Suara.com - Para ilmuwan China menemukan virus Corona yang mematikan 96 persen mirip dengan jenis virus Covid-19 di tambang, yang ditinggalkan di China pada tujuh tahun lalu.
Tambang yang terletak ratusan mil dari Wuhan itu menjadi perhatian para ilmuwan, setelah enam orang yang bertugas membersihkan kotoran kelelawar di tambang jatuh sakit karena penyakit misterius, di mana tiga di antaranya meninggal dunia.
Gejala yang muncul termasuk demam tinggi, anggota badan sakit, dan kesulitan bernapas. Hal ini membingungkan dokter sampai seorang ahli menyebut mereka mungkin terinfeksi virus Corona yang berbeda terkait dengan strain wabah SARS tahun 2002-2004 silam.
Sampel beku yang dibawa ke Institut Virologi Wuhan mengandung strain yang sama dan diungkapkan oleh para ilmuwan sebagai kerabat terdekat yang diketahui dari jenis virus Corona (Covid-19) yang sedang melanda dunia saat ini.
Shi Zengli, kepala Center of Emerging Infectious Diseases institut yang dijuluki "Perempuan Kelelawar" karena perjalanan berburu virus ke gua kelelawar dalam 16 tahun terakhir, mengatakan kepada Scientific American pada Juni bahwa para pekerja tambang telah dibunuh oleh jamur mematikan.
Tetapi, rincian perawatan para pasien ditemukan oleh Times di surat-surat yang ditulis oleh seorang dokter junior yang bekerja di rumah sakit yang menerima para pasien tersebut dan seorang mahasiswa PhD yang bekerja di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China.
Mereka tidak mengkonfirmasi penyebab kematian, tetapi menyebut penyebab yang paling mungkin adalah virus Corona yang mirip SARS dari kelelawar.
Dua dari para pekerja itu meninggal dengan cepat, sementara empat empat sisanya dibawa untuk melakukan tes, termasuk tes antibodi untuk virus Corona. Dua pasien pulih dan memiliki tingkat antibodi yang tinggi daripada yang dirawat rumah sakit, di antaranya satu meninggal dunia.
Sampel tambang yang disebut RaTG13 dideskripsikan dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature pada 3 Februari juga mengungkap susunan genetik lengkap dari virus Covid-19.
Baca Juga: Ilmuwan: Covid-19 Ada Sejak Dulu dan Aktif Kembali karena Ini
Studi tersebut mengatakan kesamaan virus yang erat memberikan bukti bahwa virus Covid-19 mungkin berasal dari kelelawar. Namun, satu-satunya detail dari mana sampel itu berasal adalah bahwa itu diambil dari kelelawar Rhinolophus affinis di provinsi Yunnan pada 2013.
Sebuah makalah lain yang diterbitkan pada 2016 tentang strain yang ditemukan di tambang bersama dengan beberapa lainnya yang ditemukan di koloni kelelawar, tetapi sampel tersebut dinamai RaBtCoV/4991.
Database virus kelelawar yang diterbitkan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan China mendaftarkannya keduanya sebagai jenis yang sama dan keduanya juga telah dicocokkan oleh para ilmuwan di India dan Austria.
Menurut Peter Daszak, ahli penyakit hewan yang membantu Institut Wuhan melacak virus selama 15 tahun, membenarkan kesamaan itu tetapi mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang penggantian nama itu.
"Orang-orang konspirasi mengatakan ada sesuatu yang mencurigakan tentang perubahan nama, tetapi dunia telah berubah dalam enam tahun sehingga sistem pengkodean telah berubah," ucap Daszak, seperti dilansir dari Metro, Selasa (7/7/2020).
Tetapi, ilmuwan lain yang diwawancarai untuk laporan itu mempertanyakan kurangnya investigasi lebih lanjut tentang RaTG13 sebagai sangat tidak biasa, mengingat adanya kematian tiga dari enam penambang yang melakukan kontak dengannya.
Berita Terkait
-
Ahli: Kekebalan pada Virus Corona Cuma Sebentar dan Terbatas Beberapa Orang
-
Ratusan Ilmuwan Ajukan Banding, Sebut Virus Corona Menyebar Puluhan Meter
-
Visualisasi Ini Tunjukkan Efektivitas Masker Kurangi Droplets Virus Corona
-
Virus Corona Sudah Ada Bertahun-tahun Tapi Tidak Aktif, ini Dugaan Pakar
-
Ilmuwan: Covid-19 Ada Sejak Dulu dan Aktif Kembali karena Ini
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik
-
100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri
-
Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping
-
Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda
-
Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus
-
Erick Thohir Evaluasi Skuad Timnas Indonesia Usai Gagal di Piala AFF 2026, John Herdman Out?
-
Kata-kata Mengharukan Rizky Ridho Usai Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026
-
Tangis Haru Karsa, Rumah Reotnya di Klapanunggal Kini Kokoh Direnovasi Indocement