Suara.com - Tim peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelesaikan kajian ekosistem untuk memulihkan kualitas air di Danau Toba. Peneliti - eneliti dari Puslit Limnologi meneliti di Danau Toba sejak 2009, melakukan kajian hidrodinamika yang merupakan syarat utama pemahaman sistem danau.
Dengan hidrodinamika peneliti mempelajari pola arus dan pola pergerakan material di danau. Selain itu, dengan hidrodinamika peneliti mencari tahu modal awal penentuan zonasi pemanfaatan ruang di badan air danau.
Dengan berpegang pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2014 yang menetapkan Danau Toba sebagai tujuan wisata maka sejumlah persoalan harus diselesaikan, salah satunya mengembalikan kondisi kualitas air danau yang menurun.
LIPI memberikan rekomendasi batasan jumlah produksi ikan per tahun dengan memperhitungkan daya dukung lingkungan Danau Toba yang terletak di tujuh kabupaten di Sumatera Utara.
Peneliti hidrodinamika dan kualitas air Puslit Limnologi LIPI Hadiid Agita Rustini mengatakan berdasarkan beberapa hasil simulasi interaksi komponen-komponen penyusun ekosistem Danau Toba, baik secara fisik, biologi, kimia hingga meteorologi didapatkan bahwa untuk mendapat kualitas air pada kondisi oligotrofik sesuai rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maka jumlah keseluruhan keramba jaring apung (KJA) tidak boleh lebih dari 543 unit.
Jika dengan teknik budi daya yang digunakan saat ini produksi ikan per KJA mencapai 2,63 ton per tahun, maka produksi ikan dari Danau Toba per tahun hanya boleh mencapai 1.428 ton. Angka tersebut, ujar Agita, sangat jauh di bawah rekomendasi pemerintah dan kajian-kajian sebelumnya yang menetapkan kebijakan total produksi KJA yang diperbolehkan di danau terbesar di Indonesia ini mencapai 10.000 ton per tahun.
Berdasarkan data citra satelit Spot 7 pada 2016, terdapat sekitar 11.282 unit KJA di Danau Toba, dan 80 persen berada ada di wilayah Kabupaten Simalungun, bahkan kepadatannya mencapai sekitar 1000 KJA per 300 x 300 meter (m).
Agita mengatakan kotoran atau feses dari ikan yang membuat kondisi perairan danau vulkanik yang terletak di tujuh kabupaten di Sumatera Utara ini buruk.
"Kalau ada yang bilang itu dari pakan ikannya, saya rasa pembudidaya sangat memperhitungkan sisi ekonominya, tidak mungkin memberikan pakan terlalu banyak sehingga terbuang-buang," katanya.
Baca Juga: Ratna Sarumpaet Mengaku Diusir Dukun Perempuan saat di Danau Toba
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pola arus di lapisan pertama air dengan kedalaman hingga satu meter dari permukaan danau mencapai 0,03 meter per detik.
"Kesannya memang kecil, tapi ini air yang bergerak, jadinya besar sekali arusnya," katanya.
Lokasi KJA, menurut dia, berada di perairan dengan pola arus cenderung kecil, sehingga bahan polutan cenderung menetap di lokasi tersebut. Halanggaol menjadi daerah yang paling besar mengalami kerusakan, kondisi perairan oligotrofik hanya ditemui di kedalaman lebih dari 10 meter.
Dari simulasi yang telah dilakukan LIPI juga diketahui bahwa 22 aliran sungai yang mengarah ke Danau Toba tidak mencemari danau tersebut karena hanya mencapai tepian saja. Dan jika KJA ditekan hanya mencapai 500 unit maka perairan danau akan kembali baik. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Ibu Tiri Usia 19 Tahun di Bekasi Siksa Anak Sambungnya Hingga Tewas
-
IESR Ungkap Tiga Kunci Percepatan Investasi Energi Surya di Indonesia, Apa Saja?
-
Liburan dengan Miles Jadi Tren, Pengeluaran Sehari-hari Kini Bisa Jadi Modal Bepergian
-
5 Rekomendasi Facial Wash Jepang untuk Kulit Putih dan Bersih
-
Modus Ternak Rekening Judol Libatkan Petani hingga IRT, Dugaan Keterlibatan Bank Perlu Diusut
-
Lima Tahun Diabaikan Pemerintah, Warga Mekarsari Lebak Banten Patungan Perbaiki Jembatan Rusak
-
KUR BRI Dukung Rosyidah Terus Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut di Indramayu
-
Gibran Minta PSEL Palembang Tak Sekadar Olah Sampah, Warga dan UMKM Harus Ikut Untung
-
BRI Hadirkan Harapan Baru Bagi Mantan Pekerja Migran Indonesia Melalui KUR dan Pemberdayaan UMKM
-
Wajah Pendidikan Karakter: Ketika Pemimpin Gagal Menjadi Contoh