buah mangga Indonesia dapat dilakukan secara masif. 

Menurut SYL, potensi mangga Indonesia sangat besar dan bisa dijadikan sebagai modal utama dalam meningkatkan kinerja ekspor buah. 

Sentuhan teknologi menjadi upaya utama untuk merealisasikan potensi tersebut.

Apalagi, Indonesia menduduki posisi kelima sebagai produsen buah mangga dunia setelah India, China, Thailand, dan Meksiko. 

Tahun 2018 Produksi mangga di Indonesia bahkan mencapai 2.184.399 ton. Prestasi tersebut dapat menjadi peluang besar dalam peningkatan ekspor buah di Indonesia.

"Peningkatan kinerja ekspor buah dapat dilakukan melalui penerapan teknologi dan sistem jaminan mutu di seluruh rantai produksi melalui penerapan standardisasi produk hasil pertanian dari hulu ke hilir," jelasnya.

Load More