- Massa Aksi Kamisan ke-907 menuntut keadilan HAM di depan Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 7 Mei 2026.
- Aksi tersebut menyoroti militerisasi serta mandeknya penuntasan kasus pelanggaran HAM berat, termasuk kasus aktivis buruh Marsinah.
- Koalisi masyarakat sipil menegaskan bahwa keterlibatan militer dalam ranah sipil merupakan ancaman serius bagi kualitas demokrasi Indonesia.
Suara.com - Gema tuntutan keadilan kembali memecah kesunyian di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2026). Memasuki aksi ke-907, massa Aksi Kamisan mengusung tema krusial, yakni "Militerisasi Terus Menguat, Rakyat Terus Menjadi Korban”.
Menjelang 28 tahun reformasi, aksi kali ini terasa lebih emosional karena bertepatan dengan momentum 33 tahun terbunuhnya aktivis buruh Marsinah pada 8 Mei 1993. Orasi pedas dari perwakilan Marsinah.id, Dian Septi, dan Perempuan Mahardika menyoroti mandeknya penuntasan kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia, termasuk "raibnya" berkas penyelidikan di Komnas HAM.
Dalam aksi Kamisan ke-907 ini, massa menggelar orasi, pembacaan puisi, penampilan seni dari Teater Rakyat Driyarkara, serta kuliah jalanan bersama akademisi STF Driyarkara, Feri Kurniawan.
"Marsinah diperkosa tepat setelah ia mendatangi Kodim dan melabrak militer, memprotes karena militer turut campur dalam perselisihan industrial. Marsinah melawan militerisme!" seru Dian di hadapan massa yang mengenakan pakaian hitam.
Ia mengkritik keras upaya penguasa saat ini yang dianggap mencoba menghapus sejarah kelam tersebut dengan membangun museum tanpa menuntaskan kasus hukumnya. Menurutnya, hal itu bukan bentuk penghormatan, melainkan upaya mengubur ingatan.
Kritik pedas terhadap "politik perut" dan sembako
Kritik tajam juga disampaikan Dian terhadap gaya kepemimpinan nasional yang dianggap meremehkan martabat kelas pekerja dengan iming-iming materi. Ia menyoroti bagaimana janji-janji kesejahteraan kerap hanya menjadi alat untuk membungkam daya kritis buruh.
"Seolah-olah harga diri buruh bisa dibeli dengan uang, seolah-olah martabat buruh bisa diluluhkan dengan sembako. Itu adalah penghinaan terbesar terhadap kelas pekerja," tegasnya.
Dian juga menyindir para pimpinan serikat pekerja yang kini dianggap "bermadu mesra" dengan kekuasaan demi jabatan komisaris atau menteri. Ia menegaskan bahwa sejarah membuktikan perubahan besar, seperti jatuhnya Orde Baru pada 1998 atau kenaikan upah signifikan pada 2010-2015, terjadi karena aksi kolektif di jalanan, bukan hasil lobi di meja makan penguasa.
"Perubahan itu tidak bisa datang dengan kita menerima gula-gula dari penguasa. Perubahan itu bisa datang karena kita berjuang, berserikat, melakukan perjuangan kolektif, aksi-aksi langsung," pungkasnya.
Baca Juga: Cari Keadilan! Keluarga Korban Kekerasan TNI Serahkan Kesimpulan Gugatan UU Peradilan Militer ke MK
Aksi Kamisan ke-907 ini juga diisi dengan orasi, pembacaan puisi, penampilan seni dari Teater Rakyat Driyarkara, serta kuliah jalanan oleh akademisi STF Driyarkara, Feri Kurniawan.
Koalisi masyarakat sipil yang terdiri dari JSKK, KontraS, LBH Jakarta, dan lainnya menegaskan bahwa militerisasi yang merambah ke ranah sipil, termasuk keterlibatan militer dalam program sipil dan pendidikan, dinilai sebagai pola yang terus dinormalisasi dan mengancam kualitas demokrasi Indonesia.
Aksi Kamisan ke-907 ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah bahwa selama keadilan belum ditegakkan, keluarga korban tidak akan diam dan akan terus melawan.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Cari Keadilan! Keluarga Korban Kekerasan TNI Serahkan Kesimpulan Gugatan UU Peradilan Militer ke MK
-
Membedah Pola Pikir Anggota BAIS TNI Penyiram Air Keras Andrie Yunus
-
Sidang Kasus Andrie Yunus, Eks Kepala BAIS: Kalau Dipaksa ke Peradilan Umum Bisa Berujung Impunitas
-
Motif 'Sakit Hati' Gugur di Persidangan! TAUD: Serangan ke Andrie Yunus Itu Operasi, Bukan Dendam
-
Militer AS Punya Program Lumba-Lumba Militer, Isu di Selat Hormuz Jadi Sorotan
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Sekap dan Siksa Yuvita Pakai Helm, Sajam hingga Rokok: Taufik Hidayat Ternyata Penjahat Kambuhan!
-
Jokowi Safari Pakai Kemeja PSI, Golkar Santai Tak Khawatir Pemilih Migrasi
-
Jakarta Rangkul Konten Kreator untuk Jembatani Informasi Ibu Kota ke Warga
-
Empat Karyawan di Jaksel Sekap Teman Wanita Gara-gara Urusan Kantor, Begini Kronologinya
-
KPK Endus Aliran Duit Haram di Loket Imigrasi Bali, Biro Jasa Mulai 'Bernyanyi'
-
Kapolda Jabar: Taufik Hidayat Sangat Sadis, Harus Dihukum Maksimal 12 Tahun Penjara!
-
Prabowo Hadiri Konvensi Sains, Beri Taklimat di Hadapan 2.600 Akademisi
-
Identik dengan Gajah, Analis Bongkar Alasan Jokowi Pilih Lampung Jadi Target Safari Politik
-
Kedok Game Keluarga! Disney Timezone di Jakarta Ternyata Sarang Judi Beromzet Rp2,1 Miliar Sebulan
-
Guntur Romli Sebut Safari Politik Jokowi Demi Gibran di 2029