Tekno / Tekno
Rabu, 01 Januari 2020 | 11:35 WIB
Ilustrasi ransomware. [Shutterstock]

Suara.com - Kaspersky baru saja merilis laporan tahunan berjudul "Story of the Year 2019". Dalam laporan tersebut, perusahaan keamanan siber tersebut membahas tren ransomware yang sedang meningkat, terutama serangan kepada lembaga pemerintah.

Sebagaimana dikutip dari Asianage pada Rabu (1/1/2020), Kaspersky mengamati bahwa setidaknya ada 174 ransomware yang menyerang lembaga pemerintah beserta lebih dari 3.000 bagian organisasi di bawahnya.

Hal ini membuktikan bahwa sepanjang tahun 2019, telah terjadi peningkatan serangan ransomware sebesar 60 persen dibandingkan tahun 2018.

Mereka juga mencatat bahwa jumlah tebusan uang yang diminta oleh peretas sangat bervariasi, mulai dari 1 juta dolar AS hingga 5 juta dolar AS atau setara Rp 63 miliar.

Jenis malware yang digunakan untuk menyerang bervariasi. Meski begitu, ada tiga nama malware yang paling terkenal menurut Kaspersky, yaitu Ryuk, Purga, dan Stop.

Ryuk telah muncul sebagai ancaman lebih dari setahun yang lalu. Sejak saat itu, Ryuk telah aktif di seluruh dunia, baik menyerang sektor publik maupun swasta. Model serangan Ryuk biasanya melalui malware backdoor yang disebar dengan cara phishing menggunakan attachment berbahaya yang disamarkan sebagai dokumen keuangan.

Sementara itu, malware Purga telah dikenal sejak 2016, namun belakangan ini marak terjadi di lembaga pemerintah yang menjadi korban serangan trojan horse ini. Purga juga biasanya dikirim dengan cara phishing.

Terakhir ada Stop, ransomware yang baru muncul setahun lalu. Stop disebarkan dengan cara menyembunyikannya di dalam installer perangkat lunak.

Baca Juga: Kena Ransomware, Hacker Ini Balik Retas Lagi

Load More