TANTRUM - Lavita Nuraviana Rizalputri menjadi orang pertama yang lulus dari Program Studi Magister Teknologi Nano ITB, bahkan dengan predikat cum laude. Apa yang dimaksud teknologi nano, karena ilmu ini terdengar baru? Dari Lavitia, kita tahu bahwa teknologi nano merupakan ilmu yang fokusnya ke bidang riset.
Lavita mendalami pendidikan S2 di tahun 2020 dalam kondisi pandemi yang serba daring dan penuh keterbatasan tidak menghalangi asanya untuk melakukan penelitian dan menyelesaikan studinya.
“Pas pertama masuk udah full online (kegiatan belajarnya), ke laboratorium juga ga bisa, sedangkan Teknologi Nano ini fokusnya ke riset. Jadi harus menyesuaikan kondisi saat itu. Untungnya setelah satu semester ada kebijakan diperbolehkan masuk lab untuk pengerjaan tesis, jadi untuk penelitian bisa balik normal lagi meskipun kelas tetap online,” cerita Lavita, tentang kesulitan yang dihadapi selama menempuh pendidikan, dikutip dari laman ITB, Minggu (31/7/2022).
Lavita menjalani prosesi Wisuda Ketiga ITB Tahun Akademik 2021/2022 yang digelar pada Sabtu (23/07/2022) lalu. Dalam prosesi wisuda, Lavita Nur’aviana Rizalputri terpilih untuk mewakili 2.049 wisudawan lainnya dalam menyampaikan kata-kata perpisahan serta memimpin Salam Ganesa pada acara Sidang Terbuka tersebut.
Lavita mulai mengenal dunia nano material saat terlibat dalam riset bersama dosen ITB selama enam bulan pasca kelulusannya dari Program Studi Sarjana Teknik Biomedis ITB. Di sana, ia bekerja sama dengan berbagai program studi, profesi, universitas, bahkan industri sehingga kesadaran akan pentingnya kolaborasi multidisiplin pun muncul. Bersamaan dengan itu, ITB membuka Program Studi Magister Teknologi Nano untuk pertama kalinya di tahun 2020 yang mengusung konsep kolaborasi.
“Prodi ini berada langsung di bawah Sekolah Pascasarjana, gak di bawah Fakultas/Sekolah tertentu karena dosen-dosennya sendiri berasal dari berbagai fakultas. Di sini kita boleh riset apapun. Selain itu, konsep kolaborasi juga ditekankan banget. Jadi aku tertarik banget karena menurutku prodi di Indonesia kebanyakan risetnya selinear dengan bidangnya, sementara di prodi ini kita bisa riset ke berbagai bidang keilmuan,” jelasnya.
Dalam tesisnya, Lavita mencoba mengembangkan kinerja sebuah sensor bernama screen printed carbon electrode untuk mendeteksi dopamin di dalam tubuh tanpa menyakiti tubuh. Ia menggunakan emas berukuran nano sebagai material yang bisa meningkatkan performa sensor tersebut. Hasil penelitian ini tentu sangat bermanfaat mengingat dopamin bisa mengindikasi banyak penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson, sementara cara yang selama ini dilakukan untuk memeriksanya dapat dibilang menyakitkan bagi tubuh.
Setelah menyandang gelar baru, perempuan asal Bandung ini berencana kembali melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi karena ingin memperdalam pengetahuan yang telah ia dapat sebelumnya dan kesukaannya terhadap riset. Ia pun masih terbuka akan opsi-opsi yang ada apakah akan melanjutkan pendidikan di dalam atau luar negeri.
Pada sesi wawancara dengan Tim Reporter ITB, Lavita juga memberikan beberapa tips bagi teman-teman mahasiswa yang saat ini masih berjuang untuk menyelesaikan pendidikannya di ITB.
Baca Juga: Kemenperin Nilai PP 109/2012 Masih Relevan dengan Industri Hasil Tembakau
“Dalam kondisi apapun (baik pembelajaran online maupun offline), kita lihat dari sisi baiknya aja biar kita bisa memanfaatkan situasi yang ada dan cari cara bagaimana kita bisa nyaman dalam belajar. Misalnya pas online ketika dosen menjelaskan dan ada hal yang kita gak paham, kita bisa langsung searching untuk bisa dibaca setelah selesai kelas. Jangan lupa juga untuk reach teman-teman seperjuangan kita, jadi bisa bertanya kalau ada yang kurang ngerti.”
Ia pun memberikan pesan kepada para wisudawan maupun mahasiswa ITB untuk lebih terbuka dalam melihat peluang-peluang yang ada di sekitar kita. Peluang tersebut salah satunya dapat hadir dalam bentuk kerja sama dan kolaborasi. Menurutnya, bekerja sama dengan orang lain membuat kita mendapatkan banyak pembelajaran. Karena itu, sebaiknya kita tidak menutup diri dari kerja sama serta menurunkan arogansi kita.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123