SUARA SUMEDANG – Viralnya video rekaman railfans yang memperlihatkan seorang pria bunuh diri di rel kereta api membuat warganet heboh.
Pasalnya kejadian itu terjadi didepan orang banyak dan faktanya menurut warga local sana, kejadian bunuh diri di rel kereta api tersebut ada hubungannya dengan pocong.
Ya sebuah akun twitter @RJL5_official membagikan kisah yang dia angkat dari netizennya yang ternyata adalah warlok, mengatakan jika korban bunuh diri tersebut pasti melihat pocong yang berada di lokasi.
Karena sebelum kejadian orang bunuh diri di St. Pasar Senen itu, Pocong terlihat sebagai tanda jika ada kejadian buruk yang segera terjadi. Warlok ini mengatakan jika dia tidak melihatnya hanya sekali tapi berkali – kali dan kejadian juga.
Pertama pada tahun 1966 dan kedua di tahun 2020, awal pandemic kemaren. Menurut video yang beredar di sosial media yang memperlihatkan pria itu berbaring di rel kereta api dengan jarak 10 – 15 meter, kereta alhasil tidak dapat mengerem dan melindas tubuh pria tersebut, memisahkan badan dan kakinya.
Ternyata, pria yang bunuh diri di rel kereta api tersebut merupakan sebuah pengemis yang sering ngemis di sekitar TKP dan fakta lainnya juga tidak hanya korban ini saja yang bunuh diri di rel kereta api tersebut, sudah sering terjadi.
Mengenai pocong yang tadi sempat diduga ada hubungannya dengan kejadian ini juga belum dipastikan apakah betul – betul sebagai pertanda atau memang mitos saja. Yang jelas kejadian ini mencoreng image jalur kereta tapi menjadi negative dan menyeramkan.
Menurut data WHO, 700.000 orang lebih memilih untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri setiap tahunnya. Sedangkan di Indonesia sendiri angka bunuh diri terus meningkat sejak awal 2023, bahkan sampai awal bulan mei sudah mencapai 451 kasus.
Artinya dalam sehari ada 3 orang yang ‘sukses’ melakukan bunuh diri. Namun sayangnya perilaku bunuh diri masih sering dicap negative, lemah iman atau sebagainya.
Baca Juga: Pembukaan ICE Apeksi 2023 Libatkan 128 UMKM dari seluruh Kota di Indonesia
Padahal jika kita memahami cara berpikir orang yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri tidak bisa disamakan dengan orang normal. Support system dari orang terdekat, keluarga, teman dan orang disekitar sangat penting sebagai pencegah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Cara Tukar Uang Baru di PINTAR BI untuk THR Lebaran 2026, Ini Ketentuannya
-
Gema yang Tertahan di Balik Pintu Nomor 13
-
HP Apa yang Ada Fitur Foto Live? Ini 5 Alternatif yang Lebih Murah dari iPhone
-
Laporan Keuangan Bank Mandiri (BMRI) Awal Tahun 2026, Nilai Aset Naik Drastis
-
Diduga Sopir Mengantuk, Transjakarta Tanggung Biaya Medis Korban Tabrakan Dua Armada di Koridor 13
-
Dilema Minyak Mentah: Tensi AS-Iran Mereda, Namun Tarif Trump Menekan Harga
-
Momen Menkeu Purbaya Live Bareng Anak saat Sahur, Jawab Pertanyaan Netizen Soal Korupsi hingga MBG
-
Surati Bupati Tasikmalaya, Koalisi Masyarakat Sipil Tuntut Perlindungan Jemaat Ahmadiyah
-
Disaksikan Keluarga Korban Arianto, Sidang Etik Bripda Masias Digelar Siang Ini: Bakal Dipecat?
-
Pramono Anung Bakal Tertibkan Lapangan Padel di Tengah Permukiman: Bikin Bayi Nggak Bisa Tidur