"PUNA MALE ini dapat dioptimalkan fungsinya untuk kebutuhan surveillance dan target acquisition yang dapat dipersenjatai dengan kemampuan short take off landing, maksimum endurance yaitu sampai 30 jam targetnya," kata Elfien.
Dia mengatakan PUNA MALE ini mampu mengakomodasi misi kombatan sekitar 300 kg untuk kapasitas muatannya.
Proses perancangan dimulai dengan kegiatan preliminary design, basic design dengan pembuatan dua kali model terowongan angin dan hasil ujinya di tahun 2016 dan 2018.
Setelah itu, dilanjutkan dengan pembuatan engineering document dan drawing tahun 2017 melalui anggaran dari Balitbang Kemhan dan BPPT.
Kemudian pada tahun yang sama diadakan perjanjian bersama dengan adanya Konsorsium Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) MALE. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sendiri baru bergabung sebagai anggota konsorsium pada 2019.
Pada 2019, tahap manufacturing PUNA MALE dimulai. Tahapan awal dari proses design structure, perhitungan Finite Element Method, pembuatan gambar 3D serta detail drawing 2D yang dikerjakan oleh engineer BPPT dan disupervisi oleh PT Dirgantara Indonesia.
Kemudian, dilanjutkan dengan pembuatan tooling, molding, cetakan dan fabrikasi dengan proses pre-preg dengan autoclave.
Pada 2019, juga dilakukan pengadaan Flight Control System (FCS) yang diproduksi di Spanyol. FCS ini akan diintegrasikan di awal 2020 pada prototype PUNA MALE pertama (PM1) buatan insiyur BPPT dan PT Dirgantara Indonesia yang telah mendapatkan pelatihan untuk mengintegrasikan dan mengoperasikan sistem kendali tersebut pada prototipe yang dibuat di PT Dirgantara Indonesia.
Baca Juga: Wow! Drone Tempur Pertama Buatan Indonesia Meluncur di Bandung
Berita Terkait
-
OPM Klaim Markas Puncak Jaya Digempur Drone Militer Indonesia, Begini Kondisinya
-
Keker ke Langit di Tengah Demo Mahasiswa, Sosok Diduga Intel Bawa Drone Jammer Berharga Fantastis
-
Semarak Perayaan HUT RI ke-81 di Bundaran HI
-
2 ABK WNI Selamat dari Serangan Drone di Selat Bab Al-Mandeb Alami Luka-luka
-
Total 3 WNI Jadi Korban Serangan Bom Drone Houthi Yaman di Selat Bab Al Mandeb
Terpopuler
- Persib Bandung vs Seoul FC dan Melbourne Victory, Mariano Peralta Kirim Psywar
- Gus Kikin Pimpin PBNU, Antara Satire 'Salah Dalil' hingga Guyon 'PWNU Jatim Cabang Jakarta'
- 8 Sepatu Jalan untuk Komuter KRL dan MRT yang Empuk dan Awet
- 9 Pilihan HP Infinix RAM 8GB Kelas Entry Level Harga Rp1-3 Jutaan
- Kulkas Merek Apa yang Tidak Ada Bunga Es? Ini Pilihan dan Tips agar Tak Salah Beli
Pilihan
-
Sudah dari 2023, 'Nyelang' Jadi Napas Warga Pesisir Cilincing Demi Dapatkan Air Bersih
-
Dikepung Asap Karhutla, Pesawat Menhut Raja Juli Antoni Gagal Mendarat di Pontianak
-
Santap Siang Bareng di Rusia, Prabowo Minta Maaf ke Putin Karena Hal Ini
-
Dua Bus Transjakarta Tubrukan di Pancoran, Benarkah Sopir Mengantuk karena Cuti Duka Ditolak?
-
Bikin Cemas! Pesawat Garuda Indonesia Pecah Ban Angkut 156 Penumpang
Terkini
-
Terungkap Menu Mewah Prabowo di Vladivostok: Iga Sapi, Scallop hinga Wine Chardonnay
-
Dirut Bulog dan Menko Pangan Pastikan Bantuan Pangan Jangkau Masyarakat hingga Timur Indonesia
-
Film The Runner Hanya Raih Skor 9%, Jadi Film Terburuk Gal Gadot
-
Powder Foundation Wardah untuk Kulit Sawo Matang Shade Apa? Ini 5 Pilihannya
-
Dari Akihabara ke Jakarta: Mengintip Uniknya Budaya Maid Cafe yang Lagi Naik Daun
-
Tabung Isi Obat Maag Dituding Cairan Merica, Polda DIY: Sejak Awal Kami Pakai Diksi 'Diduga'
-
Prabowo Sebut Kota di Rusia Ini Dekat dengan Rumahnya, Yang di Hambalang atau Kertanegara 4?
-
2 Rekomendasi Smartwatch dengan Fitur ECG EKG dan Pemantau Tekanan Darah, Akurat
-
Ketika Rumah Satwa Hilang, yang Punah Bukan Hanya Hewannya
-
EduMind Wellbeing dan AI Camp di Makassar dari Telkom Dihadiri 350 Peserta