Suara.com - Belum lama ini, berbagai laporan dari mancanegara menyebutkan bahwa es di Gunung Everest mencair lebih cepat dari tahun ke tahun. Hal ini menyebabkan mayat-mayat yang tertimbun es sebelumnya, muncul ke permukaan.
Sebagaimana dikutip dari BBC, Minggu (24/3/2019), tingkat kematian di gunung tertinggi di dunia itu selama periode 2010-2018, sebenarnya menurun di kisaran 280-300 jiwa atau 1 persen dari 7.954 korban meninggal dunia di Gunung Everest selama ini.
Adapun angka kematian tertinggi ada di periode 1970-1979 dengan persentase 2,2 persen. Sedangkan pada 10 tahun berikutnya (1980-1989), tingkat kematiannya masih berada di atas 2 persen dan cenderung terus menurun sejak saat itu.
Lalu, apa saja yang menjadi penyebab kematian para pendaki Gunung Everest? Pada rentang 2010-2018, longsoran salju menjadi penyebab kematian tertinggi dengan persentase 41,6 persen. Oleh karena itu, pihak SAR setempat kesulitan untuk menemukan jasad para pendaki yang meninggal di Gunung Everest.
Sedangkan faktor kematian lainnya dipengaruhi oleh penyakit gunung atau penyakit ketinggian pada level akut yang ditandai dengan sakit kepala dan muntah-muntah, hingga meninggal karena kelelahan dan jatuh dari ketinggian.
Anehnya, meskipun gunung di Nepal tersebut terkenal sering memakan korban, namun seorang penakluk Gunung Everest menyebut bahwa gunung tersebut merupakan tempat yang paling aman ketimbang tempat lainnya yang berada di gugusan Pegunungan Himalaya.
"Itu (Gunung Everest) sebenarnya tempat yang cukup aman seandainya mereka (pendaki) mengikuti rute umum yang sudah biasa dilalui ara pendaki pendahulunya," kata Alan Arnette yang sudah menaklukkan gunung tersebut.
Di Pegunungan Himalaya sendiri, tempat yang paling sering memakan korban pada periode 2010-2018 adalah Yalung Kang dengan persentase kematian mencapai 75 persen.
Secara terpisah, Ang Tshering Sherpa selaku mantan presiden Nepal Mountaineering Association (NMA) mengatakan bahwa es di Gunung Everest mencair dengan cepat karena pemanasan global, sehingga para pendaki pun tak kuasa tertelan longsoran es yang mencair tersebut.
Baca Juga: Catat Tanggal Peluncuran Xiaomi Mi Notebook Air, Pesaing Macbook Air
Sebagai informasi, banyak studi yang menyebutkan bahwa gletser di Everest, atau di hampir seluruh pegunungan Himalaya, tengah mengalami pencairan dengan sangat cepat.
Tahun lalu saja, sebuah tim peneliti menggali Khumbu Glacier dan menemukan fakta bahwa suhu es di kawasan tersebut menjadi -3,3 derajat Celsius, atau lebih hangat 2 derajat Celsius jika dibandingkan dengan rataan suhu es di tahun sebelumnya.
Berita Terkait
-
Terungkap, Ini Penyebab Mayat Pendaki Gunung Everest Mulai Bermunculan
-
Es di Gunung Everest Mencair, Jasad-jasad Pendaki Bermunculan
-
China Tutup Base Camp Pendakian Gunung Everest, Kenapa?
-
Mendaki Gunung Lewati Lembah, Ratusan Kerangka Manusia yang Kami Lihat
-
Duh! Studi Prediksi Sebagian Gletser di Himalaya Akan Mencair
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Parade 6 Planet Siap Hiasi Langit di 28 Februari 2026, Catat Waktu Terbaik Melihatnya
-
JVC Hadirkan Perangkat Wearable dengan Pengalaman Mendengarkan Lebih Natural
-
39 Kode Redeem FF 24 Februari 2026 dan Cara Dapat 90 Diamond Gratis ShopeePay
-
Kedaulatan Digital di Era AI: Tool Baru Ubah Audit Cloud yang Rumit Jadi 20 Menit
-
realme 16 Series 5G Resmi Meluncur 10 Maret 2026: Kamera 200MP + 50MP Periscope Pertama di Segmennya
-
33 Kode Redeem FC Mobile 24 Februari 2026 dan Cara Klaim Jutaan Gems Gratis
-
5 HP Alternatif Infinix Note 60 dengan Harga Lebih Hemat, Performa Juara!
-
Garmin Indonesia Ungkap Tren Wellness 2026: Detoks Digital, Mindfulness, hingga Eco-Living
-
22 Kode Redeem FC Mobile 24 Februari 2026, Menanti Maradona Hingga Johan Cruyff
-
49 Kode Redeem FF 24 Februari 2026, Klaim 90 Diamond dan Serbu Event Diskon 90 Persen