/
Jum'at, 17 Juni 2022 | 12:23 WIB
suara.com

TANTRUM - Digitalisasi diyakini sebagai salah satu kunci masa depan ekonomi Indonesia pascapandemi COVID-19. Bahkan, digitalisasi berkembang amat cepat di Indonesia dan pemanfaatan digitalisasi penting untuk pengembangan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan di masa depan.

"Kami ingin membawa digitalisasi Indonesia ke ASEAN, lalu ke ranah global, pada G20 di Indonesia,"  Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat, 17 Juni 2022.

Digitalisasi, utamanya digitalisasi pembayaran adalah salah satu dari enam agenda prioritas jalur keuangan pada Presidensi Indonesia di G20 2022 pada Juli mendatang. Poin tersebut ditegaskannya saat menghadiri Indonesia-Singapore Business Forum 2022 di Singapura, Selasa (14/6) lalu.

Saat ini, Indonesia dan negara-negara lain di ASEAN di antaranya sedang bersiap mengembangkan inisiatif sistem pembayaran lintas batas negara, termasuk dengan melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). BI mencatat sebanyak 18 juta UMKM di Indonesia telah terdigitalisasi.

"18 juta adalah angka yang besar, tapi sebetulnya kecil, karena kita memiliki 65 juta UMKM yang perlu dihubungkan (secara digital)," ungkapnya.

Perry menyampaikan, Indonesia memiliki pasar ritel yang amat besar dan perlu dirangkul untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi.

CEO dan co-founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan, konsumen di Indonesia menggunakan platform e-commerce untuk membeli kebutuhan sehari-hari baik dari UMKM maupun perusahaan-perusahaan besar selama pandemi COVID-19.

Berdasarkan penelitian pada tahun 2021 yang dilakukan oleh Blibli dengan Boston Consulting Group dan Kompas, UMKM yang beralih ke online bisa memiliki pendapatan 1,1 kali lebih tinggi dari UMKM yang hanya beroperasi offline.

Sementara UMKM yang online juga 2,1 kali lebih mungkin untuk menjual berbagai produk dalam skala nasional dan 4,6 kali lebih mungkin untuk mengekspor produknya ke luar negeri.

Namun berdasarkan studi Sirclo, 74,5 persen konsumen masih berbelanja baik offline dan online selama pandemi. Sehingga Kusomo melihat masa depan ritel di era pasca pandemi sebagai integrasi antara kanal online dan offline, atau omnichannel.

CEO Tiket.com George Hendrata menyatakan, pelatihan untuk sumber daya manusia masih diperlukan untuk merealisasikan potensi digitalisasi. 

"Begitu juga dengan kepala Deputi Teknologi dan Konsumen untuk Temasek Fock Wai Hoong yang menyampaikan bahwa talenta sumber daya manusia memang menjadi hambatan besar untuk perkembangan teknologi," ungkapnya.

Load More