TANTRUM - Penyakit cacar monyet atau monkeypox disebutkan tidak hanya ditularkan oleh monyet. Namun bisa juga ditularkan oleh hewan pengerat lain di hutan, seperti salah satunya tikus.
Menurut Djatnika Setiabudi, dokter spesialis anak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, meski mayoritas penyebarannya di hutan tetapi sebagian binatang pengerat yang juga medium penyebaran virus diburu oleh manusia.
Sehingga yang harus diantisipasi kata Djatnika, dugaan adanya kontak degan hewan tersebut. Besar kemungkinan paparan virus akan meluas jika tidak diwaspadai.
"Misalnya kena gigitan atau cakarannya. Atau ada orang - orang yang mungkin berburu dapat hewan tersebut, kemudian disembelih, dibakar, dimakan ramai - ramai tapi tidak masak, tidak matang. Nah itu, sementara si binatang itu ada virus ini. Nah itu sangat potensial untuk menularkan," kata Djatnika, ditulis Minggu, 21 Agustus 2022.
Namun Djatnika meminta kepada masyarakat agar tidak berkesimpulan, seluruh hewan pengerat yang berasal dari hutan dipastikan terjangkit monkeypox. Karena selama tidak terjangkit virus tersebut, maka hewan pengerat dari hutan itu dianggap aman.
Seperti hewan yang berada di kebun binatang ujar Djatnika, jika tidak ada dugaan penyebaran virus maka tidak akan bermasalah.
Belum lagi dengan pemeriksaan kesehatan hewan oleh dokter di kebun binatang secara berkala telah dilakukan.
"Dokter hewan juga secar rutin memeriksa hewan - hewannya. Kemudian juga petugas, saya yakin juga kesehatannya sangat dijaga mungkin juga nutrisi, makanan dan tentu saja nanti kalau ada satu hewan yang dicurigai, apalagi sekarang heboh ini barangkali dokter hewan disana juga akan melakukan tindakan pencegahan khsusunya ke manusia," ujar Djatnika.
Sementara untuk hewan yang sudah biasa dipelihara di rumah atau diluar kebun binatang sebut Djatnika, kemungkinan besar tidak akan terjangkit virus monkeypox. Sehingga aman untuk dilakukan kontak dengan manusia.
Baca Juga: Siapa Salim Jindan Al Habsyi, Cicit Mbah Priok Penantang Pesulap Merah?
Syarat terjangkitnya monkeypox adalah adanya hewan yang positif terjangkit virus, melakukan kontak langsung dengan hewan positif bervirus, memakan dagingnya dengan diolah tidak maksimal serta terkena cairan infeksi atau ludah hewan dengan jarak satu meter dari hewan tersebut.
Monkeypox pertama kali terlihat di monyet laboratorium pada 1958, karena itu dinamakan monkeypox. Dan monyet termasuk di antara sejumlah spesies - termasuk manusia, anjing padang rumput, tikus, dan tupai - yang dapat terinfeksi virus ini.
Namun, mereka tidak dianggap sebagai reservoir, sumber alami virus. Para ilmuwan masih berusaha mengidentifikasi reservoir monkeypox dan mengapa penyakit yang jarang terlihat selama beberapa dekade ini tampaknya menjadi lebih umum.
Sebelumnya organisasi kesehatan dunia, WHO, telah mengganti nama penyakit cacar monyet alias monkeypox menjadi clades virus. Itu dilakukan karena maraknya pembataian hewan monyet.
Sampai saat ini dikabarkan di Jawa Barat, belum ditemukan adanya kasus penyebaran penyakit monkeypox alias clades virus.
Tag
Berita Terkait
-
HUT AJI Bandung: Jurnalis, Mahasiswa, dan Warga Sipil di Menolak RKUHP
-
Cacar Monyet Terkonfirmasi di Indonesia, IDI Intensifkan Koordinasi Lintas Daerah
-
7 Tempat Wisata di Bandung yang Viral di TikTok, Jadi Rekomendasi!
-
Tangkal Gejala Awal Cacar Monyet, Konsumsi Makanan Bergizi agar Daya Tahan Tubuh Meningkat
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Netanyahu Siap Gunakan Bom Nuklir? Eks Kolonel AS Lawrence Wilkerson Bongkar Skenario Kiamat Iran
- 10 Singkatan THR Lucu yang Bikin Ngakak, Bukan Tunjangan Hari Raya!
- 35 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 11 Maret 2026: Klaim MP40, Diamond, dan Sayap Ungu
Pilihan
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
-
Detik-Detik Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
Terkini
-
Cara Cek NISN Online untuk SPMB 2026, Awas Jangan Sampai Salah
-
GMNI Kecam Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus, Minta Prabowo dan Kapolri Bertindak
-
Statistik Kevin Diks saat Jadi Kapten dan Bantu Monchengladbach Hajar St. Pauli
-
Eks Asisten Shin Tae-yong Bongkar Alasan Elkan Baggott Sempat Hilang dari Timnas Indonesia
-
Cara Mengatur Keuangan Setelah Lebaran Agar Tidak Makan Mie Instan
-
Meta Hapus 159 Juta Iklan Penipuan dan 150 Ribu Akun Scam, Kolaborasi dengan Polri
-
Panduan Jika Tertinggal Salat Idulfitri, Ketahui agar Tidak Panik saat Terlambat Datang
-
Spirit Inklusivitas Ramadan, Khofifah Gelar Khotmil Qur'an Bersama Perangkat Daerah & Komunitas Tuli
-
Usai 7 Tahun Vakum, Son Dam Bi Siap Comeback Akting Lewat Drama Pendek Baru
-
Antara Hidup dan Mati di Yahukimo: Kepulangan Pilu Lima Warga Sumedang yang Terjebak Janji Palsu