TANTRUM - Bencana alam kerap kali datang tanpa diduga. Kadang sebagian orang, menganggap itu adalah sebuah peringatan dari Maha Kuasa.
Namun secara keilmuan, hal itu merupakan penyeimbangan alam terhadap sesuatu yang tidak stabil. Alam merelaksasi dirinya, agar semuanya mendapatkan porsi yang sama.
Penyebabnya antara lain ulah manusia itu sendiri yang sering kali serakah dalam memenuhi kebutuhan kehidupan. Untuk memenuhi hajatnya, selalu mengekplorasi alam dengan porsi yang tidak tepat.
Seperti pembangunan pemukiman, sarana umum, kebutuhan perhiasan, sandang, pangan dan papan. Semuanya dilakukan tanpa menghiraukan keseimbangan alam.
Saat alam menyelaraskan dirinya, manusia menudingnya sebagai bencana. Sehingga sekarang ini diperlukan, pengertian soal bencana itu sendiri agar berbagai kalangan masyarakat mau hidup selaras dengan alam. Tak terkecuali untuk anak - anak.
Anak - anak perlu mendapatkan perhatian lebih soal mengantisipasi datangnya bencana alam semisal banjir, gempa bumi, gunung meletus dan sejenisnya.
Alasannya sederhana, anak - anak bersama lansia merupakan kelompok yang rentan menjadi korban saat terjadinya bencana alam.
Penyampaian soal antisipasi bencana terhadap anak - anak ini, dilakukan dengan bahasa tutur dan dimengerti oleh mereka.
Dongeng ! Ya, benar dengan mendongeng soal antisipasi atau mitigasi bencana menjadi medium yang jitu disampaikan ke anak - anak.
Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Pahlawan Bencana. Mereka dengan berkelanjutan mengkampanyekan mitigasi bencana melalui medium cerita bergambar atau dongeng kepada penerus bangsa.
"Jadi tarafnya hanya sebatas kesadaran terhadap kebencanaan, karena kita berpikir memang tahapan pasca bencana itu sudah banyak yang bergerak ke arah sana. Tapi saat pra bencananya sendiri ini masih banyak orang-orang yang belum tahu harus seperti apa dan sosialisasi tahapan sebelum bencana itu seperti apa," kata Priyangga Dyatmika beberapa waktu lalu ditulis Bandung, Kamis, 19 Mei 2022.
Priyangga menuturkan komunitasnya banyak menemukan kasus sebagian masyarakat panik saat terjadinya bencana. Itu disebabkan kata Priyangga, ketidaktahuan untuk bertindak saat terjadinya bencana karena minimnya informasi soal mitigasi terutama bagi anak - anak.
Anak harus diberikan informasi, soal pentingnya hidup berdampingan alam yang tidak terlepas dari kejadian bencana alam. Apalagi di Kota Bandung sendiri, potensi terjadinya bencana alam sangat tinggi.
Priyangga mencontohkan di daerah Utara Kota Bandung terletak Gunung Api Tangkuban Parahu, di bagian Selatan setiap tahun dipastikan banjir, serta sesar aktif Lembang. Sehingga dianggap perlu mensosialisasikan kesiapsiagaan bencana sejak dini dengan mengunjungi sekolah.
"Dikenalkan apa itu bencana, simulasi gempa, karena kita tahu hampir di seluruh Indonesia tidak ada daerah yang rawan gempa. Tapi berdasarkan pengalaman saya pribadi saat sekolah, belum pernah diberikan simulasi gempa. Beda dengan negara - negara lain yang sudah lebih dulu mengenalkan hal ini," kata Priyangga.
Berita Terkait
-
7 WNI Terombang Ambing di Perairan Zhuhai China, Terjebak di Kapal MV Star Janet
-
4 Rekomendasi Rice Cooker Cosmos untuk Anak Kos, Hemat Listrik dan Ringkas
-
Kemlu Pastikan Seluruh WNI Selamat Pasca Gempa Bumi Dahsyat Kolombia
-
Ayah di Jakarta Perkosa Anak Kandung Selama 4 Tahun, Terkuak Usai Korban Lapor Guru BK
-
Chernobyl: Kisah Tragis Bencana Nuklir dan Perjuangan Mengungkap Kebenaran
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Kabut Asap Selimuti Pekanbaru, BMKG Ungkap Penyebabnya
-
Birokrasi di Era Digital: Saat Keruwetan Administrasi Pindah ke Layar
-
GEMPAR di Pasar Ngino, Yuk Nonton Jathilan Sambil Nglarisi Pedagang!
-
Korban Kekerasan Dipaksa Bayar Biaya Visum, Zakat Diusulkan Jadi Solusi Dana Darurat
-
The Judge from Hell: Jika Hukum Gagal, Haruskah Keadilan Dicari di Neraka?
-
NTB Pakai Cadangan Pangan Bantu Korban Gempa di NTT
-
Satelit Copernicus Uni Eropa Siap Bantu Operasi Pencarian Korban Gempa NTT
-
Pekanbaru Cerah Berawan Hari Ini, Padang Hujan Intensitas Ringan
-
Game Over: Menemukan Titik Temu Antara Seadanya dan Seandainya
-
Detik-detik Pencuri Alat Tower Dikejar Warga Terobos Polres Dumai