Suara.com - Pemerintah Cina menyebarkan 488 juta postingan palsu di media sosial setiap tahunnya sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu sensitif, demikian hasil sebuah penelitian yang digelar oleh para ilmuwan di Universitas Harvard, Amerika Serikat.
Penelitian yang dipimpin oleh Gary King dari Harvard itu meneliti apa yang disebut sebagai "Partai 50 Sen", orang-orang yang disebut dibayar sebesar 50 sen yuan oleh pemerintah Cina untuk mengunggah konten-konten positif tentang Beijing di media sosial dan internet.
Upaya yang oleh para peneliti disebut sebagai "operasi rahasia berskala besar" ini dilakukan oleh para pegawai pemerintah dan menunjukkan betapa seriusnya usaha pemerintah Cina untuk mengendalikan informasi di publik.
Di Cina sendiri media-media sosial asing seperti Facebook, Twitter, dan Google sudah diblokir. Adapun media-media sosial lokal diawasi dengan ketat oleh pemerintah.
"Partai 50 Sen" di tengah publik Cina sering dianggap sebagai para pembela pemerintah dalam perdebatan di dunia maya. Tetapi hasil penelitian King menunjukkan bahwa mereka bekerja bukan untuk mendebat, tetapi justru mengalihkan perhatian publik dari isu-isu sensitif.
"Tujuan mereka adalah untuk mengalihkan publik dan mengubah subjek pembicaraan. Sebagian besar postingan mereka berisi pemujaan terhadap Cina, sejarah revolusi Partai Komunis dan simbol-simbol lain dari rezim berkuasa," terang para peneliti.
Studi itu juga menemukan bahwa para anggota "Partai 50 Sen" ini bukan rakyat biasa yang dibayar oleh pemerintah, melainkan pegawai negeri atau badan pemerintah lainnya. Mereka menggungah konten-konten propemerintah sebagai bagian dari pekerjaan dan itu akan menjadi bagian penilaian terhadap kinerja mereka.
Postingan-postingan itu lazimnya disebarkan dalam momentum-momentum kunci, seperti setelah terjadi kerusuhan atau peristiwa politik besar. Para peneliti mengatakan metode ini menunjukkan adanya kordinasi tingkat tinggi dari pemerintah dalam upaya mengendalikan wacana di publik.
Riset itu sendiri dilakukan dengan meneliti email-email Kantor Propaganda Internet kota Zhanggong dari tahun 2013 - 2014 yang dibocorkan peretas ke internet pada 2015 lalu. Email-email yang bersifat rahasia itu berisi nama dan nama alias dari pegawai negeri yang masuk dalam "Partai 50 Sen". (CNN/BBC)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Mulai 19 Juli 2026 Cara Daftar Kartu Perdana Berubah Total! Simak Aturannya
-
Adu Kamera Samsung S26 Ultra vs Oppo Find X9 Ultra, Mana yang Lebih Cakep?
-
4 HP Samsung Galaxy A Series Termurah Juli 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Harga HP Naik Terus? Ini Waktu Terbaik Ganti HP Baru Menurut David GadgetIn
-
4 HP Redmi Terbaik 2026 Menurut Reviewer Gadget untuk Multitasking hingga Gaming
-
Update Harga HP Samsung Juli 2026, dari Seri Termurah hingga Flagship
-
25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
-
14 Layanan Apple Masuk Verifikasi Komdigi, Ini Daftar Fitur yang Dievaluasi
-
Telkomsel Dorong UKM Go Global dengan AI, DCE Academy 2026 Cetak Wirausaha Digital Baru
-
JBL Quantum Resmi Hadir di Indonesia, Headset Gaming Terbaru untuk Gamer Kasual hingga Esports