Suara.com - Perkembangan pengguna internet yang cepat dan jumlah penduduk melimpah, menjadikan Indonesia pasar menggiurkan bagi para pengembang konten digital dari luar negeri. Industri teknologi informasi (TI) negeri ini terancam 'dijajah' mereka karena jumlah pengembang konten digital asal Indonesia masih sangat sedikit.
Potensi Indonesia luar biasa. Menurut Google, saat mengunjungi Indonesia pada awal Agustus, jumlah penduduk pengguna internet di Nusantara saat ini telah mencapai 100 juta orang. Dalam empat tahun ke depan, jumlahnya diprediksi bertambah dua kali lipat menjadi 200 juta orang.
Indonesia juga menjadi negara dengan pertumbuhan pemirsa YouTube tercepat di Asia hingga disebut-sebut sebagai 'jantung' YouTube di region ini.
Di sisi lain, Chief Executive Officer Dicoding Indonesia Narenda Wicaksono mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan TI internasional dan para pembuat konten digital luar negeri tergiur potensi pasar Indonesia.
"Saya sering diundang ke Mountain View, Silicon Valley, Bangalor. Yang mereka bicarakan di sana adalah bagaimana bisa masuk ke pasar Indonesia," kata Narenda di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebagai gambaran, Narenda menjelaskan, nilai pasar permainan digital di Indonesia pada 2016 saja diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun.
"Ini belum pasar untuk aplikasi lainnya. Saya tidak hapal tapi jumlahnya juga fantastis," ujarnya.
Meski begitu, aplikasi-aplikasi permainan yang dikembangkan pembuat konten luar negeri masih merajalela. Indonesia, kata dia, belum menjadi 'tuan rumah di negeri sendiri'.
"Contoh saja, saat ini salah satu permainan yang populer di Play Store adalah semacam permainan kereta Indonesia. Logonya logo PT Kereta Api Indonesia, lalu jadi top grossing di pasar Indonesia, tapi yang buat dari India," papar Narenda.
Hingga kini, berdasarkan data Dicoding Academy, cuma ada 500 ribu pembuat konten digital yang berasal dari negeri sendiri. Itu pun baru sedikit yang memiliki 'coder' (pembuat kode aplikasi) sendiri.
Menurutnya, beberapa penghalang berkembangnya jumlah pembuat konten lokal adalah kurikulum dan kualitas sumber daya pengajar di bidang TI yang mayoritas ketinggalan dari standar internasional. Ekosistem industri digital di Indonesia sendiri belum terbentuk karena industri yang masih tersentralisasi di satu-dua kota besar saja.
Dampaknya, bakat-bakat muda di daerah yang sebenarnya berpotensi menjadi pembuat konten digital tidak mendapat panduan dan akhirnya bekerja di industri lain.
Narenda menilai, tugas besar pemerintah adalah menciptakan ekosistem tersebut, juga membuat industri digital tak tersentralisasi di satu-dua kota besar saja. Kurikulum pendidikan TI pun harus disesuaikan dengan standar yang dibutuhkan dunia internasional.
"industri lokal harus dilindungi. Internet harusnya juga bisa lebih kencang sehingga semua orang punya kesempatan yang sama untuk belajar," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam