Suara.com - Tim ilmuwan telah mengidentifikasi kelompok spesies yang menginfeksi manusia purba dengan herpes genital (HSV2). Herpes genital HAV2 merupakan penyakit infeksi seksual menular yang sudah ada hampir dua juta tahun lalu.
Sang 'tersangka' utama, Parathropus boisei adalah hominid atau kera besar bipedal (mahluk berdiri dengan dua kaki). Mahluk tersebut juga memiliki otak dan tubuh yang kecil, serta memiliki wajah seperti piring.
Kemungkinan besar manusia purba tertular HSV2 melalui daging simpanse, dan kemudian melewati patogen manusia saat mereka berburu makanan.
Kontak terdekat antara mahluk P. boisei dan nenek moyang manusia, Homo erectus, dipastikan juga, karena memiliki sumber air yang sama, seperti Danau Turkana di Kenya. Hal ini, kata periset, dipercaya memberikan kesempatan bagi HSV2 untuk memasuki garis keturunan manusia.
"Bagi virus-virus ini untuk melawan penghalang spesies, mereka memerlukan mutasi genetik yang beruntung dikombinasikan dengan pertukaran cairan yang signifikan. Dalam kasus hominid awal, ini berarti melalui konsumsi atau hubungan seksual - atau mungkin keduanya," kata Charlotte Houldcroft, seorang ahli virologi dari Universitas Cambridge Inggris dilansir Zeenews.
Begitu HSV2 masuk ke spesies yang tinggal, lanjut dia, mudah dipindahkan dari ibu ke bayi, juga melalui darah, air liur dan seks.
"HSV2 sangat ideal untuk populasi dengan kepadatan rendah. Virus herpes genital akan merayap melintasi Afrika seperti merayap ke ujung saraf pada organ seks kita, perlahan tapi pasti," kata Charlotte.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Virus Evolution, para peneliti menemukan bahwa di antara tiga dan 1,4 juta tahun yang lalu, herpes genital melompati penghalang spesies dari kera Afrika ke nenek moyang manusia.
"Dengan memodelkan data yang ada, dari catatan fosil hingga genetika virus, kami percaya bahwa Parathropus boisei adalah spesies setempat yang ada pada saat yang tepat untuk mengontrak HSV2 dari simpanse, dan mengirimkannya ke nenek moyang manusia yang paling awal, mungkin Homo erectus," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
56 Kode Redeem FF Max Terbaru 1 Juni 2026: Raih Skin MAG-7, SG2, dan Bundel Eclipse
-
5 Pilihan Smart TV 32 Inch Terbaik Harga Rp2 Jutaan, Canggih dengan Fitur Modern
-
Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan Terbaik Menurut Review Pengguna
-
5 HP Midrange Paling Dicari Juni 2026: Chip Kencang, Skor AnTuTu 2,1 Juta Poin
-
Budget Rp3 Juta Dapat iPhone Apa? Ini 4 Pilihan HP yang Masih Sangat Layak Pakai di 2026
-
7 Kelebihan dan Kekurangan Panasonic LUMIX L10, Tawarkan Fitur Zoom Ciamik
-
Spesifikasi Redmi Headphone Neo di Indonesia: Harga Rp1 Jutaan, Baterai Tahan 72 Jam
-
AS Perketat Larangan Chip AI China, Huawei hingga Alibaba Makin Gencar Kembangkan Alternatif Nvidia
-
Lintasarta Percepat Investasi Infrastruktur AI di Indonesia, Siap Dorong Transformasi Digital
-
vivo X Fold6 Rilis Akhir Juni 2026, Ini Spesifikasi dan Fitur Unggulannya