- Bank Indonesia mencatat inflasi nasional pada April 2026 berada di level 2,42 persen sesuai sasaran target pemerintah.
- Penurunan angka inflasi dipicu deflasi pada kelompok pangan bergejolak akibat masa panen raya dan normalisasi permintaan masyarakat.
- Kestabilan inflasi terjaga melalui sinergi kebijakan moneter Bank Indonesia dan koordinasi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan penyebab Inflasi April 2026 dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa secara tahunan, angka inflasi pada April 2026 berada di level 2,42 persen (year-on-year/yoy).
Capaian ini menunjukkan tren positif karena lebih rendah dibandingkan realisasi pada bulan sebelumnya, yang sempat menyentuh angka 3,48 persen (yoy), berkat langkah konkret Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga.
“Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah melalui TPIP dan TPID,” ujar Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Terkait komponennya, inflasi inti pada April 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm), sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,13 persen (mtm).
Kenaikan ini dipicu oleh komoditas minyak goreng yang terdampak kenaikan harga crude palm oil (CPO) global.
"Meski demikian, secara tahunan inflasi inti justru menurun menjadi 2,44 persen (yoy)," katanya.
Di sisi lain, kelompok pangan bergejolak (volatile food) justru mengalami deflasi sebesar 0,88 persen (mtm). Penurunan harga ini terutama disumbang oleh komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan aneka cabai.
Fenomena ini terjadi seiring dengan normalisasi permintaan masyarakat pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri serta masuknya masa panen raya di berbagai daerah sentra produksi.
Baca Juga: Purbaya Girang Data BPS Ungkap Inflasi April Turun: Sekarang Anda Kritik Tuh Ekonom!
Kenaikan tercatat pada kelompok Harga yang diatur pemerintah (administered prices) yang mengalami inflasi sebesar 0,69 persen (mtm).
Faktor utamanya adalah kenaikan tarif angkutan udara, harga bensin nonsubsidi, dan LPG nonsubsidi yang menyesuaikan harga avtur serta harga energi global. Secara tahunan, kelompok ini mencatatkan inflasi sebesar 1,53 persen (yoy).
Sebagai langkah mitigasi ke depan, Bank Indonesia meyakini bahwa target inflasi akan terus terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen untuk sepanjang tahun 2026 hingga 2027.
"Optimisme ini didukung oleh penguatan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) serta koordinasi solid antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga ketahanan pangan nasional," tandasnya.
Berita Terkait
-
Rupiah Terkapar Rp17.300, BI Pasang Badan Guyur Pasar!
-
Kurs Rupiah Masih Tembus Rp17.000, Bos BI Klaim Cadangan Devisa Aman
-
Kredit Nganggur di Bank Tembus Rp2.527 Triliun, BI Ungkap Penyebab dan Strateginya
-
BI Longgarkan Transaksi NDF Offshore untuk Perkuat Rupiah
-
Mantan Gubernur BI: Rupiah Melemah Karena Pemerintah Tahan Subsidi BBM
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Mengapa Harga Emas Antam Terjun Bebas Pekan Ini? Simak Analisisnya
-
Karir Pekerja Terancam AI? Ini Kunci Agar Tetap Relevan di Masa Depan
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil