Suara.com - Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa kecanduan game termasuk salah satu gangguan mental pada 2018 lalu. Pasalnya, game dinilai bisa mengubah perilaku pemain menjadi lebih agresif di kehidupan nyata.
Namun dalam studi terbaru, video game bergenre action yang biasa menampilkan unsur kekerasan pun, tidak terbukti sanggup mengubah sifat para pemainnya.
Para peneliti dari Massey University telah menganalisis data dari 28 studi sebelumnya, termasuk 21.000 orang muda yang melihat hubungan antara agresi dan permainan video.
Hasil analisis para peneliti menunjukkan bahwa video game yang penuh kekerasan, tampaknya tidak membuat pemain lebih agresif dalam kehidupan nyata.
"Secara keseluruhan, studi longitudinal tampaknya tidak mendukung hubungan jangka panjang yang substantif antara konten game yang agresif dan agresi kaum muda," kata pemimpin studi, Aaron Drummond, seperti dikutip dari Mirror, Jumat(24/7/2020).
"Korelasi antara konten permainan agresif dan agresi kaum muda, tampak lebih baik dijelaskan oleh kelemahan metodologis dan efek harapan peneliti, daripada efek sesungguhnya di kehidupan nyata," lanjutnya.
Hasil studi tersebut sekaligus membantah asumsi sebelumnya, yang menganggap video game bisa membuat pemainnya melakukan kekerasan dalam kehidupan nyata.
Misalnya, tahun lalu, sebuah penelitian menemukan bahwa anak-anak yang bermain video game kekerasan lebih cenderung terlibat dengan senjata dalam kehidupan nyata.
Dalam studi tersebut, 220 anak usia 8-12 dipisah menjadi tiga kelompok dan ditugaskan untuk memainkan berbagai versi Minecraft.
Baca Juga: Ini Dia Game Favorit Elon Musk
Kelompok pertama adalah kekerasan dan mengharuskan pemain untuk membunuh monster dengan senjata, sedangkan yang kedua mengharuskan pemain untuk membunuh monster dengan pedang. Sementara kelompok ketiga adalah tim tanpa kekerasan, tanpa senjata atau monster.
Setelah 20 menit bermain game, anak-anak diundang untuk bermain di ruangan lain dengan berbagai mainan, termasuk dua pistol rusak.
Para peneliti menemukan bahwa 62 persen dari anak-anak di kelompok pertama memilih pistol sekitar 54 persen anak dari kelompok kedua juga menyentuh pistol. Sementara itu, hanya 44 persen anak-anak dari kelompok ketiga yang bermain tanpa menggunakan pistol.
Dalam studi mereka, yang diterbitkan di JAMA Network Open, para peneliti, yang dipimpin oleh Dr Brad J. Bushman, menulis bahwa anak-anak yang terpapar video game bergenre action cenderung terlibat dalam perilaku berbahaya, menarik pelatuk pada diri mereka sendiri atau membunuh orang lain ketimbang anak-anak bermain game non action.
Berita Terkait
-
3 Gamers Cantik Indonesia, Skill di Atas Rata-rata!
-
Selain Nyanyi, Brisia Jodie Hobi Main Game Online
-
Viral Bocah Top Up Game Online sampai Rp 5 Juta, Sobat Miskin Menangis
-
Remaja Tewas Gantung Diri, Diduga Pemicunya karena Kuota Internet Habis
-
Waduh! Kalah Main PES Mobile, Bocah SMA Ancam Bom Kantor Konami
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Bentrok TNI dan Suku Anak Dalam, FIAD Soroti Tentara Jadi 'Satpam Perusahaan'
-
4 Pilihan HP Oppo RAM 16 GB Termurah dengan Performa Ngebut
-
Bentrok TNI dan Suku Anak Dalam, FIAD Soroti Tentara Jadi 'Satpam Perusahaan'
-
Pimpinan DPR Ungkap Alasan Draf RUU Perampasan Aset Belum Juga Dipublikasikan
-
Selain Kimpul, Ini 5 Makanan Pengganti Nasi yang Dipopulerkan Ibu Tin
-
Skin Barrier Rusak? Perbaiki dengan 5 Pilihan Moisturizer Ini!
-
Kesaksian Korban Kebakaran Batu Ceper, Pukul Kentongan Saat Warga Sedang Melayat
-
Sempat Minus, Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Catat Surplus di Juli 2026
-
Ngeri-Ngeri Sedap: Potret Keluarga, Tradisi, dan Pentingnya Saling Memahami
-
Ngeri-Ngeri Sedap: Potret Keluarga, Tradisi, dan Pentingnya Saling Memahami