Suara.com - Belum lama ini heboh video dengan narasi burung gagak serbu Wuhan, China. Video ini beredar di media sosial saat Wuhan tengah menghadapi wabah virus corona atau COVID-19.
Dari laporan terbaru, Jumat (14/2/2020), virus corona telah menginveksi lebih dari 64 ribu orang secara global.
Tidak hanya di China, COVID-19 juga telah menewaskan 1.489 orang dari secara global. Dan Wuhan lagi-lagi jadi sorotan publik.
Paling baru, sempat beredar video ribuan burung gagak serbu kota. Video ini banyak beredar di media sosial, dari TikTok hingga Weibo.
Channel YouTube Wuhan News - World Breaking News mengumpulkan beberapa video burung gagak ini jadi beberapa kompilasi.
Diketahui, channel YouTube ini juga membuat kompilasi berbagai macam video dari media sosial China dan pemberitaan media lokal terkait virus corona.
Paling ramai adalah video serbuan burung gagak ke kota beberapa waktu lalu. Dalam video ini menampilkan seperti apa kondisi kota tersebut.
Dalam video nampak kerumumunan burung hitam ini terbang di langit kota tersebut. Beberapa video lain juga menampilkan beberapa burung gagak di jalanan.
Netizen pun memberikan banyak komentar pada video burung gagak tersebut. Banyak diantaranya yang mengkaitkan dengan virus corona.
Seperti diketahui, masyarakat mempercayai kedekatan antara burung gagak dengan kematian. Ada yang percaya burung ini sebagai pertanda kematian.
Hal ini terungkap dari kolom komentar video burung gagak serbu kota ini. Berikut beberapa komentar netizen di video tersebut.
"Mereka datang untuk orang mati, menakutkan!!" komentar netizen.
"Semoga virus-virus itu hilang karena dimakan burung gagak. Jangan dimasak dan dimakan ya gagaknya." komentar netizen lainnya.
"Tempat ini berbau kematian," tulis netizen.
"Itu adalah tanda bahwa wabah mematikan segera akan berakhir," tulis lainnya.
"Akankah itu berakhir, atau akankah itu berlangsung lebih lama?," balas Wuhan News - World Breaking News.
"Sebenarnya kebisingan industri mengusir burung gagak, tetapi dengan ditutupnya sumber kebisingan industri, itu aman untuk burung gagak," teori netizen.
"Suzuran mau nyerang tuh," canda netizen.
Itulah keramaian netizen tanggapi video burung gagak serbu kota setelah virus corona mewabah di sana. Pertanda apakah ini?
Pembaruan Artikel (Update):
Faktanya, belakangan unggahan video serbuan gagak di Wuhan dari akun Twitter N95mask1 tersebut diketahui tidak benar.
Tepatnya video tersebut bukan berada di Wuhan. Seperti hanya diulas AFP dalam artikel di sini, video ini berlokasi di Xining, Provinsi Qinghai.
Hasil pengecekan kesamaan visual oleh AFP melalui Baidu Maps, ternyata sama dengan persimpangan jalan di kota Xining, bukan di Wuhan.
Kemudian dari video yang diunggah channel YouTube Wuhan News, ternyata berada di Jingzhou. Pengunggah telah mengkoreksi lokasi video yang bisa dilihat di sini.
Channe YouTube ini telah berganti nama menjadi News from Asia, dan mengubah judul videonya menjadi "Crows circling the sky in Jingzhou city (next to Wuhan) - Are they attracted by the smell of death?"
Dengan demikian, bisa disimpulkan serbuan gagak ke Wuhan, China tidak benar adanya. Melainkan di kota Xining, terletak lebih dari 1.600 km dari barat laut Wuhan.
Terkait kemunculan gagak ini, hasil penelusuran turnbackhoax.id dalam artikel di sini bukan karena bau kematian maupun jasad. Melainkan migrasi parsial dan efek pulau panas.
The Cornel Lab: "Migrasi parsial" —di mana beberapa individu dalam suatu populasi bermigrasi dan beberapa tidak — adalah umum di antara burung …
"Pulau panas" perkotaan, serta tren pemanasan umum, dapat membuat lebih banyak burung mempersingkat migrasi mereka dan menghabiskan musim dingin lebih dekat dengan wilayah pengembangbiakan mereka.
Koreksi (Pembaruan per 13 Maret 2020):
Artikel ini telah dikoreksi dan diperbarui, terutama demi meluruskan fakta-faktanya. Termasuk dengan mengubah/memperbaiki judul & sebagian gambarnya, juga tambahan/penjelesan di bagian isi. Mohon maaf atas kekeliruan sebelumnya dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
Berita Terkait
-
Mengenal COVID-19 'Stratus' (XFG) yang Sudah Masuk Indonesia: Gejala dan Penularan
-
Kenali Virus Corona Varian Nimbus: Penularan, Gejala, hingga Pengobatan Covid-19 Terbaru
-
Mengenal Virus Corona Varian Nimbus, Penularan Kasus Melonjak di 13 Negara
-
7 Fakta Kenaikan Kasus COVID-19 Dunia, Thailand Kembali Berlakukan Sekolah Daring
-
Pasien COVID-19 di Taiwan Capai 41.000 Orang, Varian Baru Corona Kebal Imunitas?
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
5 Hero Mobile Legends Terbaik Patch 2.1.6.1 yang Wajib Pick untuk Push Rank
-
Prediksi Harga Vivo T5 Pro Beredar: Andalkan Snapdragon 7s Gen 4, Siap Masuk ke India dan Indonesia
-
Terpopuler: Rekomendasi HP untuk Ojol, Sederet Smartphone Baru Siap Rilis April 2026
-
Samsung Tak Lagi Mendominasi di Pasar HP Lipat, Motorola Melesat
-
5 Rekomendasi HP Samsung Murah Terupdate Maret 2026
-
Spesifikasi iQOO Z11: Usung Dimensity Terbaru, Skor AnTuTu Libas iPhone 16, Baterai Jumbo!
-
10 Penerbit Game Terbaik Versi Metacritic: Square Enix Pemuncak, Capcom Nomor 3
-
Setelah Meluncur di China, iQOO Z11 5G Bersiap Masuk ke Indonesia dan Malaysia
-
HP Baru April 2026: Oppo, Huawei, Redmi, dan Honor Siap Rilis, Ini Daftar Lengkapnya!
-
63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond