Suara.com - Departemen Keamanan Dalam Negeri memberikan kewarganegaraan kepada ratusan orang yang sebelumnya telah diperintahkan dideportasi atau dihapus dengan nama yang berbeda. Hal ini terjadi karena catatan sidik jari (fingeprint) yang tidak akurat.
Laporan dari departemen Kantor Inspektur Jenderal menemukan bahwa hampir 900 orang diberikan kewarganegaraan. Sebelumnya, baik database lembaga maupun F.B.I. berisi semua catatan sidik jari dari orang-orang yang sebelumnya telah diperintahkan untuk dideportasi.
Hampir 150.000 catatan sidik jari sebelumnya tidak didigitalkan atau tidak termasuk di database Departemen Homeland Security. Dalam kasus lain, sidik jari yang diambil oleh pejabat imigrasi selama proses deportasi tidak diteruskan ke F.B.I.
"Situasi ini menciptakan peluang bagi individu untuk memperoleh hak dan keistimewaan dari kewarganegaraan AS melalui jalur penipuan," kata John Roth, jenderal inspektur di Homeland Security.
Laporan itu muncul dikeluarkan oleh anggota Kongres, Homeland Security dan para pejabat intelijen, setelah melakukan pemeriksaan yang lebih luas dari kebijakan imigrasi. Kondisi ini
telah menimbulkan kekhawatiran tentang individu yang memiliki hubungan dengan kelompok teroris ada kemungkinan masuk ke Amerika Serikat.
Pemeriksaan dimulai dari peristiwa serangan teroris di Paris pada November lalu dan penembakan di San Bernardino, California, yang menewaskan 14 orang pada Desember lalu.
Setelah serangan, Presiden Obama menandatangani undang-undang yang memperketat pembuatan visa. Sehingga tidak sembarangan wisatawan dari Eropa masuk ke Amerika Serikat jika mereka memiliki kewarganegaraan ganda dari Iran, Irak, Sudan atau Suriah, atau telah mengunjungi salah satu dari negara-negara tersebut di lima tahun sebelumnya.
"Kegagalan ini merupakan risiko signifikan terhadap keamanan nasional Amerika karena banyak individu mendapatkan naturalisasi memiliki akses publik dan kemampuan untuk mendapatkan izin keamanan," tutur Senator Ron Johnson, seorang Republikan Wisconsin yang merupakan ketua Senat Komite Keamanan Dalam Negeri yang menulis surat kepada Jeh Johnson, sekretaris Keamanan dalam Negeri.
Amerika Serikat Kewarganegaraan dan Layanan Imigrasi, sebuah badan di dalam Homeland Security yang mengawasi kewarganegaraan, seharusnya memeriksa sidik jari pelamar sebelum mendapatkan kewarganegaraan. Kemudian disesuaikan ke sejumlah database untuk memastikan bahwa mereka tidak memiliki catatan kriminal atau menimbulkan ancaman.
Tapi karena database sidik jari tidak lengkap, badan tersebut tidak memiliki cara untuk mengetahui bagaimana individu tersebut sebenarnya.
Peneliti menemukan bahwa lebih dari 200 kasus diperiksa mereka, tidak ada individu mengungkapkan bahwa mereka memiliki identitas lain atau bahwa mereka mendapat perintah dideportasi pada aplikasi naturalisasi mereka.
Laporan inspektur jenderal kata kantor Imigrasi dan Bea Cukai telah menyelidiki beberapa warga naturalisasi untuk menentukan apakah kewarganegaraan mereka harus dicabut. Dari peristiwa ini, berbagai lembaga terkait mulai mendigitalkan semua catatan sidik jari. (NY Times)
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
Terkini
-
Kronologi Kasus Viral Santriwati Ngaku Hamil Lewat Mimpi, Seorang Kiai di Pekalongan Ditangkap
-
Polytron Luxia R5 Resmi Meluncur, Laptop Murah Diotaki Ryzen 5 dengan RAM Upgrade hingga 32GB
-
Penampakan Samsung Galaxy A27 Terbaru: Snapdragon Gantikan Exynos, Ultrawide Downgrade
-
Zenbook A14 OLED Jadi Laptop Snapdragon X2 Elite Pertama di Indonesia dengan Baterai Tahan 24 Jam
-
5 Kelebihan dan Kekurangan Panasonic TOUGHBOOK 40 Mk2, Laptop Tahan Banting dengan AI
-
Lenovo ThinkStation PGX Resmi Hadir di Indonesia, Workstation AI Ringkas dengan Performa 1 PetaFlop
-
Meta Resmi Luncurkan Langganan Instagram, Facebook, dan WhatsApp Plus, Ada Paket AI Baru
-
3 HP Redmi Midrange Paling Worth It di 2026, Spek Gahar dan Harga Masih Masuk Akal
-
iPhone, iPad, Mac,dan Apple Watch Naik Harga, Cek Daftarnya
-
40 Kode Redeem FF Terbaru 28 Mei 2026: Cek Event Pinky Sembari Tukar Token Universal