Suara.com - Bekerja dari rumah (Work from Home/WFH) yang digalakkan akhir-akhir ini, mendorong perusahaan untuk semakin beralih ke komputasi awan (cloud).
Dari hasil studi IBM Security yang dilakukan secara global, salah satu alasannya adalah faktor risiko keamanan siber yang lebih terjamin serta efisiensi biaya.
Laporan tersebut menemukan bahwa faktor-faktor ini memiliki dampak signifikan pada respons pelanggaran data.
Dilansir dari Antara, Minggu (8/8/2021), hampir 20 persen organisasi yang diteliti melaporkan bahwa WFH merupakan rentan pelanggaran data dan pada akhirnya merugikan perusahaan sebesar 4,96 juta dolar AS.
Perusahaan dalam penelitian yang mengalami pelanggaran selama proyek migrasi cloud telah menelan biaya 18,8 persen lebih tinggi dari rata-rata.
Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa mereka yang lebih maju dalam strategi modernisasi cloud mereka secara keseluruhan, mampu mendeteksi dan merespons insiden dengan lebih efektif, rata-rata 77 hari lebih cepat daripada mereka yang berada dalam adopsi tahap awal.
Di saat peralihan TI tertentu selama pandemi meningkatkan biaya pelanggaran data, organisasi yang mengatakan bahwa mereka tidak mengimplementasikan proyek transformasi digital apa pun, untuk memodernisasi operasi bisnis mereka selama pandemi sebenarnya mengeluarkan biaya pelanggaran data yang lebih tinggi.
Perusahaan mengetahui bahwa mengadopsi pendekatan keamanan nol kepercayaan (zero trust) memiliki posisi yang lebih baik untuk menangani pelanggaran data.
Pendekatan ini beroperasi dengan asumsi bahwa identitas pengguna atau jaringan itu sendiri mungkin sudah tersusupi dan sebaliknya mengandalkan AI dan analitik untuk terus memvalidasi koneksi antara pengguna, data, dan sumber daya.
Baca Juga: Sering Mengantuk Setelah Makan Siang? Berikut 5 Cara Mengatasinya!
Organisasi dengan strategi nol kepercayaan yang matang menelan biaya pelanggaran data rata-rata sebesar 3,28 juta dolar AS atau 1,76 juta dolar AS lebih rendah daripada mereka yang tidak menerapkan pendekatan ini sama sekali.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa lebih banyak perusahaan yang menerapkan otomatisasi keamanan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang mengarah pada penghematan biaya yang signifikan.
Sekitar 65 persen perusahaan yang disurvei melaporkan bahwa mereka telah menerapkan otomatisasi sebagian atau penuh dalam lingkungan keamanan mereka, dibandingkan dengan 52 persen dua tahun lalu.
Organisasi-organisasi dengan strategi otomatisasi keamanan yang "diterapkan penuh" menelan biaya pelanggaran rata-rata 2,90 juta dolar AS, sedangkan organisasi yang tidak memiliki otomatisasi menelan lebih dari dua kali lipat biaya tersebut, yaitu 6,71 juta dolar AS.
Investasi dalam tim dan rencana respons insiden juga mengurangi biaya pelanggaran data di antara mereka yang diteliti.
Perusahaan dengan tim respons insiden yang juga menguji rencana respons insiden mereka telah menelan biaya pelanggaran rata-rata sebesar 3,25 juta dolar AS, sedangkan perusahaan yang tidak memiliki keduanya menelan biaya rata-rata 5,71 juta dolar AS (perbedaannya 54,9 persen).
Berita Terkait
-
Jaga Kesehatan Mental, Ini Cara Menjaga Keseimbangan Kerja Selama WFH
-
WFH Rentan Membuat Dehidrasi, Ini Dampaknya!
-
Alami Stres Selama Jalani WFH? Psikolog UGM Sarankan Ini
-
Perhatikan 4 Hal Ini saat Meeting Online, Hindari Nasi Padang
-
3 Tiga Resep Kopi untuk Temanin Anda Work From Home, Boleh Dicoba!
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung