/
Jum'at, 27 Januari 2023 | 14:48 WIB
Pemain film horor Para Betina Pengikut Iblis dari kiri Sarah Fajira, Hanggini, dan Mawar De Jongh di Jakarta, Jumat (27/1/2023) saat media briefing. (Suara.com/Adiyoga Priyambodo)

SuaraSumedang.id - Film horor terbaru berjudul Para Betina Pengikut Iblis merupakan garapan sutradara Rako Prijanto.

Rako pun mengungkapkan alasan di balik pemilihan judul untuk film Para Betina Pengikut Iblis, terutama soal diksi 'betina' yang disematkan di judul itu.

Dalam konteks karya seni, dikatakan Rako, tidak ada batasan untuk menggunakan diksi tertentu.

"Ini jawaban pribadi saya, ya. Saya itu nggak tega menggunakan kata 'perempuan' menjadi pengikut iblis. Saya, kok nggak tega."

"Karena menurut saya, perempuan itu harus kita hormati, harus kita sayangi, harus mempunyai rasa humanis yang tinggi, berakhlak baik yang nggak mungkin dipengaruhi oleh iblis," papar Rako saat media briefing di Jakarta, pada Jumat (27/1/2023).

Sutradara Rako Prijanto bersama cast Para Betina Pengikut Iblis (sumber: Suara.com/Adiyoga Priyambodo)

Diksi 'betina' bukan semata-mata menyamakan perempuan dengan binatang. Selain itu, pemilihan diksi betina pada judul, bagi Rako, turut merepresentasikan karakter yang ditampilkan dalam film.

"Intinya adalah bahwa para betina pengikut iblis ini adalah judul yang paling tepat untuk menggambarkan karakter di film ini sekaligus juga puitik," katanya.

Para Betina Pengikut Iblis, mengisahkan tiga perempuan yang ingin membalas dendam dan rela menggadaikan dirinya untuk bersekutu dengan iblis.

Sumi (Mawar De Jongh), yang tinggal seorang diri harus mengurus ayahnya yang sakit. Untuk membiayai hidupnya, dia berjualan gulai dari daging manusia.

Baca Juga: 4 Fakta Rekening Pedagang Burung Diblokir BCA, Gegara Nama Persis Tersangka KPK

Sementara itu, Sari (Hanggini) kembali menjadi dukun santet karena adiknya dibunuh, dan mayatnya hilang dari kuburan.

Dengan penuh dendam, Sari meneror warga kampung. Demi bertahan, para perempuan ini pun bersekutu dengan iblis.

Untuk inspirasi pembuatan cerita, Rako mengatakan dirinya terinspirasi dari tiga surah dalam Alquran, yakni An-Nas, Al-Imran ayat (17), dan Al-Humazah.

Ketiga karakter perempuan itu, kata Rako mencerminkan pesan dari masing-masing surah. Dalam penulisan cerita, Rako dibantu oleh Anggoro Saronto.

"Di bali judul yang mungkin sangat sadis ini, tersirat sebuah pesan-pesan yang ingin saya sampaikan kepada para penonton di Indonesia," kata Rako.(*)

Sumber:ANTARA

Load More