Dampak stroke di lingkungan keluarga adalah atmosfer sosial dan ekonomi yang berpihak pada anggota keluarga.
Permasalahan sosial seperti kurangnya sarana kesehatan di lingkungan sekitar dan kurangnya pengetahuan mengenai penyakit stroke.
Kemudian faktor ekonomi keluarga yang tidak dapat membeli obat untuk penyakit yang diderita juga menjadi salah satu penghalang.
Selain dampak sosial dan ekonomi, riwayat penyakit pada salah satu anggota keluarga sangat mengikat pada penyakit stroke. Berikut faktor resiko yang berdampingan dengan riwayat stroke yaitu:
1. Usia
Usia menjadi faktor utama seseorang terserang penyakit stroke. Semakin tua usia anda, resiko stroke akan semakin meningkat ditambah dengan riwayat tekanan darah tinggi atau kolesterol yang tidak terkontrol. Usia kritis penyakit stroke terjadi pada usia 65.
2. Jenis kelamin
Laki-laki lebih dominan terserang penyakit stroke daripada wanita.
3. Merokok
Baca Juga: Hindari Pertengkaran! Ridwan Kamil Ajak Mahasiswa dan Pelajar Perkuat Persatuan
Pengaruh rokok selain mengganggu aktivitas paru-paru, zat kimia rokok dapat mengurangi produksi oksigen di darah yang dialirkan ke otak, sehingga otak akan kekurangan pasokan oksigen.
Zat kimia pada rokok beresiko menyebabkan rusaknya dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan aterosklerosis. Darah akan mudah menggumpal dan menganggu sirkulasi ke otak dan organ tubuh lainnya.
4. Obesitas
Obesitas menjadi masalah yang memiliki presentasi stroke yang sangat tinggi. Sesuai indeks massa tubuh atau IMT, nilai obesitas terhitung pada angka lebih dari 25.
Kita sering melihat satu keluarga yang memiliki postur tubuh yang sama-sama besar, mulai dari ayah, ibu, hingga ke anak-anaknya.
Pola makan yang buruk akan mengganggu metabolisme tubuh dan memicu penyakit Stroke, Diabetes, dan Hipertensi yang cukup tinggi.
5. Kurangnya Berolahraga
Malas berolahraga memicu berbagai penyakit, terutama Stroke. Olahraga memiliki peran dalam meningkatkan metabolisme dan sirkulasi, juga memperkuat daya tahan tubuh anda.
Selain faktor resiko diatas, terdapat pula resiko stroke yang disebabkan oleh riwayat penyakit yang diderita dari salah satu anggota keluarga. Penyakitnya diantara lain:
- Hipertensi
Tekanan darah yang tinggi menjadi faktor utama yang memicu penyakit Stroke. Sesuai AHA 2017 Guideline of Blood Pressure, seseorang dikategorikan memiliki hipertensi bila tekanan sistolik 130 mmHg ke atas, dan diastolik 90 mmHg ke atas.
Saat seseorang mengalami Hipertensi, tekanan pada pembuluh darah yang membawa darah ke otak akan meningkat dan pembuluh darah sulit menahan tekanan tersebut, alhasil pembuluh darah di otak akan pecah yang menyebabkan penyempitan ruang otak dan kerusakan bagian-bagian otak.
Studi telah mempelajari mengenai riwayat hipertensi pada anggota keluarga. Ayah dengan Hipertensi memiliki resiko Hipertensi pada anak-anaknya.
Faktor keturunan ini akan terlihat seiring anaknya beranjak dewasa dan memasuki usia kerentanan Hipertensi.
Gaya hidup dan kesehatan anak yang kurang baik dapat meningkatkan resiko Hipertensi pada usia dewasa. Jika tidak dikontrol makan persentase penyakit Stroke juga dapat meningkat.
- Kolesterol tinggi
Tingginya kadar Kolesterol dalam tubuh akan menggumpalkan darah sehingga memicu penyumbatan aliran di pembuluh darah di otak.
Inilah yang menyebabkan Stroke Iskemik atau Stroke akibat penyempitan pembuluh darah sehingga pasokan darah ke otak akan berkurang.
Riwayat Kolesterol tinggi sering terjadi pada laki-laki, dengan menurunnya kadar Kolesterol baik atau HDL. Kolesterl jahat atau LDL meningkatkan resiko Aterosklerosis.
- Diabetes
Penyakit Diabetes tentu dapat menjadi pemicu lain penyakit Stroke. Penyakit ini dapat terjadi bersamaan dengan Hipertensi atau Kolesterol Tinggi.
Meningkatnya kadar gula dalam darah karena kerusakan insulin di tubuh memicu terbentuknya lemak dan gumpalan darah.
Gumpalan lemak dan darah akan mengganggu jalan masuk oksigen ke otak sehingga menyebabkan Stroke. Diabetes dapat diobati, tetapi keberadaan penyakit ini dapat memicu persentase stroke pada salah satu anggota keluarga.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan