/
Kamis, 27 Oktober 2022 | 12:53 WIB
Dok. foto Dedi Mulyadi. (/ANTARA/HO-Dokumentasi Dedi Mulyadi)

SuaraSumedang.id - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi menemukan proyek galian tanah merah yang diduga dilakukan dengan modus pembangunan restoran.

Proyek galian tanah merah diduga hanya modus pembangunan restoran tersebut terletak di daerah Cijantung, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

"Kegiatan proyek galian tanah merah itu sangat membahayakan karena membelah bukit di daerah Cijantung, Purwakarta," kata Dedi Mulyadi, Rabu (26/10/2022).

Menurut Dedi, proyek yang berada di tepat di pinggir jalan itu tidak hanya mengakibatkan kemacetan, tapi diduga hanya modus untuk aktivitas penggalian, dan penjualan tanah.

Di lokasi proyek terlihat satu alat berat sedang melakukan pekerjaan membelah bukti yang berada tak jauh dari jembatan Tol Cipularang.

Di atas bukti, kata Dedi, masih terdapat sejumlah tiang listrik yang bisa kapan saja ambruk, dan menimpa kendaraan tengah melintas di bawah bukit.

"Ini (proyek galian tanah merah) sangat membahayakan, karena ada tiang listrik di atasnya. Bawahnya tetap dihajar, dan digali diambil tanahnya. Jembatan (Tol Cipularang) bisa terancam ambruk oleh penggalian di sini," ucap Dedi.

Ia menduga proyek galian dengan izin pembangunan restoran itu hanya modus. Artinya, proyek pengerjaan diberi nama pembangunan.

Namun, kata dia, ujungnya hanya aktivitas penggalian untuk menjual tanah ke daerah lain.

Baca Juga: Kondisi Terkini Nikita Mirzani dalam Tahanan, Begini Kata Kepala Rutan Kelas 2 B Serang

Hal tersebut, tambah Dedi, terlihat dari banyaknya truk berukuran besar yang menunggu giliran mengangkut tanah galian.

Pada kesempatan itu, Dedi Mulyadi langsung membubarkan truk tersebut karena menghambat lalu lintas.

Meski penanggung jawab proyek tersebut saat ditemui di lapangan menyebut kalau proyek itu dilakukan sebagai pematangan lahan.

Selanjutnya, dibangung restoran dengan konsep lesehan, tetapi Dedi tetap curiga kalau itu hanya modus.

"Masa pematangan tanah caranya begini, saya tahu ini modus seperti ini. Ini kan daerah rawan. Ini tanah kemudian diangkut untuk dijual, tadi truk berbaris," ucapnya.

Dedi tetap meyakini jika proyek itu hanya bertujuan menggali, dan menjual tanah. Sementara IMB hanya akal-akalan saja agar lokasi bisa digali.(*)

Sumber:ANTARA

Load More