Suara.com - Uranus bersama 27 satelit alaminya terletak di wilayah yang gelap dan jauh dari Bumi, sehingga membuat bulan-bulan Uranus sulit untuk dipelajari. Namun baru-baru ini, para astronom telah membuat penemuan yang tidak disengaja saat mengamati Uranus.
Menurut gambar inframerah dari lima bulan terbesar Uranus, komposisinya mirip dengan planet kerdil seperti Pluto dan Haumea, sebuah benda padat dan berbatu dengan kerak es, daripada komposisi bulan-bulan Uranus lainnya yang lebih kecil dan halus.
Uranus mengorbit Matahari pada jarak rata-rata sekitar 20 kali jarak Bumi. Badan antariksa manapun belum mengirim banyak pesawat luar angkasa sejauh itu, hanya pesawat luar angkasa Voyager 2 NASA yang pernah bertemu dengan Uranus pada tahun 1986 dalam perjalanannya ke tepi tata surya dan sekitarnya.
Terlepas dari pengamatan Voyager 2, penelitian terbaru ini mengandalkan satelit di Bumi untuk mengamati Uranus dan bulannya. Bulan-bulan planet itu terlihat jauh lebih kecil dan memantulkan sinar Matahari jauh lebih sedikit daripada Uranus.
"Bulan-bulan tersebut, yang berada antara 500 dan 7.400 kali lebih redup, berada pada jarak yang sangat pendek dari Uranus sehingga mereka bergabung dengan benda yang sama terang. Hanya bulan paling terang, Titan dan Oberon, yang sedikit menonjol dari cahaya di sekitarnya," kata Gábor Marton, astronom dari Konkoly Observatory di Hongaria.
Herschel Space Observatory, yang beroperasi antara 2009 dan 2013 unruk mempelajari galaksi dalam radiasi inframerah, milik Badan Antariksa Eropa (ESA) membuat deteksi tak sengaja dari lima bulan.
"Sebenarnya kami melakukan observasi untuk mengukur pengaruh sumber inframerah yang sangat terang seperti Uranus pada detektor kamera. Kami menemukan bulan hanya secara kebetulan sebagai simpul tambahan dalam sinyal planet yang sangat terang," ucap Ulrich Klaas, astronom dari Max Planck Institute for Astronomy di Jerman.
Lima bulan utama Uranus mencakup Titania, Oberon, Umbriel, Ariel, dan Miranda. Voyager 2 mengungkapkan kelimanya memiliki bentuk bulat yang menunjukkan bahwa bulan-bulan itu telah mencapai keseimbangan hidrostatik, yaitu massa yang cukup untuk mengembangkan bentuk bulat yang simetris di bawah gravitasinya sendiri dan kelima bulan tampaknya tersusun dari batu dan es.
Kondisi itu tidak biasa untuk objek yang jauh dari Matahari. Bahkan ketika dihangatkan oleh Matahari, suhu Uranus dan bulan-bulannya hanya mencapai antara minus (-) 213 hingga minus (-) 193 derajat Celcius di permukaannya. Proses bagaimana batu dan es disatukan itu menarik perhatian astronom.
Baca Juga: Update Baru Mobile Legends, Uranus dan Atlas Dapatkan Nerf
Orbit eksentrik bulan-bulan Uranus yang lebih kecil, tidak teratur, dan asimetris menunjukkan bahwa bulan itu memiliki komposisi yang sangat mirip dengan benda-benda berbatu di Sabuk Kuiper di luar Neptunus.
"Ini juga sesuai dengan spekulasi tentang asal usul bulan tak beraturan. Karena orbitnya yang kacau, diasumsikan bahwa mereka ditangkap oleh sistem Uranian di kemudian hari," kata Thomas Müller, ahli astrofisika dari Institut Max Planck, seperti dikutip Science Alert, Rabu (16/9/2020).
Biasanya, lima bulan utama yang mengorbit ekuator Uranus akan sulit dilihat. Uranus memiliki orientasi yang aneh, berujung miring terhadap bidang orbitnya mengelilingi Matahari, sehingga ekuatornya sering berada dalam bayangan.
Selama pengamatan tim Uranus antara 2010 dan 2012, ekuator terlihat dari teleskop dan di bawah sinar Matahari. Saat tim mengurangi Uranus dari data menggunakan algoritme yang dikembangkan secara khusus, sesuatu yang mengejutkan muncul.
"Kami semua terkejut ketika empat bulan muncul dengan jelas pada gambar dan kami bahkan dapat mendeteksi Miranda, bulan terkecil dan terdalam dari lima bulan Uranian terbesar," kata Örs H. Detre, astronom dari Institut Max Planck.
Ini memungkinkan tim ahli mengukur seberapa baik panas dari Matahari dipertahankan di permukaan bulan saat permukaan itu berputar hingga malam. Permukaan ini rupanya menahan panas dengan cukup baik dan mendingin secara relatif lambat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
Terkini
-
5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
-
Perbedaan Huawei Watch Fit vs Watch GT: Mana Smartwatch Terbaik untuk Lari?
-
5 HP Memori 512 GB Paling Murah untuk Konten Kreator Muda
-
Oppo Find X9 Ultra Resmi Pre-Order di Indonesia, Bonus Hingga Rp9 Juta
-
7 HP POCO dengan NFC Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Spek Canggih untuk Transaksi Digital
-
5 HP Realme dengan Layar AMOLED, Visual Jernih dan Warna Tajam
-
Oppo Find X9 Ultra Resmi Dirilis, Dual Kamera 2 Sensor 200MP dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5
-
Oppo Find X9s Pro Resmi Rilis, Bawa Kamera Hasselblad 200MP dan Baterai 7025mAh
-
25 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 April 2026: Trik Gacha Pengejar Mimpi UEFA Dapat Pemain 117
-
5 Rekomendasi HP All Rounder 2026, Spek Canggih, Harga Mulai 2 Jutaan