Sebuah postingan di Media Sosial Instagram pada tanggal 11 Februari 2023 oleh akun @flateartfightclub memperlihatkan foto formasi awan merah melingkar di atas peta Turki dan Suriah utara dengan tulisan, "#HAARP cloud; lalu berminggu-minggu kemudian; GEMPA BUMI DAN KEMATIAN besar-besaran,".
Postingan tersebut disukai lebih dari 100 orang dalam dua minggu. Postingan serupa yang diunggah oleh akun Instagram lain juga telah mengumpulkan banyak penyuka yang mendukung.
Para pengguna media sosial memang banyak yang mengaitkan bencana yang terjadi di Turki dan Suriah kemarin merupakan dampak dari proyek yang dilakukan AS bernama High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).
Perlu diketahui, melansir dari situs resminya, HAARP merupakan upaya ilmiah yang bertujuan untuk mempelajari sifat dan perilaku ionosfer. Menurut NASA, ionosfer membentang 50 hingga 400 mil di atas permukaan bumi, tepat di tepi ruang angkasa. Bersama dengan atmosfer atas yang netral, ionosfer membentuk batas antara atmosfer bawah Bumi (tempat kita bernapas) dan ruang hampa udara.
Ini bukan pertama kalinya HAARP menimbulkan konspirasi di sejumlah bencana yang terjadi di dunia. Sebelumnya, HAARP juga pernah diklaim menyebabkan gempa Haiti 2010, gempa bumi dan tsunami Chili 2010, serta gempa bumi dan tsunami Jepang pada 2011. Kemudian, longsor besar-besaran yang terjadi di Filipina tahun 2006 juga dikaitkan dengan HAARP.
Sehingga, pada isu terkait Gempa Turki kemarin, foto Awan Merah yang di klaim sebagai pemicu oleh HAARP menjadi perbincangan luas.
Namun, USAtoday menyatakan bahwa klaim tersebut tidak sesuai dengan fakta. Awan pada gambar tersebut dijelaskan merupakan awan lenticular, yang terbentuk saat udara mengalir di atas pegunungan, menurut para ahli. Formasi awan tidak dapat mempengaruhi atau memprediksi gempa bumi. Program Riset HAARP, tidak memiliki kemampuan untuk membuat atau mempengaruhi bencana alam.
Awan tersebut bukanlah buatan manusia dan tidak ada hubungannya dengan beberapa gempa bumi yang melanda Turki dan Suriah, yang menewaskan lebih dari 41.000 orang. Seorang ilmuwan atmosfer di California Institute of Technology, Anna Jaruga menjelaskan bahwa awan yang terlihat tidak biasa di Bursa, Turki pada 19 Januari 2023 tersebut merupakan Awan Lenticular. "Awan (Lenticular) biasanya terbentuk ketika angin kencang bertiup di sekitar pegunungan," terang Anna Jaruga. "Tidak mungkin HAARP menciptakan awan seperti itu," tambahnya.
Terlihat di langit Bursa, yang terletak di sebelah Gunung Uluda, awan tersebut dinyatakan tidak dapat mempengaruhi atau meramalkan gempa bumi 3 Februari. Seorang Profesor Ilmu Atmosfer di University of Melbourne, Todd Lane menegaskan hal tersebut, "Tidak ada hubungan antara gempa bumi dan pembentukan awan," kata Todd Lane. "Saran apa pun tentang tautan itu sepenuhnya salah," tegasnya.
Baca Juga: CEK FAKTA: FBI Memberikan Klaim Tanda Zodiak Paling Berbahaya
Jessica Mathews, Program Manager HAARP dalam laporan USAtoday pun membantah tudingan tersebut. "Gempa bumi baru-baru ini dan korban jiwa yang tragis di Turki menyoroti kehancuran yang dapat ditimbulkan oleh bencana alam. Peralatan penelitian di situs HAARP tidak dapat menciptakan atau memperkuat bencana alam," terangnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kayumanis Memanas! Warga Pasang Banner Tolak Keras Pembangunan PSEL Kota Bogor
-
Siap-Siap Pesta Musik Terbesar, PBB Bakal Gebrak Cibinong: Catat Waktunya!
-
Tiga Pegawai PTBA Raih Penghargaan Nasional Satyalancana Wira Karya dari Presiden
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Bank Sumsel Babel Bedah Rumah Ibu Ojol di Palembang, Nurmalinda Kini Punya Harapan Baru untuk 3 Anak
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Mencoba Tuak Dayak: Minuman Tradisional yang Hanya Keluar Saat Pesta Panen Gawai
-
Detik-detik Kebakaran Hebat di Pasar 16 Ilir Palembang Malam Ini, Pedagang Panik saat Muncul Kilatan
-
Misi Besar Bojan Hodak Lanjutkan Tren Positif Persib Bandung atas Persija Jakarta