Sayangnya, Lukas tidak bisa kooperatif dengan KPK karena terus mangkir setiap dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Tak tanggung-tanggung, pihak keluarga dan Kuasa Hukum Lukas Enembe justru meminta KPK untuk memeriksanya di Lapangan Terbuka. Hal ini agar pemeriksaan kasus korupsinya bisa disaksikan masyarakat.
Permintaan tersebut menuai banyak tanggapan, salah satunya dari tokoh pemuda Kabupaten Jayapura, Robert Entong. “Pakai hukum apa? Hukum pemerintah atau hukum adat?”, tanya pemuda kelahiran Kampung Sosiri ini.
Lebih lanjut, Robert menjelaskan bahwa Lukas Enembe dituduh telah menyalahi aturan Pemerintah karena menerima gratifikasi sebesar Rp. 1 miliar.
Maka dari itu, hukum yang tepat untuk memeriksa Lukas adalah hukum Pemerintah.
Mengenai permintaan keluarga dan kuasa hukum Lukas Enembe untuk mengadilinya di Lapangan Terbuka, Robert mengaku kebingungan.
Pasalnya masyarakat adat Papua terutama di wilayah adat Jayapura tidak ada proses mengadili di Lapangan Terbuka seperti itu.
Tokoh Pemuda tersebut mengingatkan bahwa Lukas menjadi Gubernur Papua itu atasa pilihan rakyat yang menggunakan hukum pemerintah. Lukas tidak pernah dipilih oleh masyarakat adat untuk menjadi kepala suku.
“Rakyat yang menggunakan hukum Pemerintah kan sudah memilihnya jadi Gubernur Papua, sedangkan Kami tidak pernah pilih Lukas untuk menjadi kepala suku”, ucap Robert.
Baca Juga: Cair Hari Ini, Klik bsu.kemnaker.go.id untuk BSU Tahap 5
Bersikap ksatria saja, mau bertanggung jawab atas perbuatannya sesuai hukum yang berlaku.
“ada media massa dan televisi, jadi permintaan untuk disaksikan langsung bisa terlaksana”, tambah Robert.
Sikap berbelit-belit dari Gubernur Papua dan keluarganya itu dianggap sebagai upaya agar terlepas dari jeratan hukum. Bila tidak memiliki kesalahan, buktikan saja ke KPK, pasti dibebaskan.
Robert pun menegaskan “jangan bawa-bawa adat dan menjadikan masyarakat sebagai tempat berlindung dari kesalahan”.
Terakhir, Robert menghimbau kepada masyarakat yang masih melindungi Lukas di kediaman pribadinya di Koya Tengah untuk mengakhiri aksi mereka.
Para pembela Lukas Enembe berkumpul di kediamannya sambil bawa panah dan kampak sehingga meresahkan masyarakat Jayapura. Di sisi lain warga selalu khawatir untuk beraktivitas dan tidak bisa kerja dengan tenang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis