Suara.com - Gempa Ambon bermagnitudo 6,2 yang mengguncang Ambon, Maluku pada pekan lalu rupanya juga memicu likuefaksi dan disebabkan oleh patahan pada lempeng yang belum terdata dalam peta sebaran sesar aktif Indonesia yang diterbitkan Pusat Gempa Nasional (Pusgen).
"Kami coba posisikan titik gempa pertama di peta sebaran patahan atau sesar dari Pusgen, ternyata pusat gempa yang terjadi tidak terletak di bidang patahan yang sudah dipetakan sebelumnya," kata ahli geologi dari Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2LD-LIPI), Fahreza Sasongko, di Ambon, Minggu (29/9/2019).
Fahreza yang memimpin tim tanggap cepat gempa P2LD-LIPI mengatakan penelitian yang dilakukan diketahui bahwa posisi bidang patahan yang menjadi sumber gempa magnitudo 6,5 berada di wilayah patahan naik dengan mekanisme sesar mendatar bergeser, sedangkan gempa susulan magnitudo 5,6 memiliki mekanisme sesar turun.
Episenter atau titik awal terjadinya gempa pertama, kedua, dan gempa-gempa susulan lainnya menunjukkan adanya deformasi atau perubahan bentuk pergerakan arah bidang patahan yang menjadi pemicu utama gempa dengan magnitudo 6,5.
Setelah dipetakan, posisi bidang lempeng patahan yang baru terdeteksi tersebut berada di wilayah daratan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat dan belum terekam oleh Pusgen, seperti halnya sesar darat aktif Kairatu yang tercatat pernah menghasilkan gempa besar pada 1950.
Kendati baru terdeteksi, kata dia, bidang patahan tersebut bukanlah sesar baru, melainkan sudah terbentuk sebelumnya dan baru menampakkan gejala reaktif, sebagaimana sesar-sesar aktif pada umumnya yang mengalami periodik pengulangan dalam 50 hingga 100 tahun sekali.
"Memang ada sesar aktif di Kairatu yang tercatat di Pusgen, tapi punya kita di sini agak kejauhan posisinya dari yang sudah dipetakan sebelumnya. Biasanya patahan bergerak hanya tujuh centimeter per tahun," ucapnya.
Meski gempa yang dihasilkan oleh pergerakannya tidak berpotensi tsunami, kata Fahreza, dampak yang ditimbulkan saat pelepasan energi menyebabkan longsornya batu karang dan likuefaksi, seperti yang terjadi di Desa Liang, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.
Likuiefaksi yang terjadi di Liang menunjukkan pada beberapa rekahan muncul air bercampur lumpur yang berasal dari bawah tanah. Kubangan lumpur yang dekat rekahan tanah berada kurang lebih 100 meter dari bibir pantai.
Baca Juga: BMKG: 725 Gempa Guncang Ambon
"Ada laporan mengenai sumur keruh akibat gempa kemarin, itu adalah manifestasi dari likuefaksi tapi tidak semasif yang terjadi di Palu setahun sebelumnya," kata dia.
Fahreza mengingatkan warga yang terdampak gempa agar tidak mendiami bangunan atau rumahnya yang menunjukkan gejala rusak atau retak, sebab bisa saja roboh akibat guncangan gempa-gempa kecil susulan yang masih terasa.
Warga juga disarankan tidak mengungsi dan berlindung di tebing terjal dan lereng bukit dengan struktur tanah gembur yang bisa saja longsor saat hujan, melainkan di dataran tinggi terbuka yang lapang.
"Kalau gempa yang tidak berpotensi tsunami mungkin lebih baik mengungsi di daerah yang tinggi tapi lapang, jauh dari tebing dan bangunan dengan struktur yang sudah rusak," ujarnya. [Antara]
Berita Terkait
-
Saksi Ahli Berbalik Arah! Mohamad Sobary Dukung Roy Suryo Cs dalam Kasus Ijazah Palsu Jokowi
-
Ikrar Nusa Bakti Desak Prabowo Segera Reshuffle Kabinet
-
Profesor LIPI: Uji Keaslian Ijazah Jokowi Harus Didorong ke Pengadilan, Bukan Kekeluargaan
-
Revitalisasi Halte Transjakarta Gatot Subroto Rampung, Besok Mulai Kembali Beroperasi
-
Surabaya Terancam! Mengenal Apa Itu Sesar Kendeng yang Bisa Memicu Gempa Bumi Magnitude 7
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Tensi Tinggi! Jose Mourinho Boikot Konferensi Pers Jelang Real Madrid vs Benfica
-
Gunung Dempo Masih Waspada, Warga Pagaralam Diminta Jangan Abaikan Imbauan Ini
-
Alfamart-Indomaret Tak Boleh Ekspansi, Kopdes Merah Putih Prabowo Takut Tersaingi?
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
Terkini
-
Begini Kebijakan Kemenkeu RI Buntut Viralnya Dwi Sasetyaningtyas, LPDP Trending
-
Infrastruktur Digital Jadi Penentu Bisnis Ritel dan F&B
-
Penampakan Xiaomi 17 Ultra Leica Edition Versi Global Terungkap Jelang Perilisan
-
17 HP Murah Redmi dan POCO dapat HyperOS 4 Berbasis Android 17, Ada Fitur Baru
-
MPL ID Season 17 Kapan Dimulai? Ini Bocoran Jadwal dan Roster Tim Mobile Legends
-
Viral Donald Trump Minta Prabowo Pegangi Dokumen BoP dan Pulpen, Ekspresinya Jadi Sorotan
-
Oppo Find N6 Segera Rilis: Lipatan Makin Tipis, Kamera 200MP dan Snapdragon 8 Elite Gen 5
-
50 Kode Redeem FF Terbaru 24 Februari 2026, Klaim Gloo Wall Ramadan Gratis
-
5 Cara Menghidupkan dan Mematikan Layar HP Xiaomi Tanpa Tombol
-
33 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 24 Februari 2026, Siap Sambut Event Capped Legends