Bisnis / Keuangan
Selasa, 05 Mei 2026 | 07:50 WIB
Wall Street kembali anjlok setelah kondisi geopolitik kembali memanas. [Unsplash].
Baca 10 detik
  • Indeks saham Wall Street melemah pada perdagangan Senin akibat ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah.
  • Konflik di Timur Tengah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah dunia serta memicu kekhawatiran bagi pelaku pasar.
  • Saham sektor logistik mengalami penurunan signifikan yang menambah tekanan negatif pada performa bursa saham Amerika Serikat.

Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street meloyo pada perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Indonesia). Pelemahan ini disebabkan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan memicu kekhawatiran pasar global.

Mengutip CNBC semua indeks utama Walls Street merah, seperti Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat bergerak di zona merah, sementara S&P 500 turun 557,37 poin atau 1,13 persen ke level 48.941,90. Di sisi lain, Nasdaq Composite terkoreksi 0,19 persen dan ditutup di 25.067,80.

Sentimen negatif datang dari perkembangan terbaru di Timur Tengah. Uni Emirat Arab mengonfirmasi telah mencegat sejumlah rudal yang ditembakkan dari Iran. Ini menjadi pertama kalinya sistem peringatan rudal UEA diaktifkan sejak gencatan senjata dengan AS dimulai bulan lalu.

Kondisi tersebut langsung memicu lonjakan harga energi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 4,39 persen ke level USD 106,42 per barel, sedangkan minyak mentah Brent naik 5,8 persen ke USD 114,44 per barel.

Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. [Pexels].

Kenaikan harga minyak juga dipicu laporan yang saling bertentangan terkait dugaan serangan Iran terhadap kapal perang AS di sekitar Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran menyebut adanya serangan rudal terhadap kapal perang, namun hal ini belum terkonfirmasi secara independen.

Sementara itu, Komando Pusat AS menegaskan tidak ada kapal Angkatan Laut AS yang terkena serangan.

Di tengah situasi tersebut, Presiden Donald Trump mengumumkan inisiatif Proyek Kebebasan melalui platform Truth Social. Program ini bertujuan membantu evakuasi kapal-kapal kargo dari negara non-konflik yang terjebak akibat ketegangan di Selat Hormuz.

"Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk memberi tahu mereka bahwa kami akan melakukan upaya terbaik untuk mengeluarkan kapal dan awak mereka dengan selamat," tulis Trump.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Technical Rebound di Tengah Rekor Tertinggi Wall Street

Namun demikian, pasar tetap dibayangi ketidakpastian. Pendiri dan CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield, menilai konflik tidak akan segera berakhir.

“Kami tidak memperkirakan perang akan terselesaikan dengan cepat,” ujarnya.

Meski tekanan meningkat, sebagian analis masih melihat potensi kenaikan indeks ke depan. Hatfield bahkan memperkirakan S&P 500 berpeluang mencapai level 8.000 pada akhir tahun.

Di sisi sektoral, saham logistik menjadi yang paling terpukul. Amazon melalui GXO Logistics mengumumkan ekspansi jaringan logistiknya sendiri. Dampaknya, saham GXO anjlok hampir 18 persen, sementara UPS dan FedEx masing-masing turun sekitar 10 persen dan 9 persen.

Tekanan di sektor logistik ini menambah beban pasar yang sudah tertekan oleh lonjakan harga energi dan meningkatnya risiko geopolitik global.

Load More