Suara.com - Pertengahan tahun depan badan antariksa Amerika Serikat (NASA) akan mengirim misi luar angkasa dari Bumi ke Matahari. Wahana yang dikirim dalam misi itu akan menjadi satelit bikinan manusia pertama yang berada sangat dekat dengan Surya.
Parker Solar Probe - nama satelit penelitian itu, panjangnya sekitar 3 meter. NASA mendesainnya secara khusus, diselimuti dengan lapisan karbon khusus sehingga tak akan terbakar atau hancur diterpa gelombang panas serta radiasi Matahari.
Wahana itu rencananya akan ditempatkan di corona, salah satu bagian atmosfer Matahari yang bisa terlihat dari Bumi dengan mata telanjang saat terjadi gerhana Matahari total.
Lalu apa yang dicari NASA dalam misi ekstrem itu?
Nicola Fox, ilmuwan dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, yang turut memimpin misi itu, mengatakan ada tujuan utama dari pengiriman Wahana Parker.
Pertama, untuk mengetahui mengapa suhu corona jauh lebih panas dari permukaan Matahari itu sendiri. Diperkirakan suhu di corona 300 kali lebih panas ketimbang permukaan Matahari.
Kedua, mengapa kecepatan angin surya (solar wind) bisa terus bertambah?
"Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena kita hidup dalam atmosfer Matahari," jelas Fox.
Ia menambahkan bahwa angin surya, yang terdiri dari partikel-partikel bermuatan itu, bergerak meninggalkan Matahari dalam kecepatan yang terus bertambah, menerpa semua planet di tata surya kita, dan punya implikasi pada kehidupan manusia.
Ketika terjadi badai Matahari (coronal mass ejection), misalnya, partikel-partikel yang dilepaskan bisa memengaruhi Bumi, menciptakan aurora dan mengganggu sistem komunikasi manusia.
Diharapkan pemahaman akan perilaku angin surya bisa membantu manusia memprediksi dampak serta melakukan persiapan untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh aktivitas Matahari.
Sementara menurut astronom Brad Tucker, dari Australian National University, pemahaman akan angin surya juga sangat penting untuk mewujudkan ambisi manusia untuk menjelajahi ruang luar angkasa.
"Ketika Anda berada di luar angkasa, tidak ada gaya gravitasi dan tak ada atmosfer. Anda membutuhkan dorongan, dan angin surya bisa menjadi dorongan yang butuhkan agar bisa melesat di antariksa," jelas Tucker kepada ABC.
Saat ini, imbuh dia, teleskop antariksa Kepler Space Telescope, sudah menggunakan teknik itu.
Selain itu, memahami angin surya juga sangat penting untuk mempelajari dampak radiasi matahari terhadap manusia di antariksa.
"Di Bumi kita beruntung karena dilindungi oleh medan magnetik. Tetapi jika bicara soal pendaratan di bulan atau Mars - tempat yang atmosfernya tipis atau malah tak ada sama sekali - perlindungan seperti yang kita punya di Bumi sama sekali tak ada," beber dia.
"Jadi jika kita ingin hidup, bekerja, dan meneliti tempat-tempat di luar angkasa, maka kita harus memahami bagaimana dampak Matahari terhadap mereka," tutup dia.
Misi Parker Solar Probe sendiri rencananya akan diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, AS sekitar periode 31 Juli - 20 Agustus 2018. Ia ditargetkan tiba pada posisinya pada Desember 2024.
Berita Terkait
-
Tenaga Surya Tak Cukup, NASA Nekat Bangun Pembangkit Nuklir Demi Bangun Koloni di Bulan
-
NASA Siapkan ' Buruh Robot' Masa Depan: Kecerdasan Buatan dan Drone Bakal Bangun Pangkalan di Bulan
-
Donald Trump Rilis 160 Dokumen Rahasia UFO: Bahas Alien dan Objek Misterius
-
Astronot Artemis II Bongkar Kenapa Makanan Terasa Hambar di Luar Angkasa
-
Astronaut Mesti Belajar Jalan Lagi, Settingan Gak Sih?
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
Terkini
-
Daftar Harga MacBook Juli 2026 Meroket Akibat Krisis RAM Global, Tak Ada Lagi yang Rp 10 Jutaan
-
4 Rekomendasi Walkie Talkie Jarak Jauh Murah Berdasarkan Review Pembeli
-
Bedah Spesifikasi Vivo T5, HP Rp 3 Jutaan dengan Baterai Raksasa 7.200 mAh
-
Microsoft PHK 4.800 Karyawan, Xbox Paling Terdampak
-
4 HP Murah Terbaru Spek Oke Mulai Rp1 Jutaan, Ada yang Mirip iPhone 17 Pro
-
Transaksi Digital Makin Mudah, OVO Ingatkan Bahaya Pengeluaran Kecil yang Diam-Diam Menguras Gaji
-
Water Heater Listrik Low Watt Makin Diminati, Ini Teknologi Hemat Listrik dan Fitur Keamanan Penting
-
Indosat Tancap Gas Bangun AI Indonesia, Vikram Sinha Lanjut Pimpin Transformasi hingga 2031
-
Xiaomi Siapkan Kejutan di IFA 2026, Investasi AI Rp151 Triliun Perkuat Ekspansi ke Eropa
-
Tren Belanja Cepat Makin Mengubah Gaya Hidup Digital Masyarakat