Suara.com - Arkeolog Papua Hari Suroto mengaku prihatin penggunaan atau pemakaian koteka oleh warga di lembah Baliem atau Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, kian berkurang.
"Iya, hanya generasi tua dari Suku Dani saja yang mengenakan koteka. Itupun hanya di kampung-kampung yang jauh dari kota. Generasi muda Suku Dani sudah tidak atau jarang mengenakan koteka lagi," kata Hari Suroto yang juga dari Balai Arkeologi Papua ketika dihubungi dari Kota Jayapura, Sabtu (13/7/2019).
Koteka adalah pakaian tradisional Suku Dani di Lembah Baliem, yang mencakup beberapa kabupaten di Provinsi Papua. Koteka ini berasal dari sejenis buah labu atau nama latin Melongena L.
Buah labu ini oleh Suku Dani di Kampung Parema, Distrik Wesaput, Kabupaten Jayawijaya, ditanam di pekarangan rumah mereka. Cara menanam labu ini hampir sama dengan pare, yaitu dengan dibuatkan tempat untuk merambat.
Buah koteka yang sudah tua dijadikan pakaian dengan cara dijemur di atas perapian atau di bawah sinar matahari. Namun, selain dibuat koteka, oleh Suku Dani di Kampung Parema, buah labu muda dijadikan obat tradisional untuk penyakit tipes.
"Caranya yaitu dengan merebusnya. Labu rebus ini dikonsumsi setiap hari hingga penyakit tipes sembuh. Biasanya anak kecil hingga orang tua yang sakit tipes akan mengonsumsi labu rebus ini," katanya.
Selain itu, Suku Dani di Kampung Parema juga menanam buah merah, sejenis pandan yang berbuah merah. Buah merah ini dikonsumsi sehari-hari, dimakan bersama keladi rebus.
"Buah merah juga dipercaya mampu menyembuhkan penyakit. Untuk itu perlu penelitian ilmiah tentang manfaat buah labu koteka dalam pengobatan medis," katanya.
Sementara terkait koteka, kata dia, dalam kajian etnoarkeologi. Tradisi berkoteka dapat dijadikan sebagai obyek studi komparatif tentang pakaian pada masa prasejarah di pegunungan Papua.
Baca Juga: Festival Budaya Lembah Baliem Papua Kembali Digelar, Catat Tanggalnya
"Sehingga pengguunaan koteka dan pohon labu perlu dilestarikan. Untuk itu koteka perlu diusulkan sebagai warisan dunia UNESCO," katanya.
Kini, lanjut almnus Universitas Udayana Bali itu, koteka kebanyakan ditemui hanya dipakai dalam acara Festival Budaya Lembah Baliem saja yang dipusatkan di Kampung Walesi, Kabupaten Jayawijaya. Tetapi ada juga penggunaanya bisa ditemui di kampung-kampung terjauh.
"Dan salah satu cara mempertahankannya adalah dengan mengenakannya setiap hari atau dalam acara adat atau jika ada siswa atau mahasiswa masuk ruang kelas bisa berkoteka. Sebagai dosen saya memperbolehkannya, bagi saya koteka itu sama halnya dengan batik," katanya.
Berita Terkait
-
Konsolidasi Kaderisasi di Tanah Papua, UNIMUTU Gelar Baitul Arqam Pertama Kali
-
Tragedi Tolikara, DPR Desak Pemerintah Jamin Nyawa Warga Sipil di Papua
-
Baitul Arqam PWM Papua Barat Tuntas Digelar, Cetak Kader Kokoh Berlandaskan Islam Berkemajuan
-
Tragedi di Tolikara: KKB Serang Kamp Pekerja Saat Istirahat, 5 Tewas dan 3 Masih Hilang
-
LPDB Koperasi Dorong KDKMP Papua Naik Kelas Lewat Program Inkubasi dan Akses Dana Bergulir
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
CKG 2026 Temukan 1 Juta Kasus Hipertensi Baru pada Peserta yang Tahun Lalu Dinyatakan Sehat
-
Bebas Bahan Iritan, 4 Pilihan Body Lotion Fragrance-Free untuk Kulit Eksim
-
Yang Tersisa dari Gempa Venezuela, Kamar Mayat Penuh Hingga Ibu Masih Cari Jasad Anaknya
-
Jadi yang Terbanyak di Indonesia, Apa Kelemahan Zodiak Cancer? Ini Sisi yang Sering Disalahpahami
-
Purbaya Heran Penduduk RI 5 Kali Lebih Banyak, Tapi Penjualan Mobil Kalah dari Malaysia
-
4 Rekomendasi Sepatu Lari Nike Terbaik untuk Daily Run, Nyaman dan Empuk
-
IPK Tinggi Bukan Jaminan: Mengapa Anak Pintar Sering Tertinggal dari yang Biasa Saja?
-
Harta Kekayaan Raja Juli Antoni, Menhut yang Terseret Kasus Gratifikasi Bupati Kuansing
-
Pasien Asuransi Pemerintah Masih Menunggu, Industri Sebut Administrasi Jangan Kalahkan Kemanusiaan
-
Mulai Turun di Sebagian Wilayah, Ini Doa saat Musim Hujan