/
Selasa, 20 September 2022 | 21:11 WIB
Refly Harun meduga ada upaya untuk memebaskan Ferdy Sambo dari jerat ancaman hukuman mati.

SuaraTasikmalaya.id – Ada yang menjadi sorotan khusus pada kasus kematian Brigadir J.
 
Seperti diketahui lima tersangka telah ditetapkan dengan dugaan terlibat dalam kasus pembunuhan berencana pada Brigadir J.
 
Melihat cara kerja di kasus pembunuhan tersebut, Mantan Staf Ahli Mahkamah Konstitusi, Refly Harun menduga jika masalah sebenarnya bukan pada dugaan pelecehan.
 
Refly Harun awalnya menyinggung tempat kejadian perkara dugaan pelecehan seksual di Duren Tiga, Jakarta Selatan.
 
Namun, lokasi pelecehan bergeser setelah istri Sambo, Putri Candrawathi mengatakan jika kasus pelecehan terjadi di Magelang.
 
Dalam dugaan pelecehan, Refly Harun mengatakan, Bripka RR tidak melihat Putri Candrawathi menangis.
 
"Bripka RR awalnya berada di pihak dia (Ferdy Sambo),” kata Refy Harun.
 
“Tapi, sekarang dia (Bripka RR) mengatakan tidak melihat Putri menangis. Justru yang menangis adalah Susi," ujarnya.
 
Bripka RR justru hanya menyaksikan pertengkaran Kuat Ma’ruf dan Brigadir J.
 
"Yang dilihat justru ketegangan antara Kuat Ma’ruf dan Brigadir J,” katanya. 
 
“Setelah itu Brigadir J yang dia antar ke kamar Putri (istri Ferdy Sambo),” katanya lagi. 
 
“Putri (istri Ferdy Sambo) cuma tidur-tiduran saja," kata Refly Harun menambahkan.
 
Bripka RR memberi keterangan, Brigadir J masuk kamar istri Ferdy Sambi setelah dipanggil.
 
Mantan Komisaris PT Jasa Marga itu juga menyinggung dugaan perselingkuhan antara Kuat Ma'ruf dan Putri Candrawathi maupun Kuat Ma'ruf dan Susi.
 
Kata Refly Harus, semakin lama motif pembunuhan Brigadir J semakin tidak jelas.
 
Refly Harun lantas memiliki penilaian jika dirinya tidak menampik kemungkinan dengan aktivitas ilegal Ferdy Sambo seperti judi online dan narkoba.
 
Refly Harus menduga, Brigadir J adalah sosok yang mengetahui semua aktivitas pimpinannya itu.
 
"Tapi, kita tidak pernah mendapatkan konfirmasi apapun dari timsus mengenai kemungkinan motif tersebut," tuturnya.
 
"Padahal ada atau tidak ada motif itu, maka fenomena Satgasus ini kan seharusnya dilakukan audit, tidak dibiarkan begitu saja,” katanya. 

Pasukan "elit" pimpinan Ferdy Sambo yang tergabung dalam Satgasus ini dikatakan Refly Harun seolah-olah hilang begitu saja.
 
“Dibubarkan, tanpa audit sama sekali, dan seolah-olah the game is over. Kan seharusnya tidak begitu," tegas Refly Harun.
 
Rapat di mabes
 
Ferdy Sambo rupanya sempat memimpin anak buahnya setelah beberapa jam menembak mati Brigadir J.
 
Tidak diketahui secara pasti apakah jasad Brigadir J dibiarkan begitu saja saat Ferdy Sambo memimpin anak buahnya bergeser ka satu tempat.
 
Rupanya di tempat tersebut, Ferdy Sambo merencanakan semuanya.
 
Anak buah Ferdy Sambo mendapat tugas masing-masing berdasar skenarion yang dibuat.
 
Meski rapi ditutupi, akhirnya lokasi pembuatan scenario baku tembak dan pelecehan istri Ferdy Sambo terbongkar juga.
 
Para tersangka yang ada di lokasi Duren Tiga dikumpulkan Feryd Sambo di satu tempat yang sangat aman.
 
Mereka yang dikumpulkan adalah Bripka RR, Bharada E, hingga Kuat Ma’ruf.
 
Di lokaso itu, Ferdy Sambo sendiri yang memimpin pertemuan yang terjadi beberapa jam setelah Brigadir J ditembak mati.
 
Rupanya lokasi pembuatan skenario baku tembak yang menggambarkan situasi terakhir kematian Brigadir J bukan di Saguling atau Duren Tiga, Jakarta Selatan.
 
Ferdy Sambo menggiring para saksi yang juga seluruh tersangka di TKP Duren Tiga ke satu tempat yang dinilai super aman dan tidak akan dicurigai.
 
Setelah Brigadir J dihabisi, Ferdy Sambo rupanya membuat skenario baku tembak hingga pelecehan seksual pada istrinya sendiri di Duren Tiga Jakarta Selatan.
 
Pembuatan skenario tersebut ternyata tidak dilakukan di TKP Duren Tiga maupun Saguling, melainkan di tempat lain.
 
Di TKP tersebut buatlah skenario untuk menghilangkan barang bukti dan menggiring opini jika Brigadir J adalah lelaki yang pantas ditembak lantaran telah melecehkan wanita.
 
Seperti diketahui jika perkembangan kasus kematian Brigadir J, baru sebatas penolakkan banding Ferdy Sambo.
 
Atas ditolaknya banding tersebut, maka otomatis Ferdy Sambo sudah dipecat dengan tidak hormat dari kepolisian.
 
Dalam kasus kematian Brigadir J ini ternyata melibatkan lima orang tersangka yang sudah ditetapkan dan diumumkan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
 
Mereka adalah Ferdy Sambo, Bripka RR, Bharada E, Putri Candrawathi, dan Kuat Maruf yang merupakan ART sekaligus sopir pribadi.
 
Kasus tersebut sangat Panjang dan sangat pelik lantaran melibatkan banyak anggota Polri.
 
Semua yang bersuara di ruang sidang etik, mengaku hanya menjalankan perintah dari Ferdy Sambo.
 
Dari rumitnya kasus dan belum terungkapnya motif pembunuhan, sudah hampir tiga bulan berlalu, motif pembunuhan Brigadir J belum juga terungkap.
 
Dampak dari tidak jelasnya motif, membuat isu semakin liar dan meluas ke mana-mana. 
 
Termasuk adalah Ketika dilakukan rekonstruksi yang digelar pada Selasa 30 Agustus 2022. 
 
Dalam rekonstruksi tersebut ada lima tersangka kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, dihadirkan oleh para penyidik.
 
Satu di antara tersangka dan juga saki, Bripka RR mengungkap hal baru tentang lokasi perencanaan skenario setelah Brigadir J ditembak mati.
 
Melalui kuasa hukumnya bernama Erman Umar, Bripka RR mengungkap semuanya, termasuk lokasi Ferdy Sambo memimpin rapat usai pembunuhan terjadi.
 
Dikatakan Bripka RR, lanjut Erman Umar, Ferdy Sambo mengumpulkan semua ajudannya di Gedung Provos, Mabes Polri pada Jumat, 8 Juli 2022 malam.
 
Peristiwa dikumpulkannya para ajudan ini oleh Ferdy Sambo hanya beberapa saat setelah terjadi penembakan Brigadir J di rumah dinas Duren Tiga, Jakarta Selatan.
 
Dalam rapat ‘darurat’ di Mabes Polri, Ferdy Sambo meminta semua pihak yang terlibat dalam pembunuhan Brigadir J mengikuti skenario yang dibuatnya.
 
Bripka RR mengaku, dia diminta bersembunyi di balik kulkas ketika Brigadir J dibunuh.
 
Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Ferdy Sambo membenarkan pernyataan mantan Karo Paminal Polri Brigjen Hendra Kurniawan.
 
Dia mengatakan semua saksi kasus Brigadir J sempat dibawa ke Gedung Provos Polri. Mereka adalah Bripka RR, Bharada E, dan Kuat Ma'ruf.
 
Setelah rapat darurat dilakukan, semua menjalankan rencana, hingga akhirnya semua terbongkar. 
 

Load More