TANTRUM - Sore yang mendung itu, sayup - sayup terdengar suara alat musik ritmis dan seruling tradisional di Sekolah Luar Biasa BC Yayasan Pendidikan dan Latihan Anak Berkelainan (SLB BC YPLAB) Wartawan Bandung.
Pusat suara berada di sudut sekolah yang terletak di Jalan Komplek Wartawan IV Nomor 31a, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat.
Saat didekati, suara dua alat musik itu semakin jelas berasal dari alat pemutar lagu dengan pengeras suara. Terdengar pula suara lantang instruksi mengarahkan sebuah gerakan. Pencak silat, jika dilihat sekilas dari gerakannya.
Tampak dari belakang pekarangan yang tidak begitu luas, sekelompok remaja bahkan anak - anak bergerak rapi, mengikuti arahan seorang pelatih di depannya. Namun saat mengitari lokasi latihan pencak silat itu, baru terlihat pesertanya adalah kelompok disabilitas.
“Niat awalnya adalah sebuah kekecewaan dengan harga terapis anak - anak difabel yang begitu mahal. Maka dari itu saya berpikir keras dan mencari ide bagaimana caranya menyatukan sebuah terapi, seni dan olahraga,” kata Dedy Ardian ditulis Bandung, Selasa, 31 Mei 2022.
Pilihan akhir, jatuh pada bela diri pencak silat ucap Dedy. Pada dasarnya, Dedy bukanlah pelatih salah satu bela diri tradisional Indonesia itu. Dia hanya seorang pengajar di sebuah sekolah luar biasa di Kota Bandung.
Berbekal modal nekad, pengabdian dan rasa kecewa terhadap pelayanan terapis bagi disabilitas, akhirnya Dedy mulai berguru perlahan dibantu oleh istrinya. Alhasil, beberapa jurus dan gerakan pencak silat dicoba disederhanakan sesuai kemampuan mereka.
“Saya yang langsung ngelatihnya. Jurus - jurus dan rangkaian gerak, saya menyadapnya dari istri saya. Nama istri saya, Iim Komalawati kebetulan salah satu pewaris perguruan pencak silat Simpay Wargi Budhi Kancana,” tutur Dedy.
Dedy, merupakan contoh salah seorang warga Bandung yang melayangkan protes dengan tindakan nyata, untuk menghasilkan solusi kendala yang dihadapi oleh kelompok disabilitas.
Malas, mungkin itu kata yang tepat bagi seorang Dedy, melayangkan protes dengan bersilat lidah tanpa bukti.
Padahal, peran negara sangat penting untuk mewujudkan keadilan bagi para penyandang disabilitas agar mendapat jaminan fasilitas yang sama. Sehingga tidak ada lagi diskriminasi karena perbedaan tersebut.
Sebagaimana dikatakan dalam UU Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 disebutkan bahwa Sistem Pendidikan Nasional menekankan hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan jenjang, jalur, satuan, bakat, minat, dan kemampuannya tanpa diskriminasi.
“Pada hakikatnya setiap individu manusia memiliki potensi yang berbeda-beda. Setiap individu tidak akan mempunyai potensi yang sama persis seperti individu yang lain. Dalam diri individu sudah terdapat potensi terpendam yang dapat dimaksimalkan tergantung bagaimana peran eksternal untuk memaksimalkan potensi individu tersebut,” ungkap Dedy.
Agar potensi terpendam kelompok disabilitas dapat disalurkan lanjut Dedy, pada tanggal 17 Februari 2018 dibentuklah Asosiasi Pencak Silat Disailitas (APSIDI). Dedy bilang asosiasi itu dibentuk dari aktifitas anak-anak disabilitas yang mempunyai kemampuan di bidang seni.
Dedy menjelaskan di tanggal yang sama, anak-anak disabilitas mulai dilatih mengenal seni pencak silat yang ada di sekolah, dan dalam perjalanannya APSIDI mulai memperlihatkan denyut perkembangannya. APSIDI ini hadir karena pada hakikatnya setiap individu manusia memiliki potensi yang berbeda-beda.
Berita Terkait
-
Bojan Hodak Beri Jawaban Soal Status Febri Hariyadi di Persib Bandung
-
Persib Rekrut Sergio Castel, Sosok Ini Tergeser dari Tim
-
Cetak Gol ke Gawang Malut United, Saddi Ramdani Tetap Merendah
-
Kalahkan Malut United, Bojan Akui di Babak Pertama Persib Kesulitan
-
Media Belanda Nilai Kehadiran Mauro Zijlstra Bagian Rencana Persija Kudeta Persib Bandung
Terpopuler
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
Mensos Gus Ipul: Digitalisasi Bansos Signifikan Tekan Kesalahan Data
-
Kemensos Rehabilitasi 7 PMI Korban TPPO di Turki
-
Sulis Jadi Simbol Perempuan Muslim Berdaya Fatayat NU
-
WN China Tersangka Kasus Tambang Emas Kabur, Ditangkap Imigrasi di Entikong
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
Soroti Kematian Bocah SD di NTT, Hasto PDIP: Bangunlah Jiwanya, Tapi Anak Tak Bisa Beli Pena
-
Uang Jatah Rp7 Miliar Tiap Bulan: Inilah Alur Suap Eksklusif PT Blueray ke Oknum Bea Cukai!
-
Profil Liu Jianqiao Wasit Cina di Final Piala Asia Futsal 2026 Banyak Kontroversi
-
Gus Ipul Ajak Para Kades Tindaklanjuti Arahan Presiden Kawal Data Kemiskinan
-
Menstruasi itu Normal: Perempuan dengan Segala Drama 'Tamu Bulanannya'