TANTRUM - Psikolog forensik Reza Indragiri menduga Putri Candrawathi menjalani siasat malingering.
Istilah ini diartikan sebagai orang yang melebih-lebihkan kondisi fisik maupun mental yang tengah dialami.
Misalnya berpura-pura sakit demi menghindari tanggung jawab, pekerjaan, sampai pengadilan hukum. Mereka yang melakukan malingering juga dikaitkan dengan perilaku mencari perhatian.
Dugaan Reza berawal dari sikap Putri saat tidak memberikan keterangan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) beberapa waktu lalu.
Padahal, dirinya mengaku sebagai korban pelecehan seksual yang membutuhkan perlindungan.
"Sakitnya PC ternyata bersifat selektif dan insidental. Misalnya saat diperiksa Komnas Perempuan, PC bisa bercerita lengkap. Tapi di hadapan LPSK, PC malah diam seribu bahasa. LPSK sampai balik kanan dengan tangan hampa. Padahal semestinya PC paling terbuka ke LPSK," kata Reza dicuplik dari detikcom, Rabu, 7 September 2022.
"Orang yang mengaku dijahati secara seksual, dan mengalami penderitaan, tentu ingin memperoleh perlindungan. LPSK-lah lembaga pemberi perlindungan itu. Tapi PC kok malah tidak kooperatif? Ini sakit betulan atau cuma pura-pura sakit?," katanya.
Karenanya, Reza menilai tidak ada kejadian pelecehan seksual yang sebenarnya dialami Putri.
Munculnya dugaan kuat pelecehan seksual dari Putri Candrawathi (PC) yang belakangan diungkap Komnas Perempuan disebutnya hanya akan menguntungkan pihak PC, sementara almarhum Brigadir J sudah tidak bisa memberikan kesaksian.
Baca Juga: Waspadalah, Jejak Digitalmu di Media Sosial Jadi Pertimbangan Diterima Tidaknya Melamar Kerja
"Dia juga bisa jadikan pernyataan Komnas sebagai bahan membela diri di persidangan nanti. Termasuk bahkan membela diri dengan harapan bebas murni," terangnya.
Sayangnya, hal semacam ini tidak efektif jika diidentifikasi melalui lie detector. Perangkat lie detector disebut polygraph dan bekerja seperti mesin pencatat data, alat ini juga mengukur keringat di ujung jari daerah yang paling berpori di tubuh.
Reza menjelaskan banyak orang yang kerap salah menafsirkan lantaran alat tersebut fokus pada perubahan fisiologis tubuh derajat tertentu yang menjadi indikasi kebohongan.
"Ampun deh kalau masih berputar di situ. Tidak efektif, bahkan pseudoscience saja itu. Kapolri tekankan harus saintifik loh," pungkas dia.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
Terkini
-
Transformasi Gerai Donat: Menu Makin Variatif dan Punya Teknologi Self-Ordering
-
ILUNI UI Soroti Risiko Hukum di Balik Transformasi BUMN: Era Baru, Tantangan Baru
-
Belanja Hemat April 2026: 17 Produk Indomaret Diskon Besar, Ada yang di Bawah Rp10 Ribu
-
Dari Elit BUMN ke Viral di Tikungan Maut, Siapa 3 Komisaris Pusri? Ada Arteria Dahlan
-
Laga Hidup Mati di GOR Jatidiri: Siapa yang Akan Melaju ke Puncak Proliga 2026?
-
Bogor Diguyur Hujan Lebat, Bendung Katulampa Masih Aman di Level Siaga 4
-
Sebut Uang yang Disita Tabungan Arisan Istri, Ono Surono Buka Suara Soal Kasus Suap Bekasi
-
H-7 Keberangkatan, Pemerintah: Persiapan Haji 2026 Hampir Rampung 100 Persen
-
Dari Layar Kaca ke Lapangan: Ambisi Eberechi Eze Wujudkan Mimpi Liga Champions di Arsenal
-
Kasus Pelecehan Seksual FH UI: Bukti Dunia Pendidikan Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja?