Bisnis / Keuangan
Senin, 25 Mei 2026 | 09:55 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026 pagi.
  • Penguatan rupiah dipicu harapan stabilitas geopolitik Timur Tengah setelah proses diplomasi AS dengan Iran berjalan konstruktif.
  • Mayoritas mata uang Asia turut menguat terhadap dolar AS seiring menurunnya indeks kekuatan mata uang Amerika tersebut.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan awal pekan dengan catatan positif. Mata uang Garuda berhasil membalikkan arah ke zona hijau pada pembukaan pasar spot hari ini, Senin (25/5/2026).

Melansir data dari Bloomberg pada Senin pagi, kurs rupiah dibuka menguat tipis ke level Rp17.700 per dolar AS.

Posisi ini mencerminkan apresiasi sebesar 17 poin atau naik sekitar 0,10% jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada akhir pekan lalu, Jumat, yang tertahan di level Rp17.716 per dolar AS.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan terbatas yang dialami rupiah pagi ini utamanya disokong oleh munculnya harapan baru terkait pemulihan stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sentimen tersebut secara langsung memicu koreksi pada harga minyak mentah dunia.

"Langkah maju ini merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan bahwa proses perundingan dan diplomasi dengan pihak Iran telah berjalan secara 'konstruktif'," jelas Lukman kepada Suara.com, Senin (25/5/2026).

Meskipun ruang penguatan mulai terbuka, Lukman memberikan catatan bahwa apresiasi mata uang domestik berpotensi berjalan dalam rentang yang terbatas.

Hal ini dikarenakan para pelaku pasar cenderung bersikap skeptis dan berhati-hati, mengingat dinamika diplomasi global sebelumnya kerap kali berakhir antiklimaks dan mengecewakan ekspektasi pasar.

Di samping itu, dari dalam negeri, gairah investasi masih tertahan karena para pemodal terus mencermati dampak rilis data fundamental ekonomi hari Jumat lalu, yang menunjukkan adanya defisit yang cukup besar pada sektor neraca transaksi berjalan (current account deficit).

Oleh karena itu, rupiah dinilai masih memiliki risiko pembalikan arah melemah menjelang penutupan pasar sore nanti. Proyeksi pergerakan kurs harian diperkirakan akan bergulir pada kisaran rentang antara Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Melemah Lagi, Defisit Transaksi Berjalan Sentuh Titik Terendah dalam 6 Tahun

Mata Uang Asia Kompak Menggilas Dolar AS

Langkah penguatan rupiah ini juga seirama dengan tren yang terjadi pada mayoritas mata uang regional di kawasan Asia, yang kompak memanfaatkan momentum koreksi dolar AS.

Berikut adalah rincian peta kekuatan mata uang Asia terhadap greenback pada perdagangan pagi ini:

  • Baht Thailand: Memimpin penguatan di Asia dengan kenaikan tajam sebesar 0,71%.
  • Won Korea Selatan: Menyusul di posisi kedua dengan apresiasi sebesar 0,57%.
  • Peso Filipina: Menguat signifikan sebesar 0,52%.
  • Dolar Taiwan: Berhasil naik sebesar 0,39%.
  • Ringgit Malaysia: Mencatatkan penguatan sebesar 0,29%.
  • Dolar Singapura: Tumbuh positif sebesar 0,26%.
  • Yuan China: Terkerek naik sebesar 0,23%.
  • Yen Jepang: Mengalami penguatan sebesar 0,21%.
  • Dolar Hong Kong: Bergerak stagnan cenderung naik tipis 0,01%.

Kondisi serempak ini terjadi sejalan dengan melandainya posisi indeks dolar AS (DXY) yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Indeks dolar terpantau melorot ke posisi 99,00, turun dari posisi akhir pekan lalu yang sempat perkasa di level 99,23.

Load More