Suara.com - Runtuhnya gedung World Trade Center di New York, Amerika Serikat (AS), oleh hantaman pesawat yang dibajak teroris telah menjadi sorotan publik selama 20 tahun terakhir. Kedua bangunan itu runtuh dalam waktu dua jam setelah tabrakan, dan memicu berbagai penyelidikan serta teori konspirasi.
Pembangunan World Trade Center 1 (Menara Utara) dan World Trade Center 2 (Menara Selatan) dimulai pada 1960-an. Keduanya dibangun dari baja dan beton, menggunakan desain inovatif pada zamannya. Sebagian besar bangunan tinggi sesudahnya menggunakan struktur serupa.
Laporan investigasi atas peristiwa pada 11 September 2001 dilakukan oleh Badan Federal Penanganan Gawat Darurat (Federal Emergency Management Agency atau FEMA) dan Institut Nasional untuk Standar dan Teknologi (National Intitute of Standards and Technology atau NIST) AS.
Laporan FEMA terbit pada 2002, diikuti oleh investigasi NIST selama tiga tahun, yang didanai oleh pemerintah federal AS dan terbit pada 2005.
Beberapa teori konspirasi menunjuk pada fakta bahwa penyelidikan NIST didanai oleh pemerintah federal dan menjadi bukti bahwa pemerintah AS ada di balik runtuhnya Menara Kembar, atau setidaknya pemerintah menyadari bahwa kecelakaan itu akan terjadi dan sengaja tidak bertindak.
Meski laporan FEMA dan NIST menuai kritik (dan investigasi yang berlangsung juga bukan tanpa cacat), penjelasan mereka tentang runtuhnya bangunan tersebut diterima secara luas. Mereka menyimpulkan bahwa kecelakaan itu tidak disebabkan oleh pesawat, atau penggunaan bahan peledak, tapi oleh kebakaran yang terjadi di dalam gedung akibat tabrakan.
Bagaimana kedua menara runtuh sedemikian rupa?
Beberapa orang mempertanyakan mengapa gedung-gedung itu tidak tumbang setelah ditabrak pesawat terbang. Namun, kalau kita melihat secara detail, maka jawabannya jelas.
Pesawat terbang terbuat dari bahan yang ringan, misalnya aluminium. Jika kita membandingkan massa pesawat terbang dengan gedung pencakar langit yang tingginya lebih dari 400 meter dan dibangun dari baja dan beton, maka masuk akal bila bangunan itu tidak tumbang.
Baca Juga: Teori Konspirasi Masih Menyebar hingga 20 Tahun Usai Serangan 11 September
Kedua menara memiliki lebih dari 1.000 kali massa pesawat, dan dirancang untuk menahan beban angin yang berkekuatan lebih dari 30 kali berat pesawat.
Namun, pesawat itu memang menyebabkan kerusakan pada material tahan api di dalam menara, yang melapisi pada penyangga baja dan rangka lantai baja (di bawah pelat beton). Tanpa pelindung tahan api, baja jadi tidak terlindungi.
Sehingga, dampaknya juga secara struktural merusak penyangga baja. Ketika beberapa kolom penyangga rusak, beban yang ditahan akan berpindah ke kolom lain. Inilah sebabnya mengapa kedua menara dapat bertahan dari benturan awal dan tidak langsung runtuh.
Keruntuhan bertahap
Fakta ini juga menjadi bahan bakar salah satu teori konspirasi paling umum seputar 9/11: bahwa sebuah bom atau bahan peledak pasti telah diledakkan di suatu tempat di dalam gedung.
Teori-teori ini berkembang dari rekaman video yang menunjukkan menara dengan cepat runtuh ke bawah beberapa saat setelah tabrakan, layaknya peruntuhan gedung yang terkendali. Bagaimana pun, keruntuhan seperti ini tetap mungkin terjadi meski tanpa bahan peledak.
Berita Terkait
-
Mengenal Teori Konspirasi 27 Club: Sederet Musisi Meninggal di Usia 27 Tahun Bukan Kebetulan
-
Teori Konspirasi Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Riset Sensitif di AS
-
Jejak Navy SEAL Team Six Pasukan Pemburu Osama Bin Laden Evakuasi Pilot Amerika Yang Ditembak Iran
-
Viral Teori Donald Trump Time Traveler! Sketsa 100 Tahun Picu Spekulasi Liar Netizen
-
Mengapa Banyak Orang Percaya Elite Global Adalah Reptil?
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Usai Rumahnya Digeledah, Anggota BPK Bobby Adhityo Diperiksa KPK
-
Serang Balik! dr Tifa Sebut Jokowi Tak Pernah Ngaku Lulusan UGM Sebelum Kasus Ijazah Palsu
-
Penelitian Baru Ungkap Akar Budaya Toalean di Sulawesi Selatan
-
Review The Oddysey: Saat Nolan Mengubah Mitologi Jadi Potret Trauma Manusia
-
Aset Melonjak Jadi Rp2.250 Triliun, Fundamental BRI Kian Kokoh
-
Bukan Hanya Soal Ijazah Ditahan, Penasihat Presiden Bongkar Masalah Gaji di 5asec Saat Sidak
-
Dody Hanggodo Jadi Sorotan: Koleksi Kendaraannya Jauh Lebih Mewah dan Baru Dibanding "Pak Bas"
-
Film Taste of Prison Rilis Potret Perdana, Chemistry Pemain Jadi Sorotan
-
Bye Jerawat pada Kulit Remaja! Ini 4 Acne Moisturizer Mulai Harga Rp18 Ribu
-
Glorifikasi Budaya Kerja Lembur: Mengapa Tenggo Masih Dipandang Negatif?