Suara.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memonitor saat ini suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator semakin mendingin yaitu minus 0,92 yang mengindikasikan penguatan intensitas La Nina menuju moderate atau level menengah/sedang.
"Hasil monitoring suhu permukaan laut di Pasifik ekuator telah melewati ambang batas kejadian La Nina yaitu mengalami pendinginan sampai minus 0,61 pada dasarian I Oktober 2021 dan terus bertahan bahkan saat ini minus 0,92," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat menyampaikan laporannya dalam Rakornas Antisipasi La Nina yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (29/10/2021).
Lebih lanjut Dwikorita mengatakan, jika anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator sudah mencapai satu maka sudah menunjukkan La Nina moderate atau level menengah.
La Nina adalah fenomena yang dikontrol oleh perbedaan suhu muka air laut antara Samudra Pasifik bagian tengah dengan wilayah perairan Indonesia, sehingga suhu muka laut di wilayah Indonesia menjadi lebih hangat. Dampaknya berpotensi terjadinya pertumbuhan awan hujan sehingga dapat meningkatkan curah hujan.
Secara teori, ambang batas bisa disebutkan terjadi La Nina dengan intensitas lemah, yaitu adanya anomali mencapai 0,5. Puncak La Nina diprediksi akan terjadi pada Januari-Februari 2022.
La Nina tahun ini diperkirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga sedang hingga Februari 2022. Kondisi tersebut sama seperti kejadian La Nina 2020 dengan intensitas yang sama di mana hasil kajian BMKG menunjukkan bahwa curah hujan mengalami peningkatan 20 persen hingga 70 persen bahkan lebih dibandingkan rata-rata curah hujan bulanan.
Seperti kejadian La Nina 2020, terjadi peningkatan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia terutama Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
"Ini diprediksi peningkatan curah hujan secara konsisten sejak November hingga Januari 2022. November ini beberapa wilayah diprediksi akan meningkat curah hujan bulanan 70 bahkan dapat mencapai 100 persen," katanya.
Sementara pada November 2021, diprediksi peningkatan curah hujan merata di Jawa, Bali, NTB dan cukup merata di NTT serta secara sporadis di Sumatera, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dan Maluku Utara.
Baca Juga: Luhut Minta Semua Pihak Bersiap Hadapi Badai La Nina
Sedangkan pada Desember 2021, diprediksi semakin meningkat di Jawa, Bali, NTB, NTT. Di Sumatera Utara, Kalimantan Selatan dan sporadis di Kalimantan Timur serta Sulawesi Selatan.
Meski sebagian daerah diprediksi mengalami dampak La Nina sehingga mengalami peningkatan curah hujan, ada beberapa daerah yang justru kekurangan air karena intensitas hujan menurun seperti Sumatera yang curah hujan sporadis dan Kalimantan Barat.
"Jadi dalam satu pulau ada yang mengalami penurunan curah hujan dan ada pula yang meningkat," tambah dia.
Dwikorita mengatakan, pada Januari 2022 dampak La Nina semakin meluas di Jawa, Bali, NTB, sebagian NTT, sporadis di Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan tengah dan sporadis di Kalimantan Timur serta hampir merata di Sulawesi.
Kemudian pada Februari 2022 diprediksikan curah hujan meningkat di beberapa wilayah, masih merata dan meluas di Jawa, Bali, NTB dan NTT lebih tinggi. Selain dampak La Nina, perlu diwaspadai badai tropis yang sering terjadi pada Januari-Februari yang muncul di wilayah NTT. [Antara]
Berita Terkait
-
Karhutla Indonesia 2026: Mengapa Luas Kebakaran Melonjak pada Juli Hingga Agustus?
-
El Nino Tekan Cadangan Air Waduk Sepaku, 13.273 Titik Panas Terdeteksi di Kaltim
-
Cara Asap Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera Sampai Malaysia dan Singapura
-
Gempa M 5,2 Guncang NTT Pagi Ini, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
-
Flores Kembali Diguncang Gempa M 5,1, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
Pilihan
-
Polisi Bubarkan Massa Aliansi Pati yang Galang Donasi di Depan DPR
-
Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur dari Menag: Isu Bursa Caketum PBNU Itu Spekulasi Liar
-
Menag Nasaruddin Umar Bantah Mundur: Itu Ada Orang yang Panik
-
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
-
Dari Pengumpul Data Hingga Perantara, Bagaimana DSI Bekerja
Terkini
-
Ada Jejak Indonesia di Gua Australia, Dua Lukisan Kapal Jadi Kunci Misteri Ratusan Tahun
-
Mengerikan! Rekaman Banjir Bandang di Himalaya Tewaskan 98 Orang, Lebih dari 400 Hilang
-
Tim Alfa TNI Sudah Terjun ke Way Kambas, Apakah Juga Dikerahkan ke Karhutla Sumsel?
-
Bisnis Tiba-Tiba Viral? Ini Tantangan yang Menunggu di Balik Lonjakan Pesanan
-
Saya Kurang Tidur! 3 Kata Pelatih Thailand Usai Gagal Juara Piala AFF 2026
-
Wali Murid SDIP Pamulang Murka, Sebut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Tak Cerminkan Sosok Pendidik
-
PLN ULP Ampera Jadwalkan Pemadaman Listrik 3 Jam, Cek Wilayah Terdampak
-
Muktamar NU ke-35 Memanas, 6 Kritik Tajam dari Halaqah Ulama Jombang untuk Kepemimpinan PBNU
-
Drama! Vietnam Juara Piala AFF 2026 Meski Pemain Thailand Cetak 4 Gol
-
PTBA Borong Empat Penghargaan ISEA 2026, Tegaskan Transformasi Keselamatan Kerja