/
Selasa, 11 Oktober 2022 | 13:18 WIB
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo (Foto: ANTARA)

SuaraSumedang.id - Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Dedi Prasetyo menyebut, bila delapan pintu darurat yang berada di Stadion Kanjuruhan dapat difungsikan, dapat meminimalisir korban dalam insiden tersebut.

Polri menyatakan ada delapan pintu darurat yang berada di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, tidak dapat difungsikan.

Hal itulah, yang disebut-sebut sebagai satu di antara faktor penyebab banyaknya korban jiwa dalam tragedi Kanjuruhan.

"Dari 8 pintu emergency seharusnya bisa difungsikan. Kalau itu bisa difungsikan, maka jatuhnya korban bisa diminimalisir," kata Dedi pada Senin (10/10/2022).

"Tapi ketika kejadian itu, fungsi dari emergency exit-nya itu tidak berfungsi dengan baik. Tidak bisa dibuka itu yang betul-betul tidak kita harapkan," tambahnya.

Pintu 13 Stadion Kanjuruhan, Malang (sumber: Suara.com/Yuliharto Simon)

Dedi pun menambahkan, seluruh pintu di sekitar stadion semestinya tidak dalam kondisi terkunci serta harus dijaga oleh steward, sehingga dapat difungsikan dengan baik.

"Sebelum pertandingan harus dipastikan di dalam regulasi ini semua pintu dijaga oleh steward. Semua pintu harus dalam keadaan tidak boleh dikunci, dan apabila difungsikan harus mampu semaksimal mungkin bisa mengeluarkan penonton dalam keadaan selamat," ucapnya.

Sebagaimana dilansir dari PMJ News, pada Selasa (11/10/2022), Polri mengklaim bahwa korban-korban yang meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan bukan disebabkan karena gas air mata.

"CS (chlorobenzalmalononitrile) atau gas air mata dalam tingkat tertinggi pun tidak ada yang mematikan," kata Dedi Prasetyo.

Baca Juga: Tempat Wisata di Depok yang Instagramable Punya Jembatan Apung

Situasi di Stadion Kanjuruhan (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto) (sumber:)

Dedi menerangkan, klaim tersebut didasari dari keterangan ahli maupun dokter yang menangani korban-korban dalam tragedi Kanjuruhan.

"Dari penjelasan para ahli, dokter spesialis yang menangani para korban, baik korban yang meninggal dunia maupun korban yang luka, dari dokter spesialis penyakit dalam, penyakit paru, penyakit THT, dan juga spesialis penyakit mata, tidak satupun yang menyebutkan penyebab kematian adalah gas air mata," jelas Dedi.

Lebih lanjut, Dedi mengatakan, bahwa korban meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan disebabkan karena kekurangan oksigen akibat berdesak-desakan.

"Tapi penyebab kematian adalah kekurangan oksigen. Karena terjadi berdesak-desakan.

Kemudian terinjak-injak, bertumpuk-tumpukan, yang mengakibatkan kekurangan oksigen pada pintu 13, pintu 11, pintu 14, dan pintu 3," ucapnya.

Sumber:PMJ News

Load More