Suara.com - Studi dua peneliti dari CISDI Adrianna Bella dan Gita Kusnadi serta Dian Kusuma dari Imperial College London, Inggris menemukan bahwa nakes Indonesia 8 kali lebih rentang terinfeksi COVID-19. Simak ulasan mereka berikut ini:
Tenaga kesehatan adalah satu kelompok paling berisiko terinfeksi COVID-19 lantaran interaksinya yang intens dengan pasien. Di Indonesia, setidaknya hingga 2 September 2021, tercatat 1.977 tenaga kesehatan yang gugur akibat COVID-19.
Petugas non-medis seperti petugas administrasi, sopir ambulans, dan petugas cleaning service yang bekerja di fasilitas kesehatan juga berisiko tinggi terinfeksi COVID-19 dibanding populasi pada umumnya.
Riset terbaru kami menunjukkan bahwa profesi tenaga kesehatan (dokter umum, dokter gigi, perawat, apoteker, staf laboratorium, ko-as dan residen) berisiko delapan kali lebih tinggi untuk terinfeksi COVID-19 dibandingkan tenaga non-tenaga medis.
Studi pada 9 April-1 Juli 2020 ini mengambil data dari 1.397 tenaga kerja umum di 8 rumah sakit wilayah Jabodetabek yang menjadi rujukan pelayanan COVID-19. Mereka memiliki staf terkonfirmasi COVID-19 dalam dua minggu terakhir, dan memiliki keterbatasan dalam penyediaan tes PCR bagi pekerjanya.
Faktor sosio ekonomi dan infeksi
Studi mengenai korelasi antara tenaga kesehatan dan faktor risiko infeksi memang telah banyak dilakukan, terutama di negara maju. Namun, riset seperti itu belum banyak dilakukan di negara berkembang, termasuk Indonesia, apalagi yang secara khusus mengaitkannya dengan faktor di luar fasilitas pelayanan kesehatan.
Karena itu, riset kami merupakan langkah awal untuk menemukan korelasi antara faktor sosio ekonomi dan perilaku dengan infeksi COVID-19 di antara para tenaga kerja di rumah sakit di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Salah satu temuannya, ada keterkaitan antara faktor sosio ekonomi dan perilaku pencegahan COVID-19 dengan risiko infeksi COVID-19 pada tenaga kerja rumah sakit.
Ada hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan risiko terinfeksi COVID-19.
Baca Juga: Pemerintah Sebut Tunggakan Insentif Nakes Hampir Lunas 100 Persen
Misalnya, memiliki anggota keluarga lebih dari lima membuat tenaga kerja rumah sakit memiliki risiko terinfeksi COVID-19 empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan pegawai rumah sakit yang memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih sedikit.
Semakin besar jumlah anggota keluarga, semakin besar potensi tenaga untuk terinfeksi COVID-19. Hal ini serupa dengan temuan riset dari University of Glasgow yang menyebut tenaga kesehatan dan anggota keluarga mereka menyumbang satu dari enam laporan kasus COVID-19 di rumah sakit untuk populasi usia kerja (18-65 tahun).
Alasan yang paling masuk akal adalah jumlah anggota keluarga yang besar memperbesar peluang kontak dengan anggota keluarga yang terinfeksi.
Ada juga hubungan besaran pengeluaran rumah tangga dan level risiko infeksi COVID.
Tenaga kesehatan dengan tingkat ekonomi dan pengeluaran rendah juga memiliki risiko terinfeksi yang lebih tinggi. Petugas dengan tingkat pengeluaran tinggi dan menengah (lebih dari Rp 6,5 juta rupiah per bulan) memiliki risiko infeksi COVID-19 lebih rendah (94%) dibandingkan yang berpengeluaran rendah.
Kondisi tingkat ekonomi yang lebih rendah dapat dikaitkan dengan lebih rendahnya kemungkinan kepatuhan penerapan protokol kesehatan serta tingkat imunitas akibat beban stres yang lebih tinggi, sehingga lebih rentan untuk terinfeksi COVID-19.
Faktor perilaku yang berkaitan dengan risiko COVID-19 pada tenaga kerja rumah sakit adalah pengetahuan terkait penggunaan alat pelindung diri yang tepat serta penerapan enam langkah cuci tangan.
Pekerja di rumah sakit yang mengetahui cara penggunaan APD yang tepat berisiko 92% lebih rendah untuk terinfeksi COVID-19 dibandingkan. Begitu juga dengan perilaku cuci tangan.
Petugas rumah sakit yang menerapkan enam langkah cuci tangan berisiko 68% lebih rendah untuk terjangkit COVID-19 dibandingkan petugas lain yang tidak menerapkannya.
Faktor risiko di tempat kerja
Temuan kami tegas menyebut bahwa tenaga kesehatan berisiko terinfeksi COVID-19 lebih tinggi dibandingkan petugas lainnya di rumah sakit, seperti petugas administrasi dan sopir ambulans.
Beberapa faktor mungkin mempengaruhi hal ini. Misalnya, prosedur medis khusus yang harus dilakukan oleh tenaga medis untuk memberikan bantuan pernapasan pada pasien, seringnya berkontak dengan pasien, dan tekanan kerja yang tinggi selama periode pandemi.
Terkait faktor perilaku, hasil studi juga menunjukkan pengetahuan menggunakan APD yang baik ketika berkontak dengan kasus suspek atau terkonfirmasi menurunkan risiko terpapar COVID-19.
Hal lain yang juga menarik, kebiasaan tenaga kesehatan mencuci tangan enam langkah setelah berkontak dengan pasien terkonfirmasi mampu mengurangi paparan infeksi. Temuan ini dapat menjadi salah satu basis bukti untuk mendukung gerakan mencuci tangan yang baik dan benar guna mencegah infeksi.
Pemerintah perlu sediakan shelter khusus dan cukupi APD
Menjadi tenaga kesehatan berarti memperbesar peluang terinfeksi COVID-19. Hal ini diakibatkan oleh rutinitas kerja yang mendorong aktivitas petugas medis di zona COVID-19. Belum lagi beban kerja mereka yang semakin berat ketika terjadi ledakan kasus, seperti pada gelombang kedua kasus COVID-19 di Indonesia pada Juni hingga Agustus 2021.
Salah satu tindakan untuk menurunkan risiko infeksi yang dapat dilakukan pemerintah adalah menyediakan shelter mandiri bagi tenaga kesehatan. Penyiapan shelter bisa berbasis komunitas atau melalui penggunaan fasilitas publik setempat, seperti hotel atau bangunan sekolah yang tidak terpakai.
Sementara, untuk mencegah penularan, pemerintah dan rumah sakit setempat perlu cekatan memenuhi kebutuhan APD hingga menyiapkan fasilitas cuci tangan. Kegiatan pelatihan dan pemahaman seputar pengendalian infeksi juga menjadi kunci menyelamatkan tenaga kesehatan. Hal itu perlu terus difasilitasi.
Lebih penting dari itu, kebijakan di level makro yakni memastikan tidak terjadinya penumpukan kasus di masyarakat adalah langkah kunci lain sebagai upaya proteksi terhadap tenaga kesehatan di rumah sakit.
Jika terjadi kasus melonjak, maka langkah paling awal yang sebaiknya dilakukan adalah memfungsikan rumah sakit sebagai fasilitas rujukan khusus pasien bergejala sedang dan berat.
Sementara, bagi pengidap Covid-19 bergejala ringan, pemantauan bisa melalui Puskesmas atau melalui fitur telemedicine rumah sakit setempat untuk konsultasi awal.
Dengan cara itu, harapannya risiko tenaga kesehatan terinfeksi COVID bisa lebih kecil sehingga mereka bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa selama pandemi maupun setelah pandemi usai.
Artikel ini sebelumnya tayang di The Conversation.
Berita Terkait
-
Indonesia Masuk 5 Besar Kelahiran Prematur Dunia, Siapkah Tenaga Kesehatan Menghadapi Krisis Ini?
-
Jangan Sampai RS Internasional Didominasi Tenaga Asing Akibat Standar Kita Tertinggal
-
Tujuh Dokter Penugasan Khusus di Kabupaten Biak Numfor
-
MDP Jelaskan Perannya sebagai Penegak Disiplin Tenaga Medis-Kesehatan
-
Tingkatkan Kompetensi Nakes Hingga Area Terpencil, Lembaga Pelatihan Berbasis Digital Jadi Solusi
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
5 HP Vivo Lolos Sertifikasi di Indonesia: Ada iQOO 15R, V70, dan Z11x 5G
-
9 Rekomendasi TWS Sport untuk Lari Terbaik, Harga Murah Mulai Rp100 Ribuan
-
7 Tablet di Bawah Rp5 Juta Ini Bikin Kerja Makin Produktif, Rasa Laptop Canggih!
-
Cara Melacak HP yang Hilang Dalam Keadaan Mati, Manfaatkan Fitur Ini
-
5 HP POCO Harga di Bawah Rp2 Juta Selain POCO C85, Kamera 50 MP Baterai Super Jumbo
-
5 HP Murah POCO Dapat Diskon Besar Januari 2026: Mulai Sejutaan, Memori 256-512 GB
-
Xiaomi Siap Panaskan Persaingan! HP Flagship Baru Dikabarkan Pakai Kipas Pendingin Aktif
-
63 Kode Redeem FF Terbaru 10 Januari: Ada Skin Famas HRK, Bunny, dan Emote Gratis
-
Waspada! Serangan Phishing Lewat Kode QR Meledak hingga 5 Kali Lipat di Paruh Kedua 2025
-
7 Tablet Jagoan Multitasking Berat dengan Slot SIM Card, Harga Mulai Rp1 Jutaan